Misteri Braile

Oleh: Annida

Hujan…” ujarku dalam hati. Aku melanjutkan langkah mencari tempat berteduh.

“Hujan memang segalanya …” ujarku lagi.

Aku duduk di halte bus, seraya memandang langit berisi titik air murni yang menyisakan embun sesudahnya. Sepertinya, aku lupa membawa jas hujan. Huh! Setelah ini, apa yang Mama katakan padaku?

Saat aku menoleh, aku melihat seorang remaja perempuan di sebelahku sedang menatap sendu ke arah hujan. Aku terus menatapnya. Dia tidak menyadari kalau air matanya telah jatuh dengan begitu saja. Rasa penasaranku memuncak ingin bertanya apa yan terjadi.

“Kenapa?” tanyaku akhirnya. Ia menatapku, kemudian terdiam cukup lama.

“Aku rindu ibuku,” ujarnya pelan, namun masih mampu kudengar.

“Ada apa dengan ibumu?” Sepertinya, pertanyaanku membuatnya meneteskan air mata.

“Beliau meninggal ketika menaiki sepeda dan mengalami tabrak lari dengan mobil hitam. Itu terjadi saat hujan deras. Aku menyaksikan sendiri. Saat itu, aku berdiri menunggu ibu menjemputku sepulang sekolah, dan… aku pun merasa putus asa. Jadi, kuputuskan untuk bu…” Perempuan itu  terisak. Aku menyuruhnya untuk berhenti bicara. Tatapan dan kepalaku menunduk. Sepertinya, itu membuatnya menangis. Mungkin, ia merindukan masa lalu.

“Namamu Braile, kan?” tanyaku ketika melihat kartu nama di baju seragam perempuan itu. Tertulis: Braile Stamford.

“Ya.” Jawabnya singkat, padat, dan jelas.

“Aku Lyra.” Aku mengulurkan tangan. Namun perempuan itu hanya tersenyum.

“Siapa nama ibumu?” tanyanya.

“Patricia Waltson,” jawabku. Seketika ekspresinya berubah 180 derajat. Menampakkan wajah seperti menemukan sesuatu. Kemudian, ia tersenyum sinis menampakkan deretan giginya yang putih.

“Sepertinya bus sudah dating,” ujarnya. Aku melihat sekeliling, mencari bus.

Bus yang kutunggu memang telah terparkir di depan halte. Tanpa dikomando, aku telah menaiki bus dan duduk di sebelah anak perempuan yang bernama Braile tadi.

“Rumahmu di mana?” tanyaku.

“Cabbage House. Aku tinggal bersama paman Shane dan bibi Hellen.” Aku mengangguk.

“Kita enggak jauh beda ya…” jawabku.

“Maksudnya?” Perempuan itu mengernyikan keningnya.

“Rumahku di Cabbage Village.” Perempuan itu tersenyum polos.

“Senang bisa bertemu denganmu. Sejak kapan kamu pindah ke inggris?” tanyaku.

“Itu bukan urusanmu,” jawabnya.

Bus yang kutumpangi telah sampai di halte kompleks Cabbage. Aku, Braile, dan seorang perempuan turun dari bus.

Kami pulang bersama. Di persimpangan, aku dan Braile berpisah. Kami saling melambaikan tangan dan berjalan pulang menuju rumah masing-masing. Saat aku menoleh ke belakang, Braile tidak terlihat lagi. setahuku, kompleks itu jalannya lurus terus, tidak punya gang-gang lain.

“Aku pulang Ma,” ujarku. Mama menoleh, memperhatikanku dari kepala sampai kaki.

“Kamu tidak membawa jas hujanmu?” tanya Mama. Aku menggeleng, kemudian berlari menuju kamar tidur di dekat dapur.

Aku merebahkan diriku ke kasur. Lelah. Selalu, setiap pulang sekolah, aku harus berkata lelah tak kenal tempat. Tiba-tiba, sebuah pesan masuk dari handphone-ku.

 

08236069xxxx : jumpa lagi.

 

Aku : kamu… Braile, kan? Kok, bisa tahu nomor handphone-ku?

Pesan itu tidak terjawab. Aku kembali tidur memejamkan mata. Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Tadi, ketika bersalaman dengan Braile, wajahnya pucat. Saat kusentuh tangannya pun, terasa dingin. Mungkinkah Braile … ah, tidak mungkin!

“Dan … aku pun merasa putus asa. Jadi, kuputuskan untuk bu…. Ucapan Braile ketika curhat terngiang di kepalaku . Apa yang ingin disambungkan dengan kata ‘bu’? Apakah … tidak! Mustahil. Itu mustahil.

***

Pagi harinya.

Aku menutup pintu rumah. Disana berdiri seorang perempuan berambut panjang. Braile?

“Hei, apa yang kamu lakukan di halaman rumahku?”

Braile tersenyum polos ketika menoleh. “Kamu ingin berangkat sekolah?”

“Iya. Kamu sekolah dimana, Braile?” tanyaku. Ia menunjukku. Sekolahku sama dengannya? Benarkah? Aku tidak pernah bertemu dengannya di sekolah.

“Bareng, ya?” Aku tidak menjawab. Melainkan respon dengan senyuman sambil menggandeng tangannya. Dingin. Itulah yang kurasakan.

Tiba di sekolah, aku dan Braile turun dan menuju ke kelas. Apa? Kelasnya sama denganku. Tunggu, aku murid pindahan tahun ini, jadi, buat apa aku curiga? Mungkin saja ia sedang ada keperluan penting. Lebih baik, aku harus menjaga jarak dengannya.

Kulihat, Braile bertopang dagu sepanjang pelajaran Fisika, Matematika, dan IPS. Saat bel istirahat berbunyi, aku tidak melihatnya dimana-mana.

Seiring berjalan waktu, bel pulang sekolah berbunyi. Aku langsung mengambil ransel sebelum Braile mengajak pulang bersama. Namun.

“Lyra, kita pulang bareng, ya.” Aku menggeleng. Teringat perkataan Mama tadi, “sepulang sekolah nanti, Mama saja yang  menjemput.”.

“Kenapa?” tanyanya.

“Hari ini, aku dijemput Mama.” Braile membentuk huruf ‘o’ kecil di mulutnya. Kemudian terdengar suara deras hujan mulai turun. Di saat musim hujan seperti ini, aku masih tidak membawa jas hujan. Tidak seperti biasanya.

“Kalau begitu, aku akan menunggumu,” ujarnya pelan.

Aku mengernyitkan kening. Apa-apaan ini? Lama kami di kelas. Mengobrol sambil menunggu hujan reda. Lama kelamaan, keadaan sekeliling sekolah sudah sepi. Namun hujan tak kunjung reda.

Akhirnya aku dan Braile berjalan menuju tempat jemputan yang khusus di sediakan sekolah. Sepertinya, Braile sedikit kecewa saat aku menggeleng tadi. Meskipun sekarang ia sudah terlalu semangat.

Saat tiba di sana, Mama terlihat melambaikan tangan dengan payung dan jasnya. Saat itu, Mama ingin menyeberang menghampiriku. Namun dengan begitu saja Braile yang berada di sampingku berjalan menuju tempat Mama.

Saat itu, hujan makin deras. Yang bisa kulihat hanya kabut.

“Braile! Apa yang kamu lakukan? A…ada… mobil!!” teriakku. Braile tidak merespon. Malah, dia yang mendorong Mamaku ke arah mobil itu.

‘Khiiiiit.... Bruk…!

Suara berdesit pelan mengagetkanku. Mama terbaring lemas di aspal jalan, dengan kepala pecah. Darah yang berlumuran di jalan tersapu dengan tetesan air hujan yang semakin deras.

Di seberang sana, Braile menatapku tajam. Ia berjalan pelan ke arahku. Aku mundur beberapa langkah.

“Apa yang kamu lakukan, Braile!!!” bentakku. Braile tersenyum sinis.

“Kamu tahu? Mamamu yang telah menabrak ibuku. Kamu tahu? Sebenarnya aku tidak memiliki raga? Aku sudah mati! Ketika ibu terbunuh, aku merasa putus asa dan bunuh diri! Kini, sudah saatnya membalas dendam.” Braile langsung menghilang. Berarti, tidak salah kenapa saat aku memegang tangannya terasa dingin. Tidak salah kenapa wajahnya pucat. Tidak salah! Dia sudah mati!

Aku terduduk lesu. Tangisan keras mengalir dari mataku. Tak lama kemudian, orang-orang datang memindahkan jenazah Mama. Aku masih menangis. Sepertinya, hujan juga menangisi kepergian Mama.

***

Sudah tiga tahun berlalu sejak peristiwa itu.

Aku terduduk sambil melingkarkan tangan di lutut. Sepi. Untung saja, saat kecelakaan itu Papa langsung pulang dari pekerjaannya di Korea sebagai wartawan.

Tok … tok … tok …

Aku mendongakkan kepala.

“Masuk.” izinku. Papa masuk sambil membawa sepucuk surat. Aku mengambilnya dan berterima kasih. Setelah Papa pergi, aku membaca tullisan di sampul halaman depan surat kiriman itu. Di sana tertulis:

From : Braile Stamford.

Hei, kamu masih ingat ketika aku membunuh ibumu? Tidak ada yang tahu kalau aku membunuhnya. Aku mendengar suara hatimu.

Sampai sekarang, polisi belum tahu siapa yang mengendarai mobil itu, kan? Dia ibuku! Tapi sayangnya, kasus itu sudah kadaluarsa.

Salam blablabla,

Braile

 

“Braile? Apakah kamu… apakah kamu masih hidup?” Itu pertanyaanku ketika setahun silam. Sampai sekarang, aku belum mendapatkan jawabannya. Tiba-tiba sebuah pesan misterius berbisik di telingaku, mengatakan, “Ya. Aku masih hidup. Duduk di sampingmu dan menemanimu membaca surat itu.”

 

***

 Annida Amri (11 tahun), Penulis Cilik Binaan Lingkar Course FLP Aceh. 

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here