Sesal dalam Sakaratul Maut

Oleh: Zahraton Nawra

 

Di…

Ngilu gigil menggigit tulang

Bahkan dalam lapisberlapis lipatan kain,

Kau terus menyisir jalan seorang diri, merobek gelap dengan niat Lillah.

 

Jarak 3 dentang kau sikapi dalam pasrah, dalam ikhlas, sebab tujumu adalah 5 waktu.

 

Di…

Matamu menangkap seorang lemah tengadah harap pada sesiapa temu

Gigil bukan lagi rontokkan tubuh, hampir menanggal nyawa ia

 

Kau pasrah, lalu melepas lapis luar yang jelek dan lama. Tak apa, ia pun tak jadi rebah.

Menyikut siku dalam papah hingga tegak dua rakaat jelang pagi buta samasama.

 

Di…

Lain esoknya, saat roti dan teh kau celup. Seorang menatap lekatlekat, pada lapar menggila, hanya bungkam, enggan minta.

Kau dapati hati luluh, terketuk oleh biru.

Lalu, dengan sigap, kau belah dua roti tersebut sama rata. Setengah untukmu, sisa lain baginya.

 

Senyum rekah lama di potret. Ia kenyang, tak lagi meminta.

Tengadah pun alir berganti untukmu.

 

Hingga, janji Izrail bertamu.

Segala afal telah tercatat di Lauhul Mahfuz, dalam sakarat pandangmu menangkap gantibersilih pahala.

 

Aduh, kenapa tidak lebih jauh

Aduh, kenapa bukan yang baru

Aduh, kenapa tidak semua

 

Di…

Kau adalah Sya’ban RA, lakilaki teguh, memojok dalam taat.

Enggan ganggu, pula tak sudi ganggu.

 

Di…

Subuh rebah…

Kau pergi dengan hati sesal.

Surga menantimu dengan simpul terkulum.

 

Kau bilang…

Kenapa tidak lebih jauh

Kenapa bukan yang baru

Kenapa tidak semua

Padahal, Rabb tidak pernah ingkari janji-Nya.

 

Zahraton Nawra, Alumnus Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry.

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here