Raising Sakura 3

Fukui daigaku lebih indah dari yang dibayangkan sebelumnya. Gedung-gedungnya luas dan tinggi. Namun beberapa pohon seperti ginkgo biloba, maple, pinus, dll tampak tumbuh rindang di sekeliling gedung. Nyaman sekali rasanya. Belum terlihat banyak mahasiswa karena hari itu masih summer holiday. Jam menunjukkan pukul 3 sore, kami harus segera ke kaikan karena kalau lewat jam 4, kaikan akan segera ditutup, dan kami harus menginap di tempat lain. Selisih waktu disini 2 jam lebih cepat dari Indonesia. Kami pun merasa bingung harus menuju gedung apa, karena semua nama gedung ditulis dalam bahasa kanji. Tiba-tiba dua orang mahasiswi Jepang menghampiri dan menyapa dengan ramah.

“Konnichiwa, nihonggo wa wakarimasu ka?” tanya salah seorang yang berkacamata. Rambutnya terurai melewati bahu. Aura baik terpancar di wajahnya.

“Aa.. wakarimasen. Sumimasen. Chotto, little”ucapku berusaha seramah mungkin. Saat bilang ‘chotto’ aku dan Pocut berseru hampir bersamaan.

“Aa.. Chika desu. Kore wa Mayu-san desu” ucap yang satunya lagi sambil menuju mahasiswi yang pertama.

“O, haik. Pocut desu”kami mulai memperkenalkan diri.

“Isra desu” lanjutku.

Dan ternyata mereka kurang bisa bahasa Inggris, sedangkan kami tidak bisa bahasa Jepang. Jadilah bahasa isyarat sebagai bahasa alternatif dan digital dictionary punya Mayu-san sebagai alat bantu penerjemah. Mereka kemudian mengajak kami ke kantor Student Internatinal Affairs untuk menemui Mr.Hayashi. Berjalan kaki kami menyusuri jalanan kampus yang lengang. Mereka seakan mengerti kami kelelahan menenteng barang-barang dan membantu membawakannya.

“Dochira desu ka?*” ucapku menanyakan sebelah mana kantor yang dituju.

“umm.. reft” kata Mayu-san menunjuk sebelah kiri. Kata ‘left’ dieja ‘reft’. Dalam bahasa Jepang tidak ada konsonan ‘L’.

“Um. Oke.oke”.

Sambil berjalan kami bicara beberapa patah kata. Setiap saat kami bilang tak mengerti apa yang mereka katakan, mereka berhenti dan berdiskusi sesaat, mungkin mencari kata dalam bahasa Inggris dan sekali-kali terlihat Mayu-San mengeluarkan digital dictionary dari tasnya.

Kampus Yang Rindang
Kampus Yang Rindang

Sesampai di kantor itu, kami sempat menunggu beberapa menit. Aku baru sadar, bahwa di sampingnya ada pohon maple! My second favorite tree! Aku akan kembali lagi nanti untuk berfoto-foto. Saat ini bukanlah waktu yang tepat. Tubuh lelah kami harus diistirahatkan dan disegarkan beberapa saat. Ternyata Mr. Hayashi tidak ada di kantor itu. Kami pun beralih ke ryuugakusei kaikan (asrama pelajar asing). Tiba disana, terlihat beberapa mahasiswa asing lainnya di meeting room. Tomima-san, ibu asrama menyapa kami dengan ramah. Ia memberitahu bahwa kami mendapatkan warisan barang-barang dari senpai (senior) sebelum kami, Yuliana Rachim. Ternyata, barang yang ditinggalkan lumayan banyak, jadi kami tak perlu terlalu menghabiskan uang untuk membeli yang baru. Alhamdulillah, arigatou gozaimasu, Yuri-senpai!

Suasana Kampus Yang Bikin Betah
Suasana Kampus Yang Bikin Betah

 

Tomima-san memberi kunci kamar dan kami langsung menuju kamar kami di lantai 2. Ah, akhirnya lepas juga bawaan berat ini. Dan saat aku masuk kamar, aku terperangah sesaat. Ini lebih bagus dari yang dibayangkan. Ada kulkas dan tempat penyimpanan barang di belakang pintu. Lalu ada kitchen set, dilengkapi lemari, rice cooker, kompor magnet listrik, dan wastafel. Ada kamar mandi dilengkapi shower, bathtub, jamban, wastafel, dan heater. Bagian agak ke dalam, ada 3 lemari, satu tempat tidur, AC, meja belajar, dan kabel internet untuk wifi-an. Di luar ada balkon, untuk menjemur pakaian. Air bisa langsung diminum dari kran. Awalnya sempat was-was, tapi setelah diminum ternyata tidak kenapa-napa. Ada mesin penghirup bau juga untuk dapur dan kamar mandi. Waa.. aku sangat bersyukur. Tapi yang masih bikin bingung dan ribet, sampahnya itu loh.. harus dipisahkan antara plastik, kertas, sampah basah, kaleng, dsb. Dan ada hari-hari tertentu untuk membuang per jenisnya. Huff. Let’s go green from now on!

Kaikan Yang Memadai
Kaikan Yang Memadai

Hanya sempat menaruh barang-barang, kami langsung kembali ke meeting room. Disana sudah ada Mr.Hayashi dan teman-teman foreigner lainnya. Kami menyapa mereka walau hanya dengan kata ‘konnichiwa’. Dan ternyata Chika-san adalah tutorku, sedangkan Mayu-san adalah tutor Pocut. Dua-duanya sama berhati baik. Chika-san selalu bersedia menjelaskan dengan hati-hati padaku agar aku paham. Mr.Hayashi lalu menjelaskan beberapa prosedur untuk pengambilan mata kuliah dan pembuatan KTP. Ternyata bahasa Inggrisnya lancar. Walaupun ada kata-kata yang harus kami cerna perlahan juga, karena beberapa kata yang ada huruf ‘L’ di ‘R’kan, seperti class jadi crass, clock jadi crock dan sebagainya. Ia juga berbicara dalam bahasa Jepang karena disitu yang tidak mengerti bahasa jepang hanya kami berdua. Beliau menegaskan bahwa kami akan dibiasakan untuk diperdengarkan dan bercakap bahasa Jepang. Waa, kebanyakan memang dijelaskan dalam bahasa Jepang. Kami yang dirundung kelelahan jadi terngantuk-ngantuk. Wakarimasen!

Akhirnya pertemuan selesai, dan tinggallah kami bersama Mayu-san dan Chika-san. Saat mengisi form, aku bilang tak punya pulpen. Chika-san memberikan pulpen sekaligus menghadiahkannya. Waa, belum apa-apa sudah dapat hadiah,hehe. Setelah itu mereka menemani kami untuk beli Inkan(stempel nama) di toko terdekat. Tak sadar, kaki Pocut dielus mulut si inu (anjing). Pocut kaget, kesal juga karena setelah ini dia harus menyamak celananya. Setelah dari toko itu, kami beranjak ke toko Ichizen Culsa, supermarket terdekat kaikan. Kami belanja beras, sayur, dan keperluan dapur lainnya. Atas permintaan kami, Chika-san dan Mayu-san dengan teliti memeriksa jikalau ada unsur babi dalam bahan makanan tertentu. Jadi kami dengan aman memilih yang halal. Setelah selesai pada sore menjelang malam itu, mereka mohon pamit. Kami akan bertemu lagi besok jam 9 di depan main gate Fukui Daigaku untuk menemui supervisor atau dosen wali kami yaitu profesor Tanaka Yoshifumi.

1239816_10201241385469384_745787590_n

Malamnya, kami menemui Ketua PPI (Persatuan Perantau Indonesia) di Jepang yaitu Pak Inyoman Sudiana dan senpai Into, mahasiswa dari Timor Leste. Ada Annisa, mahasiswi dari UI yang ikut program yang sama dengan kami. Kemudian kami berlima berjalan menyusuri Fukui daigaku menuju Restoran Jakarta Food di depan kampus. Pak Nyoman dan Bang Into yang membawa sepeda ikut juga jalan kaki bersama kami. Sesampai disana rupanya kami ditraktir PPI. Tapi sebagai gantinya kami harus jadi anggota PPI. Haha. Ada udang di balik bakwan rupanya. Dan Pak Nyoman itu baik sekali. Ia bercerita banyak dan menolong kami tak hanya sampai disitu. Senpai Into juga selalu setia menemani. Malam itu, perut kami sudah sangat lapar. Aku memesan ayam bakar plus nasi, sedangkan Pocut memesan nasi pecel-lele. Mbak Dewi, pemilik restoran yang juga anggota PPI melayani kami dengan sangat baik. Suaminya adalah orang Jepang. Anak laki-lakinya yang mirip Jepang sedang asyik main game di sudut ruangan. Setelah makan, kami diantar sampai ke kaikan. Alhamdulillah dapat kenalan baru lagi. Terimakasih PPI atas traktirannya.

Besoknya, kami ingat bahwa ada janji. Hampir saja telat. Aku dan Pocut berlari-lari hingga sampai gerbang. Aku mengerti sekali kalau orang Jepang sangat menghargai waktu dan membenci ketidakdisiplinan. Dari kaikan ke daigaku butuh waktu 10 menit jalan kaki. Di gerbang, Mayu-san sudah menunggu. Untungnya kami Cuma telat 1 menit. Chika-san menunggu di ruang laboratorium. Kantor Tanaka-sensei berada di Gedung Education Faculty, lantai 5. Kami harus naik lift untuk sampai disana. Melewati beberapa pintu otomatis, yang sesaat membuatku terpana. Tiba di lantai 5, Chika keluar dari ruangannya dan kami berempat menemui Tanaka-sensei. Beliau ramah sekali. Bahasa Inggrisnya juga bagus. Ia mengarahkan kami banyak hal, tak hanya seputar kampus, tapi juga hal-hal di luar kampus, seperti jalan-jalan, shopping, dsb. Beliau mengatakan bahwa tak perlu segan menghubunginya jika perlu bantuan. Bercakap-cakap dengannya yang juga menyinggung seputar Indonesia dan Aceh, sampai menunjuk-nunjuk peta di bagian monitor PC-nya. Beliau terlihat semangat saat kami menceritakan tentang Aceh, kondisi Aceh yang lebih panas, tragedi tsunami, dan lain-lain. Sebelum pamit kami menyerahkan omiyage berupa tas jinjing Aceh kepadanya, membuatnya tersenyum lebar. Ia senang tampaknya.

With Tanaka Sensei and both tutor. They are kind ^_^
With Tanaka Sensei and both tutor. They are kind ^_^

Setelah itu kami berempat melewati pohon maple dan berpose di bawahnya. Kami mengatakan bahwa colokan listrik Indonesia beda dengan punya Jepang, jadi kami tak bisa men-charge hp dan laptop. Mereka mengerti dan mengantar kami ke toko elektronik dengan mengendarai mobil Chika-san. Sesampai disana, kami mencari-cari colokan listrik yang pas, tapi tak juga ditemukan. Sampai harus bertanya pada ojisan petugas toko, namun nihil. Daripada tak ada satu pun yang berhasil dibeli, kami pun memutuskan untuk melihat-lihat harga hp. Maklum, hp dan kartu punya Indonesia tidak bisa dipakai disini. Hp harus dibeli sekalian dengan nomornya. Dan ternyata harga-harganya di luar jangkauan. Ada juga yang murah, tapi hanya bisa digunakan di Jepang. Setelah balik ke Indonesia, tidak bisa dipakai. Kami maunya yang bisa dipakai kemanapun, biar tidak rugi. Harga pulsa per bulan sekitar 6000 yen atau 600.000 rupiah. Wow.. kalikan saja 12 bulan sudah jadi berapa. Tapi itu sudah untuk semua keperluan, browsing, sms, telepon, blablabla. Ada handphone dengan harga sangat murah yaitu 1000 yen dan pulsa 5000 yen per bulan, tapi nanti tidak bisa dibawa pulang ke Indonesia. Aaa..kecewa! Kami baru ingat semalam Pak Nyoman pernah bilang kalau ada hp yang harganya 3 jutaan rupiah dengan pulsa 6000 yen per bulan dan bisa berlaku di Indonesia. Akhirnya kami tidak jadi beli di toko itu. Pesan yang sama Pak Nyoman saja.

Sweater merah: Mayu-san, Baju putih: Chika-san
Sweater merah: Mayu-san, Baju putih: Chika-san

Kami keluar dari toko itu dan mampir di toko kelontong. Belanja alat-alat rumah tangga. Chika-san dan Mayu-san tampak begitu setia. Tak ada tampak lelah di wajah mereka. Hanya senyum dan keramahan. Aaa. Mereka baik sekali! Di akhir perjumpaan hari itu kami menghadiahkan mereka gantungan kunci rumah Aceh ke masing-masing mereka.

Survey Kampus Bareng Tutor
Survey Kampus Bareng Tutor

“Waa.. kawai desu ne*. Arigatou” ucap mereka.

“Dou itashimashite.” And we were happy. Thank you for today Mayu-san and Chika-san ^_^

*kuliah akan dimulai sebentar lagi. Hari-hari berat akan datang. Doakan saya ya! (dengan gaya peserta Benteng Takeshi) 😀

Oleh : Isratul Izzah
Sumber : http://isratulizzah.blogspot.com/2013/10/raising-sakura-part-3.html

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here