FLP Aceh, Tempat Kami Belajar Menulis Membaca

rinal sahputra 1

Rinal Sahputra, Ketua FLP wilayah Aceh keenam berbagi cerita saat memimpin FLP Aceh periode 2008-2010

 

Ketika dihubungi tim redaksi FLP Aceh.Net untuk menuliskan catatan singkat tentang apa saja yang kurasakan saat dulu menjadi ketua FLP Aceh, aku mendadak teringat wajah-wajah lama yang dulu hampir saban hari bertemu; berdiskusi tentang cerpen yang sudah kami tulis tapi belum juga berhasil dimuat di media, membahas kegiatan-kegiatan internal FLP, buka puasa bersama atau hanya sekedar rujakan di sekretariat FLP ketika musim mangga dan jambu tiba. Ada Kak Mardiana Hasan yang ketulusannya sungguh luar biasa. Kak Mar mengijinkan hampir separuh rumahnya sebagai ruang sekretariat FLP yang juga menjadi pusat kegiatan Rumah Cahaya mulai tahun 2005-2011.

Kemudian ada Ferhat, ketua FLP Aceh periode sebelumku yang dengan sabar mengajariku tentang bagaimana mengatur dan mengurus organisasi sebesar FLP. Hari-hari melelahkan ketika aku dan Ferhat harus bolak-balik mengurus pencairan dana hibah dari pemerintah untuk keberlangsungan FLP.

Lalu ada Alimuddin, salah satu personil FLP yang seolah menjadi senior kesayangan bagi anggota FLP yang lain. Tulisannya yang paling sering dimuat dan kerap memenangkan lomba kepenulisan selalu menginspirasi kawan-kawan yang lain untuk tetap bersemangat menulis dan mengirimkan tulisan mereka ke media. Ada Eqi yang kehadirannya selalu membawa keceriaan. Eqi juga selalu bersemangat membagi pengetahuannya terkait tehnik kepenulisan dengan anak-anak baru. Ada Riza Rahmi yang semasaku menjabat sekretaris, ia yang membantu penuh disaat jadwal koasku padat.

Juga ada Nelly, yang goresan puisinya tentang rumah cahaya akan selalu terpampang nyata pada setiap slide yang bercerita tentang FLP Aceh. Ketelatenannya dalam mengurusi perpustakaan FLP sangat mengagumkan. Kecintaannya pada FLP benar-benar dia tunjukkan melalui kerja nyata, bukan hanya lewat kata-kata. Lalu ada Sri, Ubay yang selalu sigap dan cekatan membantu setiap kegiatan yang diadakan oleh FLP meskipun terkadang harus mengorbankan jadwal kuliah mereka. Tak lupa juga Kak Mala yang selalu setia mengikuti apa pun kegiatan yang dilakukan di FLP. Bahkan Kak Mala memiliki peran yang sangat penting ketika FLP Aceh berhasil menjalin kerja sama dengan TDMRC dalam proyek pembuatan buku catatan para korban tsunami di Aceh.

Ada juga Liza dan Ade; pendiri sekaligus penanggung jawab dari buletin D’Zero yang memiliki kreatifitas luar biasa. Walaupun akhirnya harus gulung tikar, sebab minim dana. Selain itu, kehadiran beberapa wajah baru yang kemudian menjadi figur-figur penting FLP Aceh di kepengurusan berikutnya; seperti Robi, Nuril, dan Kak Bebby semakin menyemarakkan agenda bedah karya yang rutin diadakan.

Aku sempat tidak percaya ketika dinyatakan terpilih sebagai ketua FLP Aceh saat muswil 2008, karena merasa masih sangat “hijau” di FLP. Meskipun sudah memiliki banyak pengalaman dalam berorganisasi sebelumnya, diamanahkan untuk memimpin FLP sempat membuatku takut.

Alhamdulillah aku dikelilingi oleh orang-orang yang luar biasa sehingga setiap kesulitan yang kuhadapi selama menjadi ketua selalu teratasi. Aku masih ingat tahun 2009,  euphoria ketika dana hibah pemerintah berhasil dicairkan. Dana itu digunakan selain menyewa sekret, juga menjadi modal besar berdirinya penerbit indie FLP Aceh, Kamoe Publishing House (KPH). Tak lama berselang, kumpulan cerpen Rumah Matahari Terbit yang berisi cerpen-cerpen terbaik para anggota FLP Aceh, mulai dari cerpennya Kak Himmah Trimikoara hingga cerpennya Nuril pun berhasil diterbitkan dan didistribusikan ke setiap toko buku yang ada di Banda Aceh. Aku bahkan pernah melihat kumcer tersebut dijual di toko buku yang ada di Lhokseumawe dan Meulaboh. Aku juga masih mengingat hebohnya acara outbond yang kami adakan di pinggiran laut, Krueng Raya atau meriahnya acara pengumuman lomba kepenulisan tingkat remaja se-Aceh yang rutin setiap tahun diselenggarakan oleh FLP.

FLP Aceh memberiku banyak kenangan; di mana pada setiap momen kebersamaan selalu menghadirkan kebahagiaan. Namun tak jarang, ketika duka bertandang, rasanya begitu memilukan. Musibah kecelakaan yang dialami oleh Nurkhalis, anggota FLP,  pada tahun 2010 menjadi momen yang sangat menyedihkan. Khalis kecelakaan hingga sepertiga kakinya diamputasi. Aku sempat bertemu beberapa kali setelah Khalis keluar dari rumah sakit. Sungguh luar biasa, dia masih sama seperti sosok yang kukenal sebelumnya; sosok dengan pribadi yang semangat dan ceria.

Keakraban dan kekeluargaan yang mengikat kami benar-benar terjalin melalui ikatan hati. Kami yang sama-sama memiliki kecintaan pada dunia menulis dan membaca sama-sama berteduh di bawah atap FLP. Atap yang menjadi saksi tercapainya impian dan cita-cita. Keberhasilan yang menurutku tidak terlepas dari pengetahuan ‘menulis dan membaca’ yang pernah mereka dapatkan selama di FLP. Ada Lilies yang memperoleh beasiswa pertukaran pemuda ke Amerika Serikat dan menyelesaikan S2-nya di Australia. Cut Intan Meutia yang melanjutkan studi S2 di Amerika. Juga ada Nelly yang mendapatkan beasiswa untuk kuliah di salah satu universitas di Cina. Lalu ada Eqi yang saat ini sedang melanjutkan kuliah S-2 di Thailand.

Tak jarang orang-orang yang tidak paham berujar, untuk apa bergabung dengan FLP jika pada akhirnya tidak pernah menjadi penulis yang tulisan-tulisannya akan dimuat di berbagai media. Lantas kenapa jika tidak menjadi penulis? Apakah hari-hari yang kita lewati di FLP menjadi tidak berarti sama sekali?

Aku sendiri bahkan belum pernah mempublikasikan novel atau pun buku sekian judul. Tapi aku tidak pernah merasa rugi menjadi bagian dari FLP Aceh karena di sinilah aku menemukan keluarga baru. Keluarga yang tak pernah berhenti mengajari kami pentingnya menulis dan membaca.

Terima kasih FLP Aceh dan jayalah selalu!!

 

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

2 KOMENTAR

  1. “Aku sendiri bahkan belum pernah mempublikasikan novel atau pun buku sekian judul. Tapi aku tidak pernah merasa rugi menjadi bagian dari FLP Aceh karena di sinilah aku menemukan keluarga baru. Keluarga yang tak pernah berhenti mengajari kami pentingnya menulis dan membaca.”

    Serasa sedang bercermin saya, Nal.

    * tampar-tampar pipi sendiri (pelan-pelan, biar ga sakit), semangaaaaat baru 8 naskah novel yang ditolak. Baru boleh nyerah setelah minimal 100 yg ditolak. 😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here