NARA, POTRET TUA SEJARAH JEPANG

Oleh: Alfi Rahman

Pertengahan september adalah waktu yang tepat bagi saya dan dua rekan menikmati hangatnya musim panas di Kyoto. Meskipun puncak musim panas sudah lewat, bagi kami tetaplah terasa lebih panas dari Aceh, suhu tertinggi 38oC dengan kelembaban 68%.  Langit terlihat sangat cerah saat jam menunjukkan pukul 08:30  dimana jalan sudah terasa lengang dan sesekali suara kereta lewat memecah keheningan.

Kami menelusuri jalan saat sebagian besar orang sudah masuk kantor dan sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Kami berkesimpulan kota seperti Kyoto ini tidak terlalu bising dengan keriuhan orang, jalanan sunyi, dan sesekali orang-orang tampak tergesa-gesa atau sibuk dengan earphone yang bertengger di telinga. Kami pun dengan mudah pula menemukan manula yang sedang berjalan santai menikmati suasana di berbagai sudut kota. Populasi manula cukup tinggi di Jepang, lebih dari 20% penduduk Jepang berusia 65 tahun ke atas. Usia harapan hidup mereka tinggi, dan jarang sekali kami menjumpai orang yang obesitas di jalan.

Sesekali tawa kami memenuhi kesunyian jalan yang tentu saja mengundang sebagian orang menoleh ke arah kami, mungkin bisa jadi karena ada wajah asing dan suara berisik di pagi hari, kami mencoba untuk mengecilkan suara, namun tetap saja memberikan pembenaran sambil berbisik  “Well guys, stay cool, ini budaya kita menikmati pagi dengan keriangan,” bisik saya kepada rekan yang lain. Dan tepat 15 menit sebelum pukul 9.00 kami sudah tiba di Obaku JR (Japan Railways) Station untuk menunggu seseorang dari CIAS (Center Integrated Area Studies)  Kyoto University yang belum pernah berjumpa yang akan membantu kami mengeksplorasi segala sesuatu di daerah Kansai.

Dr Ryuichi Tanigawa adalah seorang ahli sejarah arsitektur modern Asia, sosok yang kami tunggu. Saya memutuskan untuk tidak bertanya  kepada penduduk  Kyoto  yang ada di sekitar stasiun, pasti wajah asing kami mudah dikenali Tanigawa nantinya. Benar saja saat kami sibuk mengambil beberapa photo langsung dihampiri oleh seorang yang kami duga dialah guide kami hari ini, Tanigawa-San. Ia menyapa dan memperkenalkan diri,. Tanigawa-San kelihatan takjub tidak menduga jika kami tiba lebih awal dari dugaannya, mugkin ia berpikir kami akan terlambat atau tersesat.

Tanigawa-San sangat ramah dan rendah hati, bahasa Inggrisnya yang bagus membuat kami  merasa nyaman dan antusias untuk memulai petualangan hari itu. Kami menyambut tawaran Tanigawa-San untuk menjelajahi kampung kelahirannya, kota tua Nara.  Tentu akan sangat menakjubkan jika kami langsung ditemani untuk menjelajah Nara oleh orang yang paling mengenal kota Nara. Diperlukan waktu 45 menit dengan harga tiket 690 yen per orang untuk sampai ke Nara dari Kyoto dengan menggunkan JR. Lebih dari 70% jaringan railway yang ada di Jepang dioperasikan oleh JR, hanya 30% saja yang dikelola oleh swasta, seperti di Kyoto terdapat juga Keihan, Hankyu dll. Kami berhasil membuat Tanigawa-San tertawa sepanjang perjalanan, sedikit menepis pikiran kami jika orang Jepang terlalu serius dalam banyak hal, termasuk di dalam bus atau kereta.

Kota tua Nara pernah menjadi pusat kota Jepang dari tahun 710 hingga 784, masa ini disebut sebagai masa kejayaan Nara. Jadi kota ini banyak sekali menyimpan berbagai heritage yang penting, terutama temple Budha. Saat tiba di Stasiun Nara yang modern, kami dibawa ke bangunan stasiun lama yang sudah dijadikan museum. Kami disambut patung anak kecil yang bertanduk rusa. Dugaan saya benar jika rusa menjadi simbol kota Nara. Penduduk Nara percaya bahwa rusa adalah binatang yang diturunkan dari surga untuk menjaga kota.

photo 4

Kami melanjutkan perjalanan dan di sepanjang jalan terdapat toko yang menjual beragam asesoris khas Nara, dan tentu saja bermotif rusa. Terdapat lebih dari 3000 rusa hidup di Kota Nara, dan Tanigawa menjelaskan jika di Nara Park terdapat beragam heritage dan rusa-rusa yang jinak.

Penduduk Nara hanya berjumlah 368.000 jiwa dari 22 juta lebih total penduduk wilayah Kansai  membuat Nara terasa sangat nyaman untuk pejalan kaki dan beragam aktivitas. Tanigawa berkali-kali menanyakan apakah kami kelelahan dengan berjalan kaki, kami menggeleng kepala dengan kompak meski kemudian saya memutuskan untuk membeli minuman kaleng dari mesin yang mudah ditemukan hampir di setiap sudut kota sebagai bentuk ungkapan beristirahat sejenak.

Hanya memasukkan koin 100 yen ke dalam mesin, kita bisa mendapatkan minuman segar. Dari ujung jalan mulai tercium aroma makanan yang berasal dari kedai-kedai terbuka, agak mirip dengan dorayaki, dan beragam kue, sangat menggugah selera bahkan di depan kedai terdapat beragam tester makanan yang gratis, namun kekhawatiran akan kehalalannya membuat kami sama sekali tidak tergoda utuk sekedar mencicipi.

Kembali Tanigawa bertanya apakah kami yakin untuk tidak mencicipi makanan tersebut. Kami menolaknya dengan halus. Meskipun kami pernah mendengar jika kunjungan wisman dari negara muslim terutama dari Malaysia, Indonesia dan Turki meningkat ke Jepang membuat pemerintah sudah mulai memperhatikan untuk menyediakan makanan halal, tetap saja kami belum mantap untuk menerima tawaran makanan tersebut.

photo 1

Berjalan kaki berkilo-kilo membuat Tanigawa memutuskan untuk beristirahat sebentar, dan membimbing kami masuk ke dalam salah satu gedung yang ternyata sebuah Museum. Okumura Commemorative Museum. Sebuah gedung yang terlihat sangat futuristik. AC-nya yang segar menyambut kami di depan pintu, serta senyum dari petugasnya yang rata-rata berusia paruh baya yang ramah mempersilahkan kami untuk masuk. Museum ini juga menjadi pusat informasi bagi turis. Suasana yang paling menyenangkan adalah tersedia ruang istirahat dengan pemandangan taman yang indah. Kami duduk menikmati air minum dan akses internet super cepat gratis.

Seorang Kakek menjadi pemandu kami yang hanya bisa berbahasa Jepang. Kami hanya mengangguk-angguk dan melirik ke Tanigawa agar menerjemahkan apa yang diterangkan oleh si Kakek. Museum Okumura Commemorative didirikan sebagai sumbangsih dari perusahaa Okumura yang memulai bisnisnya tahun 1907 di kota Nara. Museum ini juga berfungsi sebagai ajang promosi teknologi dari perusahan Okumura dan sarana edukasi bagi masyarakat yang mengunjungi Nara. Terdapat alat untuk simulasi gempa yang dapat dicoba untuk merasakan bagaimana variasi gempa yang pernah terjadi di Jepang. Kita tinggal duduk di atas sebuah kursi dengan memakai seatbelt maka permainan akan di mulai. Meskipun gempa yang terjadi di Jepang berdurasi kurang dari satu menit tapi kekuatan dan daya destruktifnya sangat dahsyat. Di samping simulasi ini kita juga di perkenalkan kepada teknologi tentang Seismic Isolation System yang dapat meredam dampak gempa pada bangunan. Teknologi dengan menggunakan karet dan bagian elastis yang di tanam di pondasi bangunan. Pemerintah Jepang dan masyarakatnya sangat memperhatikan aspek mitigasi struktural mengingat daerah mereka merupakan daerah yang sangat rentan terhadap ancaman gempabumi dan tsunami.

Puas dengan penjelasan di lantai satu dari si Kakek dalam bahasa Jepang yang sangat percaya diri, atau tepatnya dia tidak terlalu peduli apakah kami mengerti atau tidak membuat kami harus berkali-kali pula melirik ke Tanigawa. Padahal di sini tersedia bilingual volunteer yang bisa berbahasa inggris, tapi mungkin pada hari itu petugasnya tidak ada. Akhirnya kami diperkenankan untuk menuju lantai atas yang merupakan area terbuka. Menurut Tanigawa banyak orang tua yang sudah memasuki masa pensiun menjadi volunteer di berbagai tempat terutama di museum dan beragam heritage yang ada di wilayah Kansai. Ini menjadi salah satu solusi untuk memberdayakan para orang tua agar tetap produktif. Di bagian atas museum kami dapat melihat bagaimana indahnya kota Nara. Terlihat sangat jelas kawasan Todhaiji Temple yang menyimpan patung besar Budha, tampak pula hijaunya hutan dan beragam heritage penting Nara.

Setelah tenaga kami pulih kembali dengan keramahan dan tempat istirahat yang nyaman, kami pun pamit dengan tidak lupa mengucapkan arigatou gozaimasta sambil sedikit membungkuk dan merekapun membungkuk sebagai tanda penghormatan atas kunjungan kami.  Kami pun melanjutkan perjalan ke kawasan Nara Park (***)


 *Penasehat FLP Aceh dan Deputy Program Manager TDMRC Universitas Syiah Kuala

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here