Mendefinisikanmu dengan Sederhana: Setia

KAK NURIL

 

Sekarang giliran Nuril Annissa, yang saat ini menjabat sebagai ketua FLP wilayah Aceh, bercerita tentang pengabdian dan prosesnya mengenal komunitas penulis ini. Nuril didampuk menahkodai FLP Aceh hingga masa bakti pertengahan tahun 2014. Selamat membaca!

2005
Di Jakarta, sekian hari sebelum berangkat ke Melbourne, Australia. Untuk pertama kalinya aku melihat namamu di rak fiksi Islami di toko buku Gramedia.

“Nuril, yuk, kita ga bisa lama di sini.”

Tanpa pikir panjang, aku meraihmu. Menebusmu dengan sisa-sisa rupiah yang ada di kantongku.

—————————————————————

2007
Aku sudah benar-benar penasaran tentangmu. Tapi Aceh saat itu sedang sekian ribu mil dari posisiku. Maka kulayari samudera maya. Kutemukan beberapa nama yang bisa menceritakan tentangmu.

“Pulanglah. Akan kutunjukkan.”

“Nanti, kalau pulang, cari ya.”

“Sepulang dari Australia, kamu harus bertemu dengannya ya.”

Dan tak butuh waktu lama hingga akhirnya aku kembali tiba di Nanggroe tanah tempat aku dilahirkan.

“Nuril ya? Datang ya. Ahad. Jam 10.”

Dan dada siapa tak berdebar, mendapat kabar dari yang paling dipenasarani selama ini.

—————————————————————

2008
Tak butuh lama hingga aku menjadi bagian dari dirimu. Menemuimu setiap akhir minggu, atau bahkan di tengah-tengah hari kerja. Sederhana, sebab rindu.

Lalu pena mulai menari. Di atas lantai yang berkarpetkan aksara. Dengan irama paling soneta. Diam-diam menyelundupi sudut paling kanan dan kiri hati. Duduk di situ mengendap; nada yang menyimpan rasa setia.

Dan saat itu, aku memutuskan aku jatuh cinta.

—————————————————————

2010
Sudah dua tahun aku benar-benar di sisimu. Menjadi peti bagi harta kekayaanmu; cinta. Dalam hujan. Dalam keterpurukan. Anehnya, aku tidak pernah mencoba lari. Walau lebih sering tinggal sendiri.

Dan pena kini tak sekedar menari. Ia mulai mencuri sepatu di kamar belakang, berlari ke banyak tempat.

Tiba-tiba saja aku sudah di Pontianak.

Aku ingat waktu itu, kau bangga sekali saat aku dengan gemetar utuhku maju ke panggung di sela para penyair nusantara yang berpakaian sekedarnya. Kucoba sembunyikan gugup dengan memperbaiki letak kerudung dan pinggang rok, tapi tetap saja tanganku guncang ketika menerima piala.

Juara satu. Dan itu spesial. Untukmu. Sebabmu.

—————————————————————

2012
Entah. Kata orang, hidup itu tidak rata. Seperti perhatianku padamu yang mulai menggelembung oleh kesibukan yang mendera-dera.

Aku mulai menuduhmu tak peduli.

Aku menudingmu dengan ucapan, “Kau tak lagi ada untuk menghiburku!”

Aku mulai jadi orang lain. Tak kenal denganmu. Menjauh. Butuh waktu untuk mencerna. Tentang karat khianat yang mulai memakan besi-besi kepercayaan.

Tapi ini cinta yang sedang kita bicarakan. Ia adalah isi, bukan bungkus. Ia adalah tugu yang tetap tegak meski diterjang Tsunami ragu. Ia adalah tato yang sulit dihilangkan kecuali dengan menyakiti diri.

Maka tak lama. Aku mengaku salah. Aku masih saja cinta.

Pada akhirnya, aku kembali lagi padamu.

—————————————————————

2014
Ternyata hidup memang tak akan pernah melonggar. Ia adalah karet yang bisa diikat berkali-kali putaran yang hanya akan putus oleh kiamat.

Maka kini, aku kembali hilang dalam gelombang kesibukan. Meraih-raih Oksigen selagi sempat naik ke permukaan. Mencoba tetap memegang buhul yang berdampingan denganmu. Aku masih ada. Nafasku juga.

Tapi aku masih saja kelu jika ditanya sudah beri apa untukmu. Sudah membuktikan apa bagimu. Sudah menjadi panutan rindu ataukah belum.

Jangan pernah tinggalkan aku. Meski penaku mulai tumpul ujungnya. Meski lantai berkarpetkan aksaraku mulai sobek-sobek. Atau irama mulai kurang sonetanya.

Sebab ini lebih dari sekedar kita berdua. Ini tentang cahaya. Dunia yang berpendar dengan pelita. Api-api yang menyalakan lilin bagi mata-mata yang kehausan sinar.

Meski aku tak lagi bisa juara. Atau mulai lumpuh urusan merajut kata. Aku tetap akan ada. Menopangmu dengan sisa bahu yang kupunya. Mendefinisikanmu dengan istilah paling sederhana; setia.

—————————————————————

11 Maret 2014.
Ketika kau berusia 13 tahun.

2007 : Saat saya pertama kali menemukan FLP wilayah Aceh di buku “Bintang di Langit Baiturrahman” di toko buku Gramedia.

2008 : Saat saya pertama kalinya menjadi pengurus FLP wilayah Aceh, menjadi bendahara umum periode 2008-2010.

2010 : Saat saya ditunjuk jadi Wakil Direktur Kamoe Publishing House, lini penerbitan khusus di bawah FLP wilayah Aceh, periode 2010-2012. Di tahun yang bersamaan, saya mendapat juara Terbaik I di Pekan Seni Mahasiswa Nasional X di Pontianak kategori penulisan cerita pendek. Gaya menulis saya tentu saja tidak lepas dari interaksi saya yang sedang intens-intensnya dengan FLP dan teman-teman yang tergabung di dalamnya.

2012 : Saat saya mulai lebih sibuk di organisasi kampus (BEM FK Unsyiah, lalu Pemerintah Mahasiswa Unsyiah) dan mulai “jauh” sejenak dengan FLP wilayah Aceh. Prestasi menulis saya berhenti di awal tahun ini, Juara III penulisan cerita pendek dalam Bahasa Aceh. Sejak saat itu hingga sekarang, sebab saya mulai fokus skripsi, lalu kepaniteraan klinik (baca: “koass”), saya tidak lagi intens menulis (fiksi maupun non fiksi) seperti di “masa-masa kejayaan” saya tahun 2008-2010 dulu lagi. Meski tentu sesekali, menggunakan medio dunia maya (blog, status FB, twit, dsb) saya masih sesekali “mengasah pena” sekedar agar tidak lupa bagaimana memilih diksi atau memadan kata.

2014 : Bencana. Sebab saya ditunjuk jadi Ketua FLP wilayah Aceh 2013-2014, itu setelah dua ketua sebelumnya dari 2012 hijrah ke luar Aceh sebab kepentingan pekerjaan. Ditunjuk di tengah masa pemerintahan yang “gantung”, juga di tengah per-koass-an yang super sibuk, saya tak begitu merasa beban. Meski memang butuh energi ekstra (seperti sekarang, saya sengaja mampir ke rumah kawan dulu agar bisa menulis agak panjang. Kalau saya pulang langsung, saya pasti akan tertidur karena kelelahan setelah seharian di rumah sakit), saya akan coba sebisa mungkin untuk menyelesaikan PR-PR yang ada.

Yang paling membebani adalah bahwa karya saya tidak lagi sebanyak dulu. Bahwa saya harus melecuti diri sendiri agar kembali menulis. Kalau perlu bukan lagi antologi keroyokan dengan orang lain. Tapi buku solo. Dan meski belum bisa sekarang, saya tetap tak akan lari dari jabatan saya sekarang. Sebab paling tidak, meski belum bisa jadi panutan paling mutakhir dalam hal kepenulisan, paling tidak saya tetap di sini sebab satu alasan; tak mau meninggalkan FLP wilayah Aceh selama saya masih ada di sekitar sini. Dan jika pun inspirasi tak muncul dari tangan saya, biarlah ia hadir dari teman-teman FLP wilayah Aceh lainnya. Itu pun sudah lebih dari membahagiakan. Sebab intinya satu; setia. Dan apa lagi yang lebih indah dari cinta yang sudah teruji oleh berbagai ketidakrataan hidup? Semoga kini dan selamanya. Amin. 🙂

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

3 KOMENTAR

  1. Ini catatan harian yang indah. Namun bagi yang menuliskannya tentunya punya sejuta makna yang jauh lebih indah lagi. Lebih dari menonton video napak tilas di jejaring sosial yang sempat populer beberapa waktu silam. (termotivasi ikut bergabung dengan FLP)

  2. Sekian banyak saya membaca berbagai cara mengunggapkan cinta pada komunitas kepenulisan ini. Saya akui kadang saya berbeda pandangan dengan Nuril Annisa. Tapi saya belum menemukan ekpresi cinta sebagus ‘catatan perjalanan’ Nuril ini.

    Dengan sedikit berpuitis ria, saya ingin menuliskan begini…
    “Izinkan saya merasa iri, karena tidak bisa mengungkapkan cinta dan bangga pada komunitas ini dengan cara seindah ini.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here