Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, Selangor

Mendung menggelayuti langit Selangor Darul Ehsan sejak dini hari. Membuat hati ini ciut rasanya. Pagi ini aku ada janji dengan Lisa, sahabat baikku untuk mengunjungi Perpustakaan Universiti Kebangsaan Malaysia. Sedianya, Lisa akan menjemputku, lalu kami akan bersama-sama ke UKM menggunakan bis kampus. Tapi melihat kondisi cuaca yang kurang mendukung, aku men-sms Lisa agar tidak usah menjemputku. Langsung bertemu di perpustakaan saja.

Mendekati pukul sembilan, hujan deras mengguyur bumi. Kecemasan semakin melingkupi diri.
“Ayah, kita pergi naik apa?” kubertanya pada suamiku, Pak Ridha. Beberapa dosen Tehnik Unsyiah berencana ingin ke UKM. Kalau bisa nebeng kan lumayan.
“Naik mobil Hamzah,” jawab Pak Ridha. Hamzah adalah anak Medan yangsedang kuliah S2 di UKM. Alhamdulillah, berarti gak perlu berbasah-basahan ria.
“Mala ikut sekalian ya?”
“Boleh.”
“Sip.”

Setelah mengantar Pak Ridha dan dosen-dosen lain ke Fakultas Teknik, Hamzah berbaik hati mengantarkanku juga.
“Itu perpustakaannya, Bu.” seru Hamzah.
“Ok, makasih banyak ya Hamzah,” ujarku sembari menutup pintu mobil.
Kupandangi bangunan bertuliskan “Perpustakaan Tun Seri Lanang”. Nama Tun Seri Lanang tidaklah asing bagiku. Beliau yang merupakan Raja Samalanga ini orang Malaysia, namun diangkat jadi raja oleh Sultan Iskandar Muda untuk memimpin Samalanga. So, baik Malaysia maupun Aceh sama-sama merasa memiliki Tun Seri Lanang.

Kutapaki anak tangga satu persatu. Sesampainya di atas, berjejer meja dan bangku, seperti di restoran. Aku memilih salah satu meja, duduk manis menunggu Lisa.
“Lisa, di mana posisi? Kakak udah sampe di pustaka,” kukirim sms ke Lisa.
Sambil menunggu, kupandangi para mahasiswa yang berseliweran. Rata-rata memakai baju kurung, anggun, sangat anggun. Aku mengagumi diam-diam dalam hati. Mereka tampak begitu mengagumi ke-Melayuannya, dan berusaha mempertahankan tradisi. Sementara di kotaku, wanita yang berbaju kurung dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Tidak fashionable. Hm.

pustaka 1Tak lama, Lisa muncul dengan tas ransel. Sepertinya perbekalannya lengkap sangat.
“Kakaaak, udah lama?” seru Lisa ceria. Kami segera cipika-cipiki.
“Baru kok, Lisa,” jawabku. Kupandangi wanita muda di depanku. Dia memakai jaket hijau dan tas ransel. Di dalamnya ada termos air dan bekal. Waduh, benar-benar lengkap. Apa ini tidak berlebihan ya, pikirku. Kita kan mau ke perpustakaan, bukan mau ke gunung. Aniway, Lisa kan sudah lama tinggal di Malaysia. Tentu dia yang lebih tahu situasi dan kondisi di sini.

pustaka 2
Singkat kata, kami berdua masuk ke dalam. Agak deg-degan juga pas melewati penjaga. Untungnya tidak ditanya-tanya, jadi kami berhasil masuk ke dalam. Kupikir, perpustakaan universitas kayaknya boleh dong dinikmati oleh masyarakat, jadi aku tidak mempersiapkan apa pun. Seperti kartu mahasiswa atau semacamnya. Lho, memangnya aku mahasiswa di sini? Maksudku, aku berasumsi bahwa perpustakaan ini terbuka untuk umum, termasuk diriku. Alhamdulillah kami lolos melewati penjaga. Selamet, selamet.

Selanjutnya kami melangkah ke dalam. Ternyata di dalam dingin banget! Oalah, pantesan si Lisa pake jaket. Jadi nyesel nggak bawa jaket. Brrr!
Sampai ke dalam, Lisa mengajakku ke tempat majalah. Great! Pilihan yang tepat. Rupanya dia sangat mengerti seleraku yang ibu-ibu. Malas baca yang serius-serius. Isinya artis-artis Malaysia. Yah, lumayanlah, jadi bisa mengenal mereka lewat tulisan.

Selagi baca-baca, tiba-tiba ada serombongan mahasiswa masuk ke tempat kami. Rupanya pengenalan tentang perpustakaan bagi mahasiswa baru. Rasanya aku ingin ikut bergabung dengan mereka deh. Tapi, ketahuan nggak ya? Ntar malah dikira penyusup lagi, hehe.
Setelah itu Lisa memperkenalkan ruangan-ruangan yang ada di perpustakaan. Termasuk mesin fotokopi. Ada beberapa mesin di situ. Ohya mahasiswa di sini bisa meminjam buku pada petugas, tapi pas balikin bukunya nggak perlu sama petugas. Jadi tinggal taruh bukunya lalu pencet-pencet tombol. Canggih ya. Udah kayak di Jepang aja. Hemat tenaga manusia, semua serba mesin, hehe.

Lalu kami ke bagian sastra. Sempat membaca beberapa buku. Tapi anehnya aku tidak tertarik baca buku sastra. Walah! Padahal ngakunya sastrawan tuh. Jadi, rupa-rupanya kesastrawanan diriku patut dipertanyakan nih, hihi.

pustaka 5pustaka 4Tak lama, kami ke bagian Koleksi Asia Tenggara. Kepengen baca-baca buku, tapi harus minta sama petugas. Pas nanya ke petugas, disuruh liat katalog. Hadeuh, ribet yak. Akhirnya gak jadi. Keluar lagi. Lalu kami ke bagian sejarah. Herannya, di sini aku betah banget. Terutama buku-buku sejarah Malaysia yang ada istana-istana dan kerajaan. Masing-masing negara bagian punya istana yang indah-indah dan tempat wisata andalan. Jika diizinkan Allah, aku ingin sekali ke Johor dan Malaka. Engkau Maha Tahu yang terbaik untuk diriku, ya Robbi. Setelah berada di sini, aku jadi berpikir, kalau aku diizinkan Allah mengambil kuliah lagi, kepengennya sih mengambil jurusan sejarah. Tapi apa mungkin ya? Kalau mau belajar sejarah sih nggak perlu capek-capek kuliah. Baca-baca buku aja, atau liat internet. Hari gini kan semua ada di Google. Nggak perlu repot kan.

pustaka 3Tak lama, kami kembali mengembara, eh, maksudnya berkeliling. Kali ini ke bagian Koleksi Arab dan Tamadun Islam. Bagus-bagus banget buku di sini. Kepengennya sih seharian ada di sini. Kalau perlu nginep. Halah! Habis buku-bukunya bagus-bagus semua, buku-buku agama tentunya. Tapi kami hanya sebentar di sini. Lisa kembali mengajakku menjelajah. Sampai ke tingkat lima lho. Kuperhatikan, di mana-mana ada tulisan “senyap”. Maksudnya nggak boleh ribut. Tapi aku agak menyayangkan. Perpustakaan sebesar ini, tapi mahasiswanya kok sedikit ya. Tapi jangan heran. Di mana-mana yang namanya perpustakaan itu memang sepi peminat deh. Nggak seimbang dengan banyaknya buku.

Setelah dirasa cukup, kami pun keluar. Perut sudah keruyukan minta diisi. Lisa mengajakku ke kantin kampus. Lumayan lengkap, ada makanan Melayu, Cina dan India.Aku memilih ayam goreng dan tumis jamur. Yang standar sajalah. Kalau pilih yang ‘aneh-aneh’ takutnya malah nggak kemakan lagi. Hehe.

Habis makan ke mushola. Musholanya bersih dan luas. Toilet dan tempat wuduknya juga banyak, jadi nggak perlu antri. Ada loker juga untuk taruh tas. All in one banget nih. Jarang-jarang mushola lengkap begini. Oya mukenanya juga banyak. Terus digantung pakai hanger, jadi nggak bau.

Setelah sholat Lisa menawarkanku apakah ingin balik lagi ke perpustakaan. Aku menggeleng.
“Sudah cukuplah Lisa,” desahku.
“Ok, kalau begitu kita keliling-keliling kampus aja ya, Kak,” tawarnya.
“Boleh, Lisa.” Hatiku melonjak gembira. Kapan lagi kesempatan kayak begini.
Kami menunggu bis di halte. Rupanya sedang ada pemilihan ketua perhimpunan mahasiswa. Semacam BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) kali ya. Jadi poster-poster berisi foto dan nama kandidat ada di mana-mana.

Tak lama ada bis yang lewat. Tapi kata Lisa bis itu nggak sampai ke tujuan kami. Jadi kami menunggu lagi. Lumayan lama juga nunggunya. Yah, tak apalah, yang penting sampai ke tujuan. Insya Allah. Orang sabar kan disayang Tuhan.

Ketika bisnya datang, wah keren sangat. Seperti bis HIBA UTAMA. Besar dan ber-AC. Gratis lho. Kami berdua pilih tempat duduk yang paling depan. Biar pemandangannya luas. Lisa menunjukkan fakultas demi fakultas.
“Lisa kuliah di situ, Kak!” ujar Lisa sambil menunjuk. Kalau dalam bahasa Indonesia kira-kira bermakna “FKIP”.
“Wah hebat, Lisa. Belajarnya pakek bahasa apa?”
“Bahasa Melayu, Kak,” jawabnya.
“Susah nggak kuliah di sini?”
“Nggak Kak, cuma banyak tugas aja.”

Kupandangi rerumputan dan hutan kecil yang memagari kampus. Suasananya sungguh rindang dan nyaman. Tiba-tiba terbersit keinginan untuk melanjutkan kuliah lagi. Tapi aku berusaha mengubur harapanku dalam-dalam. Aku kan ibu rumahtangga. Untuk apa kuliah lagi. Ini aja ijazah S2-ku belum terpakai. Kecuali kalau aku jadi dosen, bolehlah kuliah lagi. Nanti ilmunya kan berguna.

ukm 1 aSetelah berkeliling, kami berhenti di gerbang kampus. Lalu kami berfoto-foto, di antara pohon pinang. Duh, serasa jadi bintang film India nih.

Dari situ, kami berjalan ke gedung Rektorat. Di depannya ada gong dan prasasti bertuliskan:
Universiti Kebangsaan Malaysia. Kampus ini dibuka dengan rasminya oleh Kebawah Duli Yang Maha Mulia Seri Paduka Baginda Sultan Haji Ahmad Shah Al-Musta’in Billah Ibni Al-marhum Sultan Abu Bakar Ri’ayatud In Al-Muadzam Shah. Lalu di bawahnya tertulis Yang Dipertuan Agong Malaysia, tanda tangan dan tanggal bulan tahun dibuatnya prasasti ini.
ukm 6

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here