Raising Sakura 1

Ah, akhirnya tiba juga saatnya aku berangkat ke negeri Sakura. Tapi bukannya santai di hari itu, aku malah disibukkan dengan berbagai keperluan yang belum terselesaikan. Seperti buat master visa, menarik uang di ATM, ambil omiyage dan barang-barang lainnya di rumah Pocut, pamit dengan Mura-sensei, dll. Huff.. rupanya melelahkan sekali. Salahku juga, kenapa tidak menyelesaikan urusan sebelumnya. Hal yang paling disesalkan adalah tidak bertemu dengan Mura-sensei. Hari itu sudah dua kali aku ke rumahnya namun beliau tak ada. Sebenarnya beliau sudah memberitahu bahwa beliau tak di rumah hari itu. Tapi aku ingin datang, walaupun hanya untuk menitipkan omiyage. Tapi rumahnya kosong, jadi aku memutuskan menitipkannya pada teman kosanku untuk diberikan pada Mura-sensei. Doumo arigatou Mura-sensei, tanpa jasamu mungkin kami akan bisu disini. Jazakillah khairan katsira :’)

Aku berangkat dari kampung halaman pagi-pagi bersama keluarga hari itu. Sempat kena marah juga kenapa urusannya tak diselesaikan jauh-jauh hari.  Kesal, pada diriku sendiri. Nanti di Jepang, tidak  boleh begini lagi, batinku. Setelah selesai akhirnya siang aku dan keluarga berangkat ke bandara. Selang beberapa menit, teman-teman sekelasku di kampus pada datang. Disusul teman halaqah, teman kosan, dan beberapa kenalan yang lainnya. Waa, terharu. Banyak yang mengiringi keberangkatanku. Arigatou!

Di antara mereka juga banyak yang menitipkan doa. Misalnya: doa agar cepat lulus kuliah, bisa keluar negeri, hingga pertemuan/ jodoh. Atau titip bawa pulang bunga sakura, foto bunga snowdrop saat winter, atau tulis nama di suatu tempat di Jepang agar nanti bisa dikunjungi. Dan mereka repot-repot memberikanku hadiah kenang-kenangan, macam aku ini mau pergi lama saja. But, alhamdulillah. Aku menerimanya dengan senang hati. Terima kasih.

Setelah check in, aku masih bisa bertemu keluarga dan teman-teman. Suasana haru pun dimulai, diselingi juga dengan sesi foto-foto sebagai kenang-kenangan. Aku pamit dengan keluarga. Sedih rasanya, tapi aku tak menangis. Mungkin sudah kering, manakala aku mengalirkannya di tiap-tiap sujudku sebelumnya. Ah, teman-temanku.. Mungkin saat aku pulang, mereka sudah wisuda dan beberapa mungkin akan mengabdi di kampung halaman masing-masing. Semoga kalian semua sukses :’)

Pramugari langsung mengarahkan agar handphone dimatikan saat hendak masuk pesawat. Jadilah aku tak bisa meng-sms siapapun. Pocut di sampingku malah masih menelpon dan ia pun ditegur pramugari. Jujur saja, ini pengalaman pertamaku naik burung mesin ini. Apapun peralatannya terasa asing. Untung Pocut, teman seperjuanganku ke Jepang memberikan instruksi pemakaian. Ia sudah melalang-buana naik pesawat, jadi tak awam lagi baginya. Alhamdulillah walaupun sedikit pening saat pesawat tinggal landas, tapi itu tidak menghalangi proses berikutnya. Hingga saat pramugari menghidangkan beef noodle dan beberapa minuman, everything is ok.

Oia, aku duduk ditengah. Di samping kiriku ada Pocut, dan di samping kananku, seorang bule! Cowok lagi. OMG. Aku hanya menyunggingkan senyum saja. Selebihnya tak ada bahasa yang mengalun di antara kami. Disini saja aku enggan ngomong sama bule, gimana kalo disana?! Kuungkapkan kegelisahan ini pada Pocut, dan dia bilang, Tenang… disana bule’ semua, gak mungkin dong kita jadi bisu. Oia yaa..

Tiga jam kemudian, sampailah kami di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Langsung check-in penerbangan berikutnya ke Denpasar. Wah, di Jakarta aja, culture shock kitah! Aku berseru pada Pocut, dan dia hanya senyum saja. Ini memang pertama bagiku, jadi maklum saja. Aku melihat beberapa foreigner melihat kami dengan tatapan tanda tanya mungkin. Akan kain di atas kepala ini. Ah, abaikan!

Beberapa menit di waiting room, kami pergunakan untuk menelpon orangtua dan teman. Kemudian, terdengar pengumuman bahwa penumpang pesawat Garuda nomor sekian-sekian harus segera memasuki pesawat. Sambil menunggu antrian masuk, aku dan Pocut memanfaatkan momen ini untuk narsis sesaat. Di dalam pesawat kami sebangku dengan orang Indonesia. Tapi selang waktu 1,5 jam itu kami habiskan untuk menikmati hiburan movie di seat monitor. Sambil makan nasi plus steak dan dessert yang dihidangkan hingga ludes.

Dan tibalah kami di Bandara Ngurah Rai, Denpasar sekitar jam 10. Check in lagi untuk penerbangan selanjutnya ke Kansai International Airport (KIX) di Osaka. Sambil menunggu kami langsung menuju mushola untuk menjamak shalat magrib dan Isya. Kemudian di waiting room kembali mengontak keluarga masing-masing. Lagi-lagi orang melihat kami. Jadi agak risih. Ya Allah, masih di Indonesia saja penampakannya sudah begini, gumamku dalam hati. Agak heran, melihat beberapa wanita ras mongoloid berpakaian fashionable kayak artis korea. Rok mini, celana kaos ketat transparan, dengan baju menampakkan lekuk-lekuk tubuh. Ditambah tatapan agak sinis dan ketidakacuhan mereka, semua itu.. membuatku takut! Tiba-tiba aku rindu kampung halaman, hiks.

Perjalanan ke KIX menelan waktu sekitar 6 jam. Di sampingku ada 2 cewek Jepang! Ku sapa walau hanya dengan ‘sumimasen’ dan arigatou’. Peningkatan yang lumayan kan, hehe. Selebihnya menghabiskan waktu dengan menonton, makan snack, dan tidur. Pocut meminta pramugari Indonesia untuk membangunkan kami saat subuh tiba. Tapi karena mungkin dia lupa, jadi kami terbangun sendiri. Lalu tayamum dan shalat subuh di bangku pesawat. Waktu sarapan pun tiba, ada menu omelet natural, beef pastramilyonnaise potatoos and sauteed mushrooms. Blablabla.

Ah, akhirnya sampai juga di Kansai Airport. Ini serasa masih di alam mimpi. Baru tersadar saat Pocut ngajak foto di bagian exit pesawat. Bahwa aku pagi ini, sudah di Jepang! Alhamdulillah, luar biasa, Allahu Akbar!
**dedicated to my big family and my friends. Thanks for your goodness. I’ll be fine here. In Shaa Allah. 

1379751_10201241313747591_807535529_n

Oleh : Isratul Izzah
Sumber : http://isratulizzah.blogspot.com/2013/09/ah-akhirnya-tiba-juga-saatnya-aku.html

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here