Berwisata Sejarah ke Museum Aceh

Oleh: Nur Anshari

Bila kita berkunjung ke kawasan Museum Aceh, ada sebuah Rumoh Aceh yang berbentuk unik. Namun ternyata bukan hanya Rumoh Aceh saja lho yang ada di sana. Di kawasan tersebut, tepatnya di sebelah kanan Rumoh Aceh terdapat gedung museum.
Awalnya, saya dan kakak hanya berniat untuk foto-foto saja. Namun tiba-tiba tergerak hati untuk memasukinya. Setelah membeli tiket seharga Rp 1.500, kami disambut hangat oleh petugas. Murah ya harga tiketnya. Tadinya saya pikir harga tiketnya sekitar Rp 10.000. Ternyata salah. Kita lihat yuk apa saja yang ada di Museum Aceh ini.

Memasuki gedung, mata kita langsung disuguhi beberapa peninggalan masa prasejarah yang terdiri dari fosil, batu, dan alat-alat lainnya yang digunakan di zaman purbakala. Ada sekitar sembilan macam fosil tengkorak yang disusun rapi di dalam meja kaca di sebelah kiri pintu masuk. Antara lain adalah Homosapiens, Megantropus, Pithecantropus, dan lain-lain.

Di depan meja kaca berisi fosil manusia purba tadi, dipajang alat-alat yang digunakan pada masa sejarah, yaitu masa setelah manusia purba. Pada masa sejarah, mereka sudah mengenal ilmu bercocok tanam dan berburu. Mereka juga sudah bisa membuat kerajinan tangan dan alat masak-memasak seperti kendi, sendok, pisau. Masa sejarah ditandai dengan masa bercocok tanam, sehingga manusia pada masa itu sudah berfikir bagaimana caranya membuat alat-alat untuk memudahkan aktifitas sehari-hari. Yaitu dengan membuat alat-alat seperti yang saya sebutkan tadi.

Nur 3

Selanjutnya, kami naik ke lantai dua. Di sana ada peninggalan berupa benda-benda dan biografi tentang tokoh-tokoh sejarah Aceh. Pertama, ada benda-benda kuno yang sempat membuat saya merinding, yaitu peti mati untuk sulthan. Saking seramnya saya hanya mengabadikan gambarnya dari jauh. Bukan karena takut, tapi jaga-jaga dari ‘penampakan’. Hehehe. Di sampingnya ada dua buah batu nisan warna hitam legam, mirip batu nisan yang ada di Gampong Pande. Hanya saja beda warna, yang di Gampong Pande warnanya agak ke abu-abuan. Di sebelah kanan peti mati, ada alat-alat perang Aceh, seperti mesiu dan meriam. Bukti bahwa terjadi peperangan dahsyat Aceh melawan penjajah Portugis dan Belanda.

Selanjutnya, biografi Sulthan Malik al-Shaleh, -salah satu sulthan Aceh yang terkenal- juga dipajang. Hm, asiknya bisa berkunjung ke tempat seperti ini, serasa memutar balik waktu ke zaman dahulu kala. Cocok banget untuk dijadikan referensi tur wisata kamu bareng teman atau keluarga. Selain hati senang, otak juga terisi. Banyak pengetahuan yang bisa dipetik.

Contohnya saja, bagaimana seorang sulthan yang menjadi pemimpin memiliki karismatik dan wibawa sehingga masih diabadikan kisahnya dalam buku-buku sejarah. Lantas, pemimpin kita saat ini juga akan menjadi sejarah untuk anak cucu nanti kan? Nah, apa yang mau diandalkan untuk dideskripsikan menjadi bahan bacaan sejarah seperti yang ditulis terhadap para sulthan? Itu hanya mereka para pemimpin yang bisa menjawab.

Selanjutnya biografi para pahlawan Aceh, seperti Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien. Perlu diketahui, pahlawan wanita Aceh bukan hanya Cut Nyak Dhien dan Laksamana Keumala Hayati saja, seperti yang sering didengar selama ini. Masih banyak pejuang wanita Aceh lainnya yang namanya jarang disebut sebagai pahlawan. Namun, perjuangan dan kerja kerasnya untuk melawan penjajah perlu diacungkan jempol. Walaupun bertubuh perempuan tapi semangatnya layaknya kesatria yang berjuang dan berperang melindungi Aceh dari penjajah. Mau tau siapa saja pejuang wanita Aceh selain mereka? Penasaran? Datang saja ke Museum Aceh. Hehe.

Nah, apa kiprah kita sebagai wanita Aceh masa kini? Mungkin kamu sendiri yang bisa menjawab. Tugas kita sebagai wanita adalah menjaga nama baik Aceh. Menjadi wanita karir boleh-boleh saja, disetarakan dengan pria juga oke, tapi harus ingat kodratnya wanita itu tidak melampaui batas-batas syariat. Kerjakan hal yang dibenarkan menurut agama dan norma, jangan yang dilarang…oke!

Di museum ini, saya juga bisa melihat tulisan tangan Syekh Nuruddin Ar-Raniry, ulama asal India yang menyebarkan ilmu dan wawasannya di Aceh. Bahkan namanya dinisbahkan untuk kampus tempatku belajar, yaitu UIN ar-Raniry. Bangga.

Nur 4

Oke, sekarang kita keluar gedung ya. Di halaman gedung, nampak lonceng besar bernama Cakradonya. Tiba-tiba saya teringat kampung halaman, Langsa. Waktu kecil dulu saat saya sering mengikuti lomba di Cakradonya -nama Gedung Wali Kota Langsa. Sempat terpikir dan penasaran, apa sih sejarah Cakradonya sebenarnya? Dan hal itu terjawab di sini. Cakradonya merupakan lonceng yang diberikan oleh Laksamana Cheng Ho dari Cina. Perlu sobat ketahui, hubungan Aceh dengan Cina begitu dekat lho?

Sampai-sampai lonceng yang ini diberikan Cina untuk Aceh dalam rangka persahabatan. Nice ya. Setelah itu, lonceng Cakradonya ini dijadikan alat pemberitahuan adanya musuh di kapal milik pejuang Aceh yang berlayar di lautan. Setelah perang usai, lonceng ini dipindahkan ke Musem Aceh.

Sekian dulu cerita tentang wisata sejarahku. Moga lain waktu ada kesempatan untuk cerita lagi ya.

Nur 1

Nur Anshari, lahir di Sungai Pauh, Kota Langsa, 4 Oktober 1992. Kini menempuh studi di UIN Ar-Raniry. Nama Nur Anshari yang berarti “cahaya penolong” dimaksudkan agar dirinya menjadi penolong yang senantiasa bercahaya. Semoga karya-karyanya bisa menjadi cahaya yang bermanfaat bagi siapapun.

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here