Kesenian Aceh Mulai Pudar

Reportase Seminar Cagar Tradisi Aceh

Oleh: Nurhasanah

 

Suasana ruang Auditorium FKIP Universitas Syiah Kuala tampak ramai pada Rabu,  5 Februari 2014. Ruangan tersebut dipenuhi oleh pelajar, mahasiswa, serta para pendidik yang ingin mengikuti Seminar Kebudayaan yang diselenggarakan oleh Gemasastrin dan Komunitas Tikar Pandan. Seminar yang bertemakan “Cagar Tradisi Aceh” ini, berlangsung dari pukul 10.00 WIB hingga 13.00 WIB.

Pembicara pertama pada Seminar Kebudayaan ini adalah Irini Dewi Yanti, S.S., M.SP, Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) untuk wilayah Aceh dan Sumatera Utara. Beliau memaparkan usaha-usaha dan tantangan yang dihadapi BPNB dalam pelestarian budaya Aceh serta visi mewujudkan kesadaran masyarakat Aceh akan budaya melalui seni film dan sejarah. Irini juga memaparkan bahwa saat BPNB berdiri di bawah Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, sasarannya adalah tuntunan budaya. Sedangkan setelah BPNB berada di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sasarannya lebih kepada peningkatan jati diri dan karakter bangsa.

“Meskipun sasarannya berbeda, tetapi tujuannya tetap satu, yaitu sama-sama berupaya untuk melestarikan kebudayaan,” ungkap beliau.

Irini menjelaskan mengenai program-program yang telah dilaksanakan BPNB selama ini seperti kegiatan penelitian yang sudah aktif sejak tahun 1995, internalisasi budaya seperti festival dan lomba, kegiatan orientasi budaya lokal, jalinan kerja sama dengan berbagai pihak dan pelayanan informasi publik seperti perpustakaan. Untuk ke depannya, BPNB juga berencana untuk mengajukan Rencong dan Seudati sebagai world heritage, seperti tari Saman.

Adapun tantangan yang dihadapi oleh BPNB antara lain adalah sinergitas BPNB dan pihak pemerintah, kesadaran masyarakat, bantuan sosial komunitas budaya dan benturan kepentingan.

Pembicara kedua dalam acara seminar kebudayaan tersebut adalah Cut Zuriana, S.Pd., M.Pd. Beliau memaparkan tentang keberadaan tari tradisional Aceh yang sudah melampaui perjalanan yang cukup lama dan juga diangkat dari kebiasaan masyarakat.

“Tarian-tarian Aceh mengandung makna dan filosofi tersendiri,” ucapnya lantang di sela-sela penjelasannya.

Beliau juga mengatakan bahwa tari tradisional Aceh sangat eksis sampai ke luar negeri. Namun, Ia juga menyatakan keprihatinan akan adanya penyimpangan terhadap beberapa tarian Aceh. Kesalahan praktik ini terletak pada gerak tari si penari yang tidak konsisten. Banyak gerak tari yang sudah dimodifikasi, tidak seperti aslinya. Salah satu contohnya adalah tari Ranup Lampuan. Beliau mengatakan bahwa gerakan tari Ranup Lampuan kerap ditarikan oleh anak-anak yang duduk di bangku TK  sampai ke tingkat dewasa. Namun kini tari Ranup Lampuan sudah banyak mengalami modifikasi sehingga sudah jauh berbeda dari aslinya.

Keprihatinan yang Ia ungkapkan selanjutnya terletak pada tata rias sang penari yang tidak sesuai dengan tradisi. Sekarang ini banyak penari-penari ingin tampil cantik dan menarik sehingga berlebihan dalam berhias. Contohnya dalam tata rias sanggul Cut Nyak Dhien yang sudah banyak dikreasikan dengan bunga-bungaan; sanggul yang lebih tinggi dan bahkan memakai bulu-bulu ayam, seperti orang Spanyol. Lalu Cut memperlihatkan foto-foto yang berkenaan dengan hal di atas.

“Saya juga pernah melihat ada tata rias penari yang sudah seperti tokoh pendekar, bukan seperti penari tradisional lagi. Penyimpangan seperti ini bisa menjadi pencemaran budaya” jelasnya.

Selanjutnya Cut Zuriana memperlihatkan beberapa video tentang tari Ranup Lampuan. Video pertama memperlihatkan para penari memakai pakaian yang warnanya tidak seragam. Lalu video selanjutnya memperlihatkan tari Ranup Lampuan dengan salah seorang penarinya adalah laki-laki. Bahkan ironisnya dia berperan sebagai “Ratu” dan ditempatkan di tengah. Sungguh menggelikan.

Wanita yang menjabat sebagai Ketua Program Studi Sendratasik FKIP Unsyiah ini juga menegaskan bahwa tari Saman dan tari Seudati yang ditarikan oleh perempuan juga merupakan kesalahan praktik dalam dunia seni tari saat ini. Sebenarnya tari Saman dan Seudati sejatinya ditarikan oleh laki-laki.

“Sungguh memprihatinkan keadaan tarian kita saat ini. Tarian laki-laki sudah ditarikan oleh perempuan, dan tarian perempuan seperti Ranup Lampuan, sudah dilakukan oleh laki-laki. Ini pernah terjadi di kalangan akademik pula,” ungkap Ibu Cut Zuriana kepada para peserta seminar.

Adapun keprihatinan yang terakhir yang diungkapkan beliau adalah hilangnya roh sebuah tarian yang menimbulkan image yang keliru. Salah satu contohnya adalah ditemukannya tari Ranup Lampuan yang menggunakan saweran (membagikan uang).

Pembicara selanjutnya adalah Drs. Nurdin AR, M. Hum yang merupakan salah satu tokoh sejarawan yang ada di Aceh. Beliau membahas mengenai Islamisasi dan perkembangan seni tradisional Aceh. Bapak sejarawan ini menjelaskan peradaban bangsa Aceh, diiawali dengan proses masuknya Islam pada abad ke 7 melalui para pedagang Arab, Persia dan Timur Tengah yang tengah berburu barang komoditas rempah di Aceh. Beliau juga  memaparkan tentang tasawuf Aceh lewat kesenian, sejarah Islamisasi Nusantara, peristiwa berubahnya istana menjadi pendopo pada tahun 1950, sejarah mengenai Sultan Sulaiman,  inskripsi Malikussaleh dan makam Putri Nahrasiah.

Nurdin juga menjelaskan tentang Islamisasi yang mengubah Bahasa Melayu. Beliau menegaskan bahwa Tulisan Jawi atau yang lebih dikenal dengan tulisan Arab Melayu, merupakan tulisan asli Nusantara yang berasal dari Melayu Pasai. Ia juga menjelaskan tentang sejarah Tari Seudati yang tak lepas dari Ratib (praktik zikir), sejarah Tari Rapai Geleng, Hikayat murni Aceh oleh Pocut Muhammad di Istana Aceh, dan Syair Melayu yang pernah dipopulerkan oleh Hamzah Fansuri. Beliau juga menceritakan tentang Tari Saman yang pernah salah tafsir, ditarikan menjadi Tarian Ratoh Duek di Jakarta.

“Jika ada yang ingin memodifikasikan tarian Aceh, berilah nama lain dan gerakan tarian tersebut juga harus dibedakan, seperti tari Pemulia Jamee dan Tari Putroe Bungong yang merupakan modifikasi dari tari Ranup Lampuan” papar Nurdin. Dengan demikian diharapkan tidak akan terjadi salah tafsir terhadap tarian Aceh.

“Seni ukir di Aceh sudah terpuruk karena cenderung membuang yang lama sehingga motif Rumoh Aceh semakin berkurang,” tambah Nurdin.

Beliau mengatakan bahwa salah satu penyebabnya terpuruknya Seni Ukir(Seni Kriya) di Aceh adalah para Uto Ahli (orang-orang yang pandai mengukir) menganggap bahwa pekerjaan ini tidak dapat menjamin hidup, sehingga mereka mencari mata pencaharian yang lain.

Ia juga menjelaskan tentang batu nisan yang menyimpan ukiran motif Aceh. Batu Nisan tersebut ditemukan di Pantai Utara, dari daerah Ujung pancu sampai daerah Lhokseumawe. Batu Nisan Aceh ini sangat dikenal dengan kehalusan batuannya sehingga batu nisan Aceh pernah diekspor ke luar negeri. Batu nisan Aceh ini juga terdapat di berbagai tempat pemakaman yang ada di Sumatera, bahkan warga di daerah Jepara juga pernah memesan batu nisan yang berasal dari Aceh ini.

Pembicara selanjutnya adalah Agus Nur Akmal atau yang lebih dikenal dengan nama Agus PMTOH. Beliau merupakan salah satu pembina dalam komunitas Tikar Pandan. Dalam seminar kebudayaan tersebut, Agus menceritakan tentang tari Ranup Lampuan yang sudah dikenal sejak tahun lima puluhan. Pada saat itu Almarhum Yusrizal memunculkan pemikiran-pemikiran  untuk menampilkan tarian-tarian yang lain selain Ranup  Lampuan. Agus juga menjelaskan dan memperagakan gerakan “petik sirih” yang menjadi ketertarikan dalam tarian Ranup Lampuan.

“Sebetulnya tari Ranup Lampuan itu intinya adalah gerakan memetik sirih dan dilakukan sambil duduk. Lalu juga ada gerakan mengoleskan kapur,” imbuhnya.

Beliau juga menjelaskan tentang sejarah tari Saman Aceh yang telah menjadi salah satu world heritage saat ini. Agus juga menjelaskan tentang Tari Saman Gayo yang tak dikenal dan sempat keluar dari Gayo sekitar tahun 1970 sampai 1972.

“Tari Saman Acehlah yang kembali memperkenalkan pintu tari Saman Gayo,” ungkap Agus. Beliau mengatakan bahwa Tari Saman Gayo masih terjaga keasliannya oleh masyarakat.

Setelah membahas tarian, Pak Agus membahas seni gamelan, angklung dan rapai. Beliau menyayangkan penemuannya ketika mengunjungi sebuah tempat yang menyimpan alat-alat untuk bermain rapai. Tempat tersebut kurang layak dipakai, seperti kandang kambing.

“Kemana pengelolaan kesenian kita sekarang ini?” tanyanya dengan nada sedikit kesal di sela-sela penjelasannya.

Adapun pembicara terakhir yang mengisi acara ini adalah Syeh Lah Genta yang merupakan Maestro Tari Seudati. Beliau menceritakan sejarah Tari Seudati dan hasil penelitian yang berkaitan dengan tarian ini, begitu juga dengan Seudati Musiman dan Festival Seudati yang terdapat di Aceh.

Secara tidak langsung, seminar kebudayaan ini telah membangkitkan kembali  jiwa kami untuk bersemangat dalam melestarikan Budaya Aceh ke depannya.[]

 

NURHASANAH
Adalah mahasiswi tingkat akhir FKIP Bahasa Inggris Universitas Syiah Kuala. Bergiat sebagai guru privat dan tentor Bahasa Inggris di Bright English School, Relawan di Open Community dan Rumah Cahaya FLP Aceh.

 

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

3 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan ke Isni Wardaton Batal balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here