Bersama Keishya

OLEH DONI DAROY 

Saat masih duduk di bangku SMP, sepertinya mataku buta dengan seluruh gadis-gadis di sekolah. Dia datang ibarat benteng yang berwujud segalanya saat itu. Paras cantiknya, senyumnya, suaranya, dan nomor telepon genggam yang berbuntut 09965, membuatku acuh dengan gadis lain yang datang begitu saja. Di sela-sela asmara, walau jarang berjumpa, berminggu-minggu lamanya hingga dia menyatakan bosan.

Di dunia, ada sesosok manusia dengan bentuk yang lebih indah daripada setangkai bunga. Dulu, aku kira mereka semua sama. Sampai aku berkenalan dengan ‘seorang’ teman dari pacar sahabatku. Seseorang yang memiliki bentuk oval mulai dari pangkal daun telinga hingga ke daun telinga sebelah satunya. Rona wajah yang tak pernah atau belum kutemukan pada sejenis mereka atau bidadari. Alhasil, aku pun mengatakan “Maukah kau menjadi pacarku?” hingga rona itu mampu menghasilkan dua kali lipat dari warna semula.

Indah. Kata tepat untuknya. Selama mengenal makna cinta, aku mendapati bahwa cinta pertama jauh berbeda. Aku mengatakan ini kepada semua teman. Aku bangga, entah kenapa, memiliki cinta pertama darinya. Perlu kusebutkan namanya? Aku rasa kamu hanya perlu tahu inisialnya saja. Atau barangkali huruf belakangnya saja. Dia cinta pertamaku dan kamu perlu usaha lebih untuk masuk ke dalam masa laluku. Baiklah. Karena rasa cinta itu hingga sekarang masih ada, sebut saja namanya Keishya.

Aku ingat, hari itu tepat siang hari. Aku mengetik sebuah pesan sms untuknya. Setiap kali, bahkan membuatku menghiraukan Guru bahasa Arab yang tengah mengajar di ruang kelas. Tapi, keadaan berubah memburuk hanya karena pesan-pesan yang membosankan, seperti sedang apa? sudah makan? atau pesan pertanyaan lainnya. Sampai bertahun lamanya, aku mengetahui bahwa dia menyuruh seseorang untuk membalaskan semua itu.

Dia memutuskan, aku mengikutinya. Perpisahan menjadi kesepakatan bersama tanpa kata-kata.

Waktu berlalu, hingga aku memiliki perasaan yang kusebut ‘petualangan cinta’ kepada perempuan lain. Aku bosan dan menyudahinya begitu saja. Dalam hati, aku tetap memikirkan dia. Aku gusar ingin kembali padanya. Sampai hari ini aku belum menemukan jawabannya, apa hanya karena rona wajahnya yang berlebihan. Ah, sudahlah.

Surat hati mulai mengirimkan bunga-bunga. Awan terbelah oleh sinar mentari yang ikut menembus masuk ke sela-sela daun cemara. Setiap tangkai telah telanjang ditinggalkan daun gugur, kini kelopak hijaunya kembali mekar menjadi sebuah harapan. Harapan kuat berupa gumpalan rasa. Hingga ia menyatu dan menjadi cinta yang lama bersemi kembali. Tatkala masa SMA. Aku pindah sekolah dari luar kota, kembali ke kota kelahiran dan masuk ke salah satu SMA di sana. Tanpa disangka-sangka, aku kembali bertemu dengannya.

Aku berjalan di lorong sekolah, atau kadang hanya diam berdiri di depan kelas. Dia ada di sana, tersenyum padaku. Seolah langit menutup diriku dan dia dengan selimut awan tebal, hingga tak terlihat oleh satu makhluk lain pun. Berlanjut ke sebuah obrolan kecil dengannya. Bisa dikatakan melepas rindu. Di saat itulah hipotesa negatifku tentang dirinya menang. Dia telah menjadi milik orang lain.

Mengetahui identitas pacarnya, aku ragu dengan diriku sendiri. Mampukah memberikannya sesuatu hal yang sama, apalagi sesuatu yang lebih membuatnya bahagia. Tambah lagi berurusan dengan Bu guru matematika, wali kelasnya yang begitu membenciku. Nada tinggi dan mata sebelah kirinya saat menilik catatanku. Apes. Tapi apa salahkah diriku mencoba serendah-rendahnya mengagumi rona wajahnya.

Hari-hari terasa biasa. Aku kembali berpetualang dengan rasa-rasa. Aku tidak tahu apakah itu cinta, aku rasa hanya sebuah kelebihan dari perhatian untuk menemukan titik kasih sayang. Itu saja. Aku menunggu dan terus menunggu hingga mendapati mereka tengah bersama. Apa yang selanjutnya ada dalam pikiranku tak pantas untuk dipikirkan.

Hari berlalu seperti sebelumnya…

“Apa kabar Doni?” Isi pesan sms datang darinya. Kabar berikutnya berbelok dengan apa yang kutulis di paragraf sebelumnya. Tapi hal ini membuatku antara senang dan tertantang. Aku hanya seorang anak biasa, sedangkan mantan pacarnya yang masih segar itu adalah sesuatu. Seperti yang dinyanyikan syahrini.

Sepulang sekolah, hari-hari dimana aku telah semakin akrab dengannya. Melihatnya sedang menunggu jemputan, kuyakin akan lebih menarik bila kuantarnya pulang. Walaupun kata menarik itu memiliki tambahan ‘sekali’ sampai mengandung makna superlatif, tapi aku melewatinya begitu saja. Setelah itu, kuputuskan memutar stir mobil kembali ke arah yang sama. Aku pun mulai menghitung keputusan antara ‘antar pulang’ atau ‘tidak jadi’. Pada akhirnya keputusan akhir jatuh pada ‘antar pulang’, pertama kalinya dan ber-ulang kali hingga 30 hari ke depan. Saat itu Band Yellow Card dengan lagunya Only One menjadi soundtrack perjalanan pulang. Liriknya yang belum kuhafal membuatku seketika men-dungu kala dia meminta untuk menyanyikan lagu itu, untuknya. Huff, kuhela nafas begitu saja.

Saat aku melihat jerawat yang mekar di kedua pipi beronanya. Sepulang dari pantai di pinggir barat kota kelahiran, tepat di depan rumahnya, aku mencoba memberikan kecupan. Apa kamu tau bagaimana rasanya? Hambar. Tidak ada rasa yang luar biasa. Sebuah kecupan rasa hambar itu sama sekali tidak asik. Mungkin ini hanya terasa bagiku, tapi hal itu membuatku kembali bosan dan menyimpan kembali rasa cintaku. Di saat itulah timbul kekeliruann cinta pertama. Bila tidak dijaga antara iman dan cinta, maka akan berbuah buruk sangka. Mungkin hal itu terjadi sebelum umurku memiliki angka sebanyak 2 lusin.

Hal seperti dulu terulang lagi. Aku kembali menemui kenyataan yang sedikit pahit saat itu. Aku diputuskan olehnya dengan alasan kurang memberikannya perhatian. Selanjutnya dia pun kembali bersama mantannya.

Saat masa-masa Kampus, aku dihadapkan dengan hari-hari biasa. Aku memiliki pacar yang akhirnya bertahan lama. Teman kuliahku saat itu. Sampai dua tahun hingga aku menyelesaikan perkuliahanku. Aku merasa dia wanita yang tepat menjadi pedamping hidup laki-laki manapun. Aku mengawali peristiwa indah dan menjalani langkah menawan bersamanya. Saat ia dalam duka, aku menemaninya. Saat aku bahagia, dia pun memberikan hadiah kecupan untukku. Mantan pacar yang sejatinya melewati masa-masa bersama tatkala sebuah rasa menjadi secarik lembaran putih.

Di masa perujung semester akhir, aku mencoba untuk tidak munafik. Aku kembali mengingat dia, cinta pertamaku. Beberapa kali social media menunjukkan status kegiatannya di kota seberang. Dan saat kudengar cerita tentangnya. Temanku bilang dia telah sedikit berubah. Mencoba realistis dengan kasus itu, aku tetap saja membelanya dalam hati.

Sudah beberapa tahun lamanya, tidak tampak wajah oval dan rona wajah cinta pertama. Hingga kuputuskan untuk pergi hijrah ke luar kota setelah kuliahku selesai. Aku mencoba untuk melupakan pertualangan dan segala perasaan yang berarti. Benar saja, kota baru perantauan menciptakan suasana yang lebih baik. Bagi hati, lingkungan, dan aktifitas yang menurutku lebih bersahabat dan menawan.

Sampai tibalah waktunya kembali ke kota kelahiran, pada momen hari raya. Sudah beberapa bulan tidak jumpa teman dan keluarga. Sepulang dari kota perantauan, aku rindu dengan semuanya. Aku ingin terjebak di tiap sudut masa lalu yang indah. Itu saja.

Sebuah warung kopi megah berada di jalan baru dan sepertinya ramai. Aku dan teman-teman berjanji untuk berkumpul di sana. Dengan mata lihaiku, aku melihat jajaran generasi baru yang kurasa seusia dengan adik perempuanku. Ah, sepertinya ‘rasa petualangku’ akan pensiun saat itu juga. Aku menyudahi bergeriliya mata dan sekejap mendengar panggilan dari waktu maghrib. Aku permisi sejenak dari teman-teman dan berjalan menuju belakang warung yang berkonsep melayu itu.

Saat hampir sampai ke bagian tangga menuju mushola di lantai 2, aku menoleh ke arah jam 9 (Sembilan). Tiba-tiba sesuatu membuat bibir kaku dan tingkahku sekejap menyerupai seekor pinguin yang sedang kehilangan kelompoknya. Aku melihat dia. Benar, itu dia tengah duduk di sana, dengan rona merah dua kali lipat dari semula. Dengan sorot matanya yang menangkapku, dia mengucapkan dua patah kata, “Hai Don”. Secara serentak namun tak mampu terucap, ingin kubalas ucapan itu dengan Oh hai oke,.. Hai. Sip. Mau sholat nih. Eh apa kabar kamu? Huff, aku diam tanpa kata.

Emosiku meronta-ronta dan seolah kebuasan rasionalitas cintaku pergi dari sarangnya. Aku mengambil langkah menuju musala, berharap dia mengerti aku lebih memilih mengacuhkannya demi kebaikan bersama. Tapi apa yang terjadi setelah itu? Perasaan ini membelah wujudnya dalam bentuk-bentuk serupa puzzzle. Berantakan. Hati ini seketika senyap. Aku mencoba menyesuaikan tiap-tiap bagian perasaan itu hingga kini, tanpa bosan.

Tentang bahtera lama yang karam dihapit gelombang,

Jauh di pulau, aku memandangi raut angan,

Semu. jejak lekang seiring ratap di belakang,

Benar atau tidak, kita pernah mengikat gemuruh rindu,

Bila esok harus menyapa, semoga itu bukan berupa bisa,

Sudahlah! Biarkan waktu mengajariku untuk menikmati cinta pertama, 

 

**Penulis merupakan anggota FLP Aceh yang sekarang berdomisili di Bandung.

 

Redaksi: Kirim naskah terbaik Anda ke email redaksi, dan jangan lupa mencantumkan biodata singkat. 

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here