Husnul : Jadilah yang Bermanfaat

1400462_688607091163269_179244361_o“Membantu orang lain sebenarnya adalah membantu diri sendiri”

-Houtman Zainal Arifin-

Seuntai kalimat yang menginspirasi seorang gadis untuk terus berkarya dan mencurahkan dirinya untuk menolong sesama. Husnul Khatimah Adnan atau akrab disapa Husnul, seorang gadis kelahiran ranah lambirah, sebuah desa kecil di kecamatan Sukamakmur, kabupaten Aceh Besar, 3 Februari 1992 silam.

Kehidupannya, sekilas tak ada yang berbeda dari orang-orang pada umumnya. Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Sungai Limpah, Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTSN) Jeureula, Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Ruhul Islam Anak Bangsa, hingga IAIN Ar-Raniry telah selesai dijajahnya dengan baik.

“Menulis, hang-out, bertemu dengan orang-orang baru, bahkan nge-dance, saya suka itu” kata gadis yang juga merupakan alumni Pendidikan Bahasa Inggris IAIN Ar-Raniry angkatan 2009 ini.

Fasilitas yang tidak memadai, membuatnya harus merelakan hobi menulisnya tertunda.

“Waktu itu saya kira nulis itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang keren saja, jadi mulai sedikit serius menulis sewaktu masa kuliah. Saya suka saja menulis, menulis itu seperti terapi. Mungkin juga karena saya suka baca jadi saya ingin punya tulisan sendiri yang dibaca orang lain”

Andrea Hirata, Tere Liye, Ahmad Fuadi merupakan penulis yang menjadi sumber inspirasi wanita yang sering memanfaatkan waktu luangnya untuk tidur ini. Disela-sela kesibukannya di berbagai organisasi dan komunitas ia masih menyempatkan diri mengirimkan karya-karyanya ke media, beberapa featurenya dimuat di media-media online.

Tak hanya Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Aceh yang menjadi tempatnya ia berkarya dan  mengembangkan diri, sejumlah organisasi, komunitas, dan event lain seperti Semai Aceh, YLC, YLI, EDSA IAIN, MJC juga turut mewarnai karirnya.

“Banyak komunitas yang saya ikuti, tapi saya tetap utamakan IAIN, soalnya saya orangnya sulit fokus, saya sadar banget itu” ungkap Husnul, saat diwawancarai  flp-aceh.net.

Menjadi anak terakhir dari sembilan saudara terdahulunya, lantas tidak membuatnya bermanja-manja pada kedua orang tuanya. Taman Pendidikan Masyarakat Tanyoe (TPMT) sebagai bukti kemandirian dan kepeduliannya terhadap orang lain.

Husnul menceritakan bahwa terbentuknya taman pendidikan dikarenakan adanya ironi dibalik gaptek, anak-anak kecanduan playstation (ps) hingga bolos sekolah dan mengaji. Bahkan ada yang sampai mencuri hanya untuk memenuhi kecanduan itu.

“Maka dari itu kami mulai mikirin cara apa yang bisa ngalahin itu.”

Tanggal 7 Agustus 2011 dengan jumlah pengurus sekitar 16 orang, relawan sekitar 20 orang, dan sebuah tanah waqaf, tempat itu dibangun dengan segala kesederhanaannya. Hingga kini siswa yang aktif hampir mencapai 150 orang.

“Saya berharap akan ada penerus-penerus yang cakap untuk TPMT kedepan, dan semua orang peduli dengan nasib pendidikan anak-anak di daerah pelosok, khususnya kaula muda.”

Hal itulah yang membuatnya memfokuskan diri pada TMPT dan rencana untuk melanjutkan kuliah magisternya di Australia.

“Jadilah orang yang berguna, jika pun tidak jadi yang berguna, jangan jadi yang merusak” tutupnya.”[red]

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here