Sang Penolong

Cerpen Mahdi Idris

Diterbitkan di Serambi, Minggu, 30 Juni 2013.

Sambil berjongkok di pinggir sungai, Madin melihat wajahnya dalam air.  Ia meraba-raba, terasa di telapak tangannya bahwa wajah itu makin aus. Tak seperti dulu pada masa remaja, wajah itu tampan dan berseri. Kini, bahkan tubuhnya itu kian berubah tua. Sudah bertahun-tahun ia menyelam kerang di dasar sungai, penghasilannya tak pernah cukup membiayai hidup istri dan kedua anaknya. Ia pun tak tahu pada siapa mengadu, ke mana pula harus mencari sang penolong yang mampu meringankan beban hidupnya.

Hampir dua jam ia berjongkok di pinggir sungai itu, tak ingin pula ia memulai pekerjaannya. Hanya telunjuk tangan kanannya yang tak henti bergerak, menggores-gores pasir. Sesekali matanya memandang jauh ke tengah sungai, lalu menunduk, kembali menatap tanah berpasir di ujung kakinya. Bila tak ingat anak dan istri, ia akan segera pulang. Rasa dingin air sungai yang baru saja hujan berhenti, membuat tubuhnya enggan menjamah kedalaman air sungai itu.

Waktu berlalu, matahari hampir berada di tengah langit, siang segera datang. Madin masih duduk di pinggir sungai, belum juga ia meloncat ke dasar sungai. Lalu, tiba-tiba ia dikejutkan bunyi dedaunan, seperti seseorang sedang menjambak daunan pisang  dari batangnya. Madin menoleh ke belakang. Ia melihat seorang lelaki paruh paya berdiri di tanggul sungai. Lelaki itu memegang pancing di tangannya. Madin tak pernah melihat lelaki itu sebelumnya. Ia kaget pada lelaki itu yang datang tiba-tiba, tak tahu dari mana pula muasalnya.

“Hmm,” lelaki itu berdehem, sambil mendekati Madin. “Sudah dapat ikan?” tanya lelaki itu. Madin bergeming, menatapnya heran. Ia bingung, apa yang harus dijawabnya, karena memang tidak sedang memancing.

“Mmm…” Madin menggumam. Lelaki itu tersenyum, melihat Madin yang bertingkah serba salah. Kemudian, “Sebenarnya…” Madin buka bicara, namun seketika itu juga terputus. Ia makin bingung apa yang hendak dikatakannya. Ia membisu, hanya jari telunjuk tangan kanannya yang terus bermain, menggores-gores pasir.

Lelaki paruh baya yang sejak tadi berdiri itu menghampiri Madin dan mengambil tempat duduk pada sebatang pohon yang tergeletak di samping Madin, sambil menabur pandang ke sekeliling. Beberapa lama kemudian Madin pun angkat bicara. Menceritakan tentang kehidupannya yang tak pernah mujur. Seolah kemalangan telah berpihak padanya, takkan pernah raib. Lelaki itu hanya mengangguk-anggukkan kepala, mendengar kisah demi kisah Madin sampai akhirnya usai diceritakan.

“Hmm…” Lelaki berdehem, lalu “Saya dengar di Kampung Pualam ada orang kaya raya yang dermawan. Hampir tiap  hari, orang-orang kampung datang ke rumahnya minta sedekah. Kata orang-orang, sedekah yang diberikan itu banyak sekali, cukup untuk makan lima tahun.  Saya kira, kamu bisa mendatanginya. Ceritakanlah padanya apa yang kamu ceritakan  pada saya.”

“Benarkah begitu?” tanya Madin, ragu. “Iya. Saya pernah melewati rumahnya ketika ia sedang membagi-bagikan sedekah kepada beberapa orang. Kalau datang ke sana, carilah rumah gedung yang besar dan indah, itulah rumah Tengku Balkiah. Semua orang pasti tahu,” jelas laki-laki itu. Ai, betapa girang Madin mendengarnya. Sungguh, Madin ingin mendatangi orang kaya itu. Ia akan menceritakan perihal hidupnya yang melarat.

“Kampung Pualam itu di mana?”

“Sebuah perkampungan di balik bukit itu,” jawab lelaki paruh baya sambil menunjuk ke sebuah bukit di seberang sungai. Lalu ia meninggalkan Madin yang diliputi kegirangan.
Kini jalan hidup mulai benderang, pikirnya. Ia tak lagi menyia-nyiakan waktu. Ia ambil perahu yang ditambat di pinggir sungai pada sebatang pohon ara, lalu ia seberangi sungai pasang yang bergelombang lembut. Bagai hatinya yang mulai landai, terdengar sayup-sayup melodi nan indah. Dan sampai di seberang, ia terus berjalan, mendaki bukit subur ditumbuhi ilalang. Napasnya memburu, menggapai harapan yang segera muncul di hadapan.

Menjelang sore, Madin sampai di kampung Pualam. Ketika ia sudah berada di depan sebuah rumah besar nan megah, yang luasnya tak dapat ditaksirkan. Madin berhenti dan memasuki pekarangannya. Namun baru beberapa langkah memasuki, ia melihat seorang perempuan tua keluar dari serambi ke pekarangan.  Perempuan itu mengatakan, kalau ingin bertemu Teungku Balkiyah, Madin harus menemuinya di masjid yang terletak di ujung kampung. Karena Teungku Balkiah selalu berada di Masjid. Ia  akan pulang nanti malam setelah shalat Isya. Madin mengangguk, lalu ia pergi ke masjid untuk menemui orang kaya yang dermawan itu.

Sampai di masjid, Madin  duduk di barisan belakang Teungku Balkiah. Ia menungguinya yang sedang shalat. Lama sekali, kalau tidak benar-benar membutuhkan pada pertolongannya, ia takkan menunggu Teungku Balkiah dalam waktu yang hampir dua jam. Bahkan setelah shalat, ia melihatnya duduk bersila, membaca doa. “Ya Allah, jadikanlah hamba ini termasuk orang bersyukur pada nikmak-Mu. Karena Engkaulah sang penolong hidupku yang dulu melarat, sehingga Engkau limpahkan harta untukku. Ya Allah, jauhilah hamba dari sifat tamak dan kikir,” demikian doa  Teungku Balkiyah.

Madin mendengarkan doa-doa Teungku Balkiah  itu dengan seksama. Jantungnya berdebar, bergetar hebat. “Ternyata, Teungku Balkiah meminta semua harta itu dari Allah. Ia meminta tolong pada Allah. Aku bodoh sekali, mau minta tolong padanya. Padahal Allah itu juga Tuhanku. Mulai sekarang, aku harus meminta pada Allah, agar aku jadi orang kaya.” Madin membatin, matanya berkaca-kaca. Lalu ia duduk bersila, berdoa sambil menangis sesenggukan, “Ya Allah, tolonglah hamba ini. Keluarkanlah aku dari kemelaratan. Aku tak sanggup lagi berada dalam kemiskinan. Berikanlah hamba rezeki dari-Mu.”

Madin terus mengulang-ulang doanya beberapa kali agak nyaring, sampai kemudian Teungku Balkiah menoleh ke belakang dan menghadapkan tubuhnya pada Madin yang sedang khusyuk berdoa.

“Wahai saudaraku, berhentilah berdoa. Karena Allah, telah mendengar doamu,” ujar Teungku Balkiah. Madin terkejut.  “Sudah takdir Allah bahwa setengah dari hartaku ini untukmu. Dan itu pertanda, bahwa Allah sudah mengabulkan doamu. Sekarang, mari kita pulang,” ujar Teungku Balkiyah. Madin tak mampu berbuat apa pun lagi. Ia juga menyesal, kenapa tidak dari dulu ia berdoa kepada Allah untuk menolongnya dari kemelaratan hidup. Padahal Allah lah sang  Penolong  semua makhluk-Nya.

(Tanah Luas, 2013)

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here