Di Balik Layar

di balik layarpic

Oleh: S. Fadhil Asqar

Mau tak mau aku tersenyum. Apa yang baru saja dikatakan Liza adalah satu kejutan kecil yang menyenangkan. Tak pernah aku membayangkan, bahwa ada cerita seperti itu, di dalam sejarah pernikahan kami.

Liza bangkit dan mengambil baki berisi gelas kopi, yang isinya telah tandas sejak tadi. Hanya menyisakan ampas hitam kemerahan khas kopi Geste. Sebutan lokal masyarakat dataran tinggi Gayo, untuk kopi robusta yang terkenal tangguh dan wangi. Negeri di atas awan yang kini menjadi rumah kami sekeluarga. Benar-benar kami sekeluarga, karena sebelumnya aku jarang ada bersama Liza dan anak-anak.

Mengejar impian memiliki usaha dan kestabilan penghasilan, aku menghabiskan enam tahun pernikahan kami, pulang pergi Banda Aceh dan Takengon. Sambil bercanda, temanku seorang penulis nasional pernah melekatkan gelar ‘Suami Akhir Pekan’. Meskipun kenyataannya, aku hanya bersama keluarga dalam rentang dua atau tiga bulan. Itupun paling lama hanya seminggu. Dan akhirnya setelah enam tahun, aku menerima kenyataan, aku gagal dan usahaku bangkrut. Tak ingin kehilangan lebih banyak lagi waktu dengan keluarga, kukemasi barangku dan berangkat ke Takengon.

Liza mengingatkan agar tak lupa mengunci pintu, lalu ia menghilang ke dalam kamar, sambil menggendong si bungsu yang sedari tadi lelap dalam ayunan. Aku mengambil dua lembar kertas stick it note dan menuliskan kata ‘kunci’ pada selembar kertas kuning itu, lalu kata ‘sudah’ pada selembar yang lainnya. Yang bertuliskan ‘kunci’ kulekatkan di sisi laptop, sedangkan yang bertuliskan ‘sudah’ kulekatkan di pintu.

Menderita Obsesive Compulsif Disorder membuatku membutuhkan pegangan, agar gangguan kecemasan itu tidak membuatku bolak-balik memeriksa apakah aku sudah mengunci pintu atau belum. Dulu aku bisa menghabiskan sepuluh menit untuk berulang kali memeriksa apakah aku sudah mengunci pintu atau belum. Hal yang sama bisa juga terjadi ketika aku cemas, apakah aku sudah mematikan kompor gas di dapur dengan benar atau jangan-jangan kompornya mati namun pemantiknya dalam posisi menyala.

Kertas kuning kecil itu adalah pegangan, sehingga setelah aku memastikan dengan benar sudah mengunci pintu, aku tinggal mencabut kertas itu, jaminan psikologis yang bisa dipegang oleh otak bahwa aku sudah mungunci pintu.

Mataku menatap layar laptop, tempat satu garis kecil berkedip-kedip pada tampilan yang meniru selembar kertas putih. Harusnya aku mulai menulis bagian dari naskah novelku, tapi pikiranku masih tersangkut pada percakapanku dengan Liza tadi.

Akhirnya aku membuka folder foto, mencari-cari dan menemukan photo yang ingin kulihat. Ada aku di sudut kiri belakang, Liza di barisan depan sebelah kanan, dan perempuan manis berjilbab lebar dengan wajah keibuan yang lembut sebaris denganku namun di sudut kanan. Aprilia.

Kak April, senior dan kakak yang kuhormati. Dan ternyata dialah yang membuat jalan untukku. Jalan sehingga aku berjumpa Liza.

Dalam photo itu, kami berdiri membelakangi dinding polos berwarna biru. Sementara yang memenuhi dinding di kedua sisi kiri kanan adalah rak buku, penuh dengan berbagai buku, berjejal hingga ke lantai dan bagian atas rak. Selain kami, sembilan orang teman lainnya juga sedang menatap kamera. Meskipun senyum dan tawa kami terlihat beku dalam gambar yang mengabadikan dan mengunci waktu tidak maju maupun mundur, tapi rasa hangat dan kekompakan jelas menyebar melintasi rentang lebih dari tiga ribu lima ratus hari. Jarak antara hari saat photo itu diabadikan sampai ke hari ini. Saat itu aku dan Liza belum menikah.

Aku tidak ingat, kegiatan apa yang membuat kami berkumpul hari itu. Namun yang jelas semuanya terlihat gembira. Samar-samar yang muncul dalam ingatanku malah mie goreng dan minuman yang terbuat dari mentimun dan sirup merah. Mungkin kami sedang merayakan sesuatu, dan kurasa itu berkaitan dengan ruangan tempat photo itu dibuat. Sekretariat komunitas penulis tempat kami bergabung. Sekretariat baru, yang menumpang di rumah seorang senior, menggantikan sekret lama yang hancur.

Komunitas yang mempertemukan aku dengan Liza.

Aku masih mengingatnya dengan jelas, jauh sebelum ruangan sekretariat itu ada, sebelum tsunami melanda dan menghancurkan pesisir Aceh tahun 2004. Aku yang baru bergabung dengan komunitas itu menyerahkan tugas cerpen pertamaku. Sambil menunggu Kak Diana membaca cerpen itu, mataku melihat-lihat ruangan ruko yang digunakan sebagai sekretariat. Dan diantara rak-rak berisi buku, yang banyak kosongnya karena jumlah buku terbatas, dia berdiri disitu. Jilbabnya lebar, bajunya pun lebar. Dan seolah tahu ada yang sedang terpana menatapnya, dia berpaling.

Aku menunduk. Perempuan itu tatapannya tajam. Dan herannya aku tak sanggup menguatkan hati membiarkan kami beradu pandang. Diam-diam dari sudut mata kucari pandangan tajam itu, tapi sosoknya tak ada lagi. Sekilas ujung jilbabnya terlihat melambai dari labi-labi yang bergegas menuju pusat kota. Mobil angkutan khas Aceh itu berlalu dengan berbagai tanya tentang dia, dari hatiku mengekor lajunya yang ugal-ugalan.

Cerpen yang kuberikan pada Kak Diana, menuai pujian dan sebaris kiritikan. Juga menjadi salam perpisahan, karena itu terakhir aku berjumpa dengan mentor menulisku yang berjilbab lebar dan berkaca mata. Ia dan buah hatinya, syahid saat tsunami menerjang. Menghancurkan kehidupan ribuan orang, dan membawa sekretariat pengganti ke pelosok kota, lebih terpencil dan berpindah dari ruko ke ruang kecil di sebelah rumah seorang senior di komunitas itu.

Plak! Tepukan keras di keningku menewaskan seekor nyamuk yang gendut berdarah-darah, dan mengembalikanku dari kenangan. Liza menarik kursi, tangannya masih diusap dengan tisu, menghapus jejak nyamuk dan bercak darah.

“Abang sedang mengingat ketika pertama kita berjumpa.” Ujarku menarasikan apa yang mengisi pikiranku tadi.

“Cowok kucel dengan jins belel. Seorang penyiar radio, mantan reporter Unesco, ahli retorika, merokok dan anting-anting di telinga kanan.” Liza tersenyum, sambil menunjuk telingaku. “Contoh buruk yang mencemaskan. Tak heran Kak April begitu cemas. Abang adalah pengaruh buruk yang cerdas bermain kata. Kombinasi sempurna pengacau yang menarik perhatian bagi para calon penulis.”

Reflek, tanganku membelai daun telinga kanan. Penggambaran yang tepat dari Liza tentang aku beberapa tahun lalu. Tak ada jenggot di dagu, kaos oblong adalah busana wajib, serta kepulan asap rokok. Aku kurang sepakat soal cerdas bermain kata, bukannya tak bangga dipuji oleh istri. Apalagi istriku ini mantan editor dan wartawan lokal yang diakui. Hanya saja di komunitas itu aku bukan apa-apa bila disandingkan dengan Muhammad, calon dokter yang tulisannya diakui oleh penulis sastra nasional. Ada juga empat sekawan penulis muda, Hening, yang suka puisi dan para karibnya. Tulisan mereka menjelajah kemana-mana, dari lokal sampai nasional.

“Jadi Kak April menghubungi Liza?”

Liza mengangguk sambil tertawa, “Padahal saat itu bukan satu, tapi lima tempat yang menjadi pengisi hari, selain kuliah dan mengajar ngaji. Tapi dengan lembut Kak April memaksa agar Liza datang kembali. Aktif kembali di komunitas kita.”

“Kak April dengan sangat halus, tersirat dengan baik, mengabarkan kekhawatirannya. Bagaimana Abang dengan kemampuan berbicara, keluwesan dalam menempatkan kata-kata, dicemaskan akan mempengaruhi yang lain. Dan Abang tahu kan, komunitas kita itu rekat dengan konsep tulisan bernafas keislaman.”

Aku menggaruk kepala, yang tak gatal. Dengan penampilanku dulu, menceburkan diri dalam komunitas yang oleh sastrawan sebesar Taufik Ismail dianggap sebagai anugerah bagi Indonesia, karena keislaman dan sastranya. Memang tak salah bila Kak April cemas. Tapi sungguh, tak pernah kubayangkan bahwa jodohku hadir karena itu.

Bila Liza tak dipanggil kembali, maka kami tak akan pernah berjumpa lagi. Tak akan ada perdebatan dan saling bantai tulisan antara kami, tak akan ada kekaguman. Dan bisa jadi, kami tak akan menikah. Ataupun bila aku tak mempedulikan pemberitahuan melalui sms yang masuk, dari nomor tak dikenal yang menyerukan pendaftaran kembali anggota komunitas.

Seperti kata ustadz dari Makassar yang mengisi pengajian beberapa tahun lalu. Tak ada kebetulan dalam hidup ini. Allah sudah merencanakan dan memberikan kesempatan pada hamba-Nya. Melalui jalan tol yang langsung dan mulus, atau jalan putar yang melingkar-lingkar mengular dengan ujian dan hambatan. Tapi kesempatan baik selalu diberikan.

Liza meraih rajutan yang bergulung, dan mulai merajut. Gerakan mengait, menarik dan mengait lagi bergerak dengan ritme konstan. Seperti nafas yang secara teratur ada, dan denyut jantung yang terikat pada polanya. Ada saatnya kencang dan ada masanya lambat.

Aku menatap kembali layar laptop. Ketika panah kecil itu kugerakkan, lalu menyentuh lambang kecil putih dengan huruf ‘W’ biru, layar putih dengan garis kecil hitam berkedip itu membuka dengan gesit.

Merenung sejenak, lalu aku mulai menuliskan kata pertama, dari satu tulisan, yang akan kukirimkan ke redaksi media online milik komunitas tempat kami dulu belajar dan berjuang menekuni dunia kata. Perlahan kalimat pertama mulai terbentuk.

… Mau tak mau aku tersenyum. Apa yang baru saja dikatakan Liza adalah satu kejutan kecil yang menyenangkan. Tak pernah aku membayangkan, bahwa ada cerita seperti itu, di dalam sejarah pernikahan kami….

 

– Selesai –

 

*Penulis merupakan anggota FLP Aceh yang saat ini berdomisili di Takengon, Aceh Tengah. 

 

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here