EGO

Oleh: AUFADDINA

Menghindari-Perselisihan

“CERAI cerai terus yang kau bilang. Kenapa setiap ada pertengkaran, kau mudah mengatakan cerai. Kau kira menjadi janda itu bagus? Lebih bagus daripada hidup denganku? Sudahlah Ris, akupun sama capeknya denganmu. Kenapa tak kita cari jalan tengah. Apa salahnya aku ingin kau berhenti bekerja, tak ada yang salah dengan menjadi istri yang bekerja di rumah.”

“Sudah pasti salah, aku sudah bekerja sejak sebelum kita menikah. Kenapa sebelumnya kau tak bilang keberatan dengan wanita karir sepertiku. Justru sekarang di saat aku sedang naik daun dan baru mendapatkan promosi, kau malah menyuruhku berhenti. Apa bukan karena kau takut tersaingi, Han?” “Aku menyuruhmu berhenti bukan keberatan karena karirmu bagus, tapi kesibukanmu membuat kau lelah, kita belum juga mendapatkan anak. Kau dengar sendiri kata dokter, keguguran yang kau alami karena kau terlalu capek. Kalau saja alasan mengapa kita belum dikaruniai anak karena kau atau aku yang mandul, aku tak akan menyuruhmu berhenti. Aku pasti bisa ikhlas, tapi ini jelas karena usaha kita belum maksimal.” “Aku bisa gila kalau dirumah terus, Han. Kaupun tahu, bahkan aku belum sempat menganggur setelah tamat kuliah. Bagaimana aku terbiasa dengan perubahan mendadak.” “Kita cari sama-sama caranya agar kau bisa bekerja dari rumah, Kita punya cukup tabungan untuk membuka usaha. Di sana kau bisa berkantor kapan saja tanpa terikat waktu.” “Aku tak pandai berjualan.” “Bukan kau yang berjualan, kita pekerjakan pegawainya, kau hanya perlu mengontrol. Usaha apa yang ingin kau buka, pasti aku sediakan. Ris, aku bukan menyuruhmu untuk total berdiam di rumah, akupun mengerti keinginanmu. Cuma saja, sudah empat tahun kita menikah, dan Allah belum memberi kita anak, karena kita belum cukup berusaha.” “Pokoknya aku tak mau berhenti, aku sudah terbiasa jadi orang kantoran. Apa kau tak senang sekantor lagi denganku karena jabatanku hampir sama denganmu? Oke, ajukan saja ke pusat agar aku bisa mutasi ke divisi lain.” “Aahhh, selalu saja kau berfikir sempit kalau bermasalah denganku. Kau jelas tahu alasanku, tapi kau arahkan ke masalah jabatanmu. Apa bedanya kalaupun dimutasi, sekarang saja kita berdua sama-sama sibuk. Kau ingat ketika kau pertama kali keguguran, saat itu kau baru saja kembali dari dinas selama enam hari, dan kau sama sekali tidak perhatian dengan kondisimu, kau bahkan tak tahu kau sedang hamil, Ris. Akupun tak mungkin menyalahkanmu yang sedang sakit saat itu, tapi kau sudah keguguran untuk yang ketiga kalinya. Apa kau tak sadar ini teguran dari Allah agar kau beristirahat.” “Kalau begitu kau nikahi saja perempuan lain yang mau kau suruh duduk diam dirumah, yang jelas itu bukan aku, titik!” Risa langsung berjalan keluar sambil membanting pintu. Pertengkaran demi pertengkaran dengan tema yang sama selalu saja berujung tanpa kata sepakat. Risa dan Farhan semakin jenuh dengan pertengkaran itu-itu saja. Empat tahun pernikahan sudah cukup memberikan mereka banyak harta, terlebih karena keduanya sama-sama bekerja di salah satu perusahaan akuntan publik terbesar di Indonesia, bahkan dunia. Sayangnya, tidak ada canda ceria anak di dalam rumah mewah itu. Kejenuhan membuahkan akhir, sebuah keputusan yang dipimpin ego, walau hal itu menyisakan kepahitan yang teramat dalam, terutama untuk Risa. Ia tak menyangka, Farhan akan sampai pada keputusan yang serius. Ia juga tak menyangka bahwa kata “cerai” yang selalu diumbarnya dalam setiap pertengkaran harus berujung pada kenyataan yang pahit. Kenyataan, bahwa Farhan benar-benar menceraikanya.

Risa tak habis fikir, bukankah Farhan sangat mencintainya, bukankah sebelumnya juga sudah ratusan kali ia mengucapkan ancaman cerai tapi tak pernah dianggap serius oleh Farhan. Namun kali itu, Farhan yang berbalik mengultimatumnya dengan kata “cerai”, kalau ia masih tetap bekerja. Ego dan keras kepala yang masih saja disimpannya, membuat Risa bertahan dengan kata “Baik, kita cerai!” Yang ia tahu, ia takkan mungkin meninggalkan pekerjaan yang sudah membawanya berada di meja karir yang cukup mapan.

Risa tak habis fikir, bukankah Farhan sangat mencintainya, bukankah sebelumnya juga sudah ratusan kali ia mengucapkan ancaman cerai tapi tak pernah dianggap serius oleh Farhan. Namun kali itu, Farhan yang berbalik mengultimatumnya dengan kata “cerai”, kalau ia masih tetap bekerja. Ego dan keras kepala yang masih saja disimpannya, membuat Risa bertahan dengan kata “Baik, kita cerai!” Yang ia tahu, ia takkan mungkin meninggalkan pekerjaan yang sudah membawanya berada di meja karir yang cukup mapan. ***** Hari ini, perusahaannya mengadakan acara gathering keluarga yang dikhususkan untuk seluruh pegawai perusahaan. Risa yang sudah bersiap di dalam mobil, kembali ragu untuk menghidupkan mesin mobilnya. Tiba-tiba saja, telepon genggamnya berbunyi. “Sudah sampai dimana, Ris? Kamu tetap datangkan?” Suara Wirman, seorang kolega mengingatkannya untuk tetap datang. “Iya, aku sudah mau berangkat. Tunggu saja di sana ya” Risa menghidupkan mesin mobilnya dan berusaha untuk kuat. Perjalanannya dimulai dengan mencoba untuk lebih memandang ke depan, bukan ke belakang. Walau setiap kali ia memasuki kantornya, ia tetap akan diingatkan dengan pengalaman pahitnya yang disebabkan oleh egonya sendiri. Sesampainya di kantor, ruangan sudah ramai. Suara dua orang anak kecil yang sangat dikenalnya, mengejutkannya. Mereka berlari kecil sambil memanggil seorang lelaki. “Paaaaa… Lihat adek bisa kayak gini.” “Paaaa… Kakak juga bisa kayak gitu.” Seorang lelaki yang dipanggil itu kemudian tersenyum, lalu kembali memperhatikan MC yang akan segera memulai acara. Risa mencari Wirman, dan duduk disebelahnya. Wirman menyambutnya dengan tersenyum. Mereka hanya diam dengan fikiran masing-masing sambil mendengarkan MC yang pada akhirnya memanggil nama direktur untuk memberikan kata pembukaan. Lelaki yang dipanggil papa oleh kedua anaknya tadi maju ke depan, lelaki itu adalah lelaki yang pernah mengarungi rumah tangga bersamanya selama hampir lima tahun. Sedangkan wanita cantik yang di sebelahnya tak begitu sering dijumpainya, walau Risa tahu siapa dia. Ya, dia adalah wanita yang telah mengisi kekurangan Risa selama beberapa tahun ini. Ia adalah wanita rumah tangga, sebuah profesi yang dulu dicibirnya. Walau sejujurnya kenyataan bahwa wanita yang berpendidikan tinggi itu lebih memilih tinggal di rumah, begitu menamparnya. Meniti karir dengan menyandang status janda, membuat hidupnya terpuruk. Terlebih, ketika dua tahun setelah bercerai, ia mendengar kabar bahwa Farhan akan menikah lagi. Marah dan cemburu, ia rasakan lebih besar daripada ketika mereka bercerai dulu. Benar kata Farhan, menjadi istrinya lebih baik daripada menyandang status janda. Suara Farhan masih terdengar di atas podium, entah apa yang dikatakannya, Risa tak begitu mendengarkan. Fikirannya kembali pada seminggu sebelumnya, ketika ia menyampaikan surat pengunduran dirinya ke perusahaan. Walau terlambat, tapi ia bersyukur bahwa ia masih bisa kembali merajut kehidupan yang baru. Memang untuk mencairkan egonya, ia harus melewati tamparan besar. Bersama Wirman yang mau menerima statusnya sebagai janda, Risa tak ingin gagal lagi, tak ingin keras kepala lagi, tak ingin mengumbar cerai lagi. “Sekarang saya akan memanggil seorang pegawai tangguh yang sudah memutuskan berhenti untuk memberikan kata-kata kenangannya kepada kita semua. Bagi saya sebagai direktur, dan saya rasa bagi kita semua, bu Risa adalah pegawai teladan. Tapi saya sangat menghargai keputusannya berhenti, terlebih untuk segera menikah dengan salah satu kolega kita.” Farhan mengucapkan sambutan terakhirnya sambil memanggil Risa dengan senyum yang tulus. *Aufaddina adalah Anggota Forum Lingkar Pena Wilayah Aceh

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here