Masjid India Kuala Lumpur, Kebanggaan Rakyat India

Sejenak kuterpana menatap rinai hujan yang menderas. Wah bagaimana ini? Kami belum lagi mencapai Masjid India. Jauhkah dari sini? Tadi menurut info dari Bu Nana sih gak jauh lagi. Tiba-tiba kuteringat payung lipat dalam tasku. Alhamdulillah. Kebiasaan dari Bogor yang terbawa sampai ke Malaysia -membawa-bawa payung lipat- ternyata berguna di saat genting begini. Tapi, payung lipatku cuma muat untuk dua orang. Yang lainnya gimana? Riah dengan gesitnya berlari menyusuri toko demi toko. Begitu pun Pak Arhami, Upi dan Dinda. Aku tergopoh-gopoh mengejar di belakang. Hebat ya mereka, berani menerobos hujan. Kalau aku sih, takyuuut…

Masjid dan benderSetelah tanya sana-sini, akhirnya sampailah kami di Masjid India. Bangunan berwarna merah tua yang terselip di antara deretan toko. Jadi ini toh Masjid India yang terkenal itu. Akhirnya Allah Swt mengijnkanku untuk mengunjunginya. Alhamdulillah. Tapi aku agak heran. Bagiku masjid ini agak sederhana, tidak seperti masjid-masjid lain di Malaysia yang terkesan megah dan mewah. Padahal sesungguhnya aku tak perlu heran. Masjid India Kuala Lumpur ini kan merupakan masjid tertua di Kuala Lumpur. Dibangun pada tahun 1863 dan berada di dalam peta sejak tahun 1889, didesain oleh W T Wood dari pejabat Tanah Kuala Lumpur ketika itu. Bayangkan saja, tahun 1863, sekitar seratus tahun sebelum diriku lahir!

Dan jauh di lubuk hatiku, aku merasa sedih. Dari namanya aku sudah bisa menduga bahwa masjid ini dibangun oleh komunitas Muslim India di Malaysia. Semangat untuk beribadah dan berkumpul bersama pastilah yang memotivasi mereka untuk menggalang dana untuk membangun masjid. Tapi kini, keberadaannya menjadi terdesak oleh banyaknya toko di sekelilingnya. Masjid itu seolah menjadi pelengkap penderita, bukan subyek utama. Dan nama jalannya lebih terkenal daripada nama masjidnya. Jalan Masjid India lebih terkenal daripada Masjid India itu sendiri. Tapi, ini hanya perkiraanku, moga saja salah ya friends.

depan masjidSebelum masuk kami menapaki beberapa anak tangga. Pintu masuk untuk wanita dan pria dipisah oleh tembok. Wanita di sebelah kanan, sedangkan pria di sebelah kiri. Sampai di dalam kami bertanya di manakah tempat wudhu? Ternyata di luar. Karena hujan dan kami membawa barang-barang belanjaan, kayaknya agak ribet ya kalau dibawa ke tempat wudhu. Terpaksa aku dan Riah gantian berwudhu.

Jamaah wnaitaSesudah itu barulah kami naik ke atas. Ruang sholat pria terletak di lantai 1, sedangkan ruang sholat wanita terletak di lantai 2. Tidak terlalu banyak jamaah wanita di atas. Aku menduga mungkin karena waktu zuhur sudah mencapai akhir. Pastilah orang-orang sudah sholat zuhur tadi di awal waktu. Aku menjamak dan meng-qashar sholat zuhur dengan sholat asar, dua-dua rokaat. Sedangkan Riah hanya sholat zuhur saja. Setelah itu aku leyeh-leyeh meluruskan kaki yang pegal. Cukup jauh juga perjalanan kami, mulai dari stasiun Bank Negara, SOGO department store, pertokoan di Jalan Masjid India dan akhirnya bermuara di Masjid India. Eh tadi sempat makan siang ding di dekat Mydin. Lumayanlah sempat istrirahat sebentar. Tapi kini aku benar-benar letih. Hmmm, mau rebahan, malu. Serasa di rumah sendiri saja. Kulihat orang-orang gak ada yang rebahan. Para remaja putri asyik bercakap-cakap dengan temannya.

“Kak, kita tunggu sholat asar aja ya,” pinta Riah manja.
“Boleh,” jawabku. Tanggung, tinggal beberapa belas menit lagi. Kesempatan itu kugunakan untuk memotret bagian-bagian masjid. Ternyata Masjid India ini indah juga. Bagian mihrabnya dihiasi dengan tulisan Arab dan lukisan tanaman hias yang menjulur. Dengan paduan warna biru dan coklat yang manis dan aristokrat.

MihrabMasjid India pada asalnya adalah sebuah masjid yang kecil, yang dibangun dari papan dan kayu. Namun, waktu telah merubah segalanya. Masjid itu kini mempunyai 3 tingkat ruang sholat berkapasitas lebih dari 3000 jemaah. Pembangunan dan perluasan masjid ini telah dibiayai oleh para pedagang India Muslim yang berdagang di Batu Road (sekarang Jalan Tuanku Abdul Rahman).

Di awal-awal adanya masjid ini, jemaah menggunakan air sungai Kelang untuk mengambil wudhu. Dan hingga saat ini, khutbah Jumat di masjid ini menggunakan bahasa Tamil sebagai perantara, sama seperti masjid-masjid India Muslim lain di negara ini.

Masjid India yang kini berdiri merupakan masjid yang telah diperluas dan telah dirasmikan pada 9 Jun 1964 oleh DYMM Sultan Selangor ketika itu. Dan sekali lagi pada tahun 1999, masjid ini telah diberikan wajah baru dengan penambahan pada ruang mengambil wudhu dan perluasan ruang sholat di tingkat bawah. Pada tahun 2002, wajah masjid ini telah direnovasi dengan menggunakan batuan granit merah.
Tak lama, azan asar berkumandang. Riah segera bergabung bersama jamaah wanita untuk melaksanakan sholat asar. Aku agak menyesal. Yaah, kenapa tadi dijamak ya. Kalau tidak kan bisa dapat pahala sholat asar berjamaah. Tapi sudahlah, nasi sudah menjadi bubur.

Sehabis sholat kami turun ke bawah. Aku melihat selebaran berbahasa Tamil. Kutatap lekat-lekat tulisan dalam selebaran itu. Kuteliti huruf demi huruf, tapi tentu saja tidak ada yang kumengerti. Sesuatu dalam diriku, aku tak mengerti apa, merasa sangat ingin tahu. Tiba-tiba kuteringat pada tetanggaku di Miyamaedaira, Kawasaki, Jepang: keluarga Nowshad Amin dari Bangladesh dan keluarga Mohammad Faruq dari Pakistan. Kini aku mengerti mengapa aku terkesima menatap huruf-huruf Tamil itu: aku merindukan para tetanggaku itu. Entah kapan bisa bertemu mereka lagi. I hope someday, walau gak tahu someday-nya itu kapan. Semoga Allah mendengar doaku.
Hujan sudah berhenti. Di luar, kami bertemu dengan Pak Arhami dan Upi. Lalu kami duduk-duduk di kursi di teras. Ingin bersantai lebih lama lagi menikmati suasana. Namun hari sudah sore dan kami harus pulang. Terimakasih Riah, Pak Arhami, Upi, Dinda, Bu Nana, Kak Faridah dan Teteh Nurul. Jazakumullohu kahiran katsiiraa atas perjalanannya yang menyenangkan dan mengenangkan.

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

2 KOMENTAR

    • Alhamdulillah Lisa sayang. Senang, karena banyak pengalaman dan hal baru yang ditemui selama perjalanan. Makasih banyak Lisa udah nemenin kakak ke UKM tempo hari. Senang banget. Iya, KL memang bikin kangen. Aceh boleh belajar banyak dari Malaysia dalam mengemas pariwisatanya. Terpadu dan tertata dengan apik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here