Jalan Panjang Bersama FLP

EKI

Fardelyn Hacky, ketua FLP wilayah Aceh keempat yang memimpin organisasi kepenulisan ini. Berbagi kisah saat ia bergabung hingga terpilih menjadi ketua FLP wilayah Aceh periode 2005-2006

Forum Lingkar Pena wilayah Aceh (FLP Aceh) berdiri 13 tahun lalu, dengan ketua pertamanya bernama Nora Folina. Nora Folina bersama Cut Januarita, Almarhumah Diana Roswita, Almarhumah Meutia Meida, dan banyak rekan-rekan mereka lainya yang tak bisa saya sebutkan satu persatu, membangun FLP dari nol, dari tak punya apa-apa selain semangat.

FLP adalah hadiah Allah untuk Indonesia, begitu kata penyair Taufik Ismail.Dengan jumlah pengurus dan anggota terbanyak dengan cabang di daerah serta di luar negeri, kini FLP semakin dikenal banyak sebagai pabrik penulis di Indonesia.Berbagai karakter pun terhimpun di sini.

Februari lalu, Forum Lingkar Pena sedunia memasuki usia 17 tahun dan bulan ini, di 11 Maret, FLP Aceh juga merayakan ulang tahun ke-13.

 

Berpindah-pindah

Salah satu ciri khas orgnaisasi FLP awalnya dulu adalah: tak punya sebuah tempat yang layak untuk berkumpul. Dari masjid ke masjid, dari rumah seorang pengurus ke rumah pengurus lainnya, begitulah pergerakan FLP pada awalnya.Dan ini terjadi tak hanya di Aceh saja, bahkan di banyak wilayah.

Kadang saya suka iri melihat rekan-rekan penulis dengan sebuah tempat yang mewadahi mereka berkumpul; tempat yang besar, buku yang banyak dan bagus, mampu membuat sekolah menulis setiap tahun dengan mengundang pemateri-pemeteri dari pulau Jawa bahkan penulis dari luar negeri. Tapi saya pikir, inilah FLP dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

 

Forum Lingkar Perempuan

Sejak awal, hal ini sudah terlihat.Sewaktu kepengurusan Nora Folina hingga kepengurusan Cut Intan Meutia, yang laki-laki jumlahnya tak sampai bilangin jari dua tangan.Entah mereka sungkan, entah mereka malu, entah memang jumlah mereka sedikit.Hingga setiap kali duduk di forum resmi dan tidak resmi, mereka yang tidak sungkan dan tidak malu ini, harus duduk di lingkaran yang berbeda.Hingga, entah siapa yang duluan memopulerkannya, tiba-tiba saja, Forum Lingkar Pena berubah menjadi Forum Lingkar Perempuan.

 

Saya dan Forum Lingkar Pena

FLP adalah organisasi pertama yang saya ikuti dengan serius dan saya ikut ‘tercelup’ ke dalamnya.Pada dasarnya saya memang kurang suka berorganisasi, apalagi untuk organisasi luar sekolah atau kampus.Entah karena belum ada organisasi yang cocok buat saya, entah karena faktor saya yang malas. Saya lebih suka berdiam diri dalam kamar, menghabiskan hari dengan membaca novel, komik, atau buku apa saja yang saya. Meski saya termasuk pelajar berprestasi, tapi saya seseorang yang sangat tidak percaya diri. Saya suka grogi dan ujung-ujungnya gemetaran jika harus berdiri dan berbicara di depan umum.

Sampai akhirnya saya bergabung dengan Forum Lingkar Pena.Saya langsung suka dengan organisasi ini.Mungkin karena di sinilah saya bisa menyalurkan kegilaan membaca yang kemudian berkembang ke kegiatan baca-tulis.Setelah membaca lalu menulis.Buku yang paling saya kenang seumur hidup saya adalah buku ‘Mengikat Makna’ karangan ‘Hernowo’.Buku ini sangat berarti dalam mengubah hidup saya.

Saya beruntung diberi kesempatan bertemu dengan orang-orang di FLP.  Saya mendapat banyak ilmu yang tak hanya ilmu menulis. Saya mendapat pencerahan tentang kebaikan, persahabatan, dan sebuah ikatan kekeluargaan yang tak saya dapatkan di tempat lain. Satu hal yang kemudian saya syukuri, saya memutuskan memakai jilbab dari yang sebelumnya tak berjilbab sama sekali, hehe…

Oktober 2005, ketua FLP saat itu, Cut Intan Meutia, harus berhenti dari jabatannya sebagai ketua umum FLP Wilayah Aceh. Beliau akan ke Amerika, melanjutkan studi master di sana. Setelah melalui keputusan bersama, maka diputuskan untuk memilih penerus kepemimpinan Cut Intan Meutiayang tinggal setahun lagi, sebelum memilih ketua baru di periode selanjutnya.Entah karena tak ada yang lain yang bersedia dicalonkan jadi ketua penerus, maka dipilihlah saya. Adalah sebuah fenomena di FLP Aceh, setiap kali ada pemilihan ketua, tak pernah ada yang mencalonkan diri seperti layaknya pemilu. Jika ada yang terpilih, selalu ada penolakan beserta alasan manis untuk menolak. Ya, kita di sini tidak pernah memperebutkan ‘kursi panas’ ini.

Selama kurun waktu yang tidak begitu lama menjadi ketua penerus, saya belajar banyak hal.Mengelola organisasi besar dengan anggota yang minim.Membuat program yang besar, juga dengan anggota yang minim.Berbuat semaksimal mungkin dengan kekuatan yang minim.Apalagi saat itu, FLP mendapat banyak amanah; bantuan dari berbagai daerah bahkan luar negeri dan ‘surat perintah’ dari pusat untuk mendirikan Taman Bacaan Rumah Cahaya.‘Perintah’ ini sesungguhnya sudah dilaksanakan oleh ketua sebelumnya, Cut Intan Meutia, namun kami tetap melanjutkan apa-apa yang sebelumnya belum sempurna.Kerja ini sesungguhnya kerja estafet.Kerja ini sesungguhnya kerja kelompok. Bukan atas nama pribadi. Tanpa menafikkan keberadaan teman-teman perempuan yang bersama-sama di FLP waktu itu, saya ingin berterima kasih kepada para lelaki tangguh yang kemudian menjadi ‘bodyguard’ saya; Ferhat, Alimuddin, Bai Ruindra, Muhammad Arief. Jika lelaki lain enggan bertahan karena mungkin malas berurusan dengan jumlah perempuan yang dominan, namun mereka selalu bersama saya.

Seiring waktu, kepercayaan diri saya semakin meningkat.Saya mulai berani berbicara di depan umum, sejak seringnya memimpin rapat-rapat kecil. Berlanjut ketika saya dan teman-teman pergi ke daerah, atau ke luar provinsi untuk kegiatan FLP yang lebih besar lagi.

***

FLP Aceh sebagai salah satu FLP Wilayah yang ada di Indonesia
Telah membuktikan bahwa dirinya mampu berkarya, berbakti dan berarti…

Berjuang melalui pena

Memberi dengan cinta

Tiga belas tahun memang belum berarti apa-apa

Masih panjang jalan kita

Menapaki jalan dengan berkarya

***

Alhamdulillah, FLP adalah anugerah Tuhan untuk saya, untuk Indonesia, untuk Aceh, dan semoga juga untuk penulis dan calon-calon penulis di Aceh yang sedang bertunas, yang sedang tumbuh, yang sedang berkembang, maupun yang sedang mekar ibarat bunga-bunga di musim semi.

Selamat milad FLP Aceh!

 

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

3 KOMENTAR

  1. Saya sangat senang bisa kenal dengan perempuan-perempuan hebat di sini. Walau tidak banyak yg sempat kita lakukan ttp masa Eki termasuk salah satu kejayaan FLP bagi saya pribadi. Kegiatan sekaliber nasional dgn penulis hebat yg sdh menulis puluhan buku kita hadirkan ke Aceh. Masa ini pula Rumcay jd tempat istimewa utk anggota FLP. Mulai dri buku catatan harian smp rujak dan jambu depan Rumcay jd teman setia kita membedah karya teman-teman.
    Terima kasih Eki!

  2. Memang kalau bicara tentang para lelaki diantara perempuan-perempuan tangguh FLP, tak bisa tidak, empat sekawan ini adalah kumbang yg paling setia menjaga bunga (aih mak, bahasanya ). Saya termasuk jarang hadir. Interaksi dengan FLP, membuat dunia menulis jadi sangat menarik, padahal sebelumnya telah menjadi reporter untuk UNESCO Radio Network, kebetulan juga bagian dari jaringan Radio Deutsche Welle dan Radio Nederland.

    Tapi sejak bergabung di FLP menulis jadi jauh lebih menarik, menghantarkan saya sebagai freelancer/kontributor di beberapa majalah nasional saat itu. Akibatnya malah jarang bisa hadir ke FLP.

    Salah satu kenangan indah, adalah Buku Curhat, buku yang iseng2 saya hadirkan ke FLP, malah jadi tempat saya saat sesekalii datang, mengetahui perkembangan FLP, melalui tulisan yg ditinggalkan disitu. Saat itu blog belum seaktif sekarang. Dan buku itu paling sering diculik oleh 4 sekawan Ali, Arif, Ferhat dan Ubay. Bisa penuh sepuluh haaman sekali diculik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here