Eksodus

Oleh: Aqsha Al Akbar

Senja mencapai titik akhirnya. Menjadikan sebongkah cahaya bulan yang kini meminang bumi. Malam itu, kami sekeluarga telah berada di dalam bus yang segera membawa kami ke Medan. Aku tidak tahu pasti mengapa kami harus berangkat secepat itu. Ayah mengatakan padaku untuk bahwa kami pergi untuk berlibur. Tentu saja aku bingung. Sebab, sekolah belum lagi memasuki masa liburan. Namun, kebingungan itu sejenak terhapuskan dengan bayangan kota Medan dengan gemerlap hiburannya. Terbayang olehku hendak bermain di Timezone, suatu wahana permainan yang tidak kutemui di Lhokseumawe.

“Yah, kira-kira kita akan sampai dengan aman?” Tanya Mamak pada Ayah. Kulihat wajah Mamak sedikit cemas.

“Kita berdoa saja, Mak. Berangkat besok sudah tidak mungkin,” Ayah mencoba menangkan. Lalu ia menatapku.

“Iqbal, sudah minum Antimo? Minum ya, Nak.” Pinta Ayah padaku. Suara Ayah waktu itu sungguh lembut. Mungkin lebih tepatnya sedikit bergetar. Aku yang mendengar perkataan Ayah, langsung mengangguk mengiyakan.

Tiga jam perjalanan, aku terbangun dari tidurku. Kulihat Ayah sedang berbincang-bincang dengan orang yang duduk di sebelah kami. Kebetulan saat itu baik aku, Ayah dan Mamak duduk bertiga di atas dua kursi bis yang rapat. Posisi kursi kami berada di urutan tengah.

Kurasakan perutku terasa mual. Maka aku menarik baju Ayah dan mengeluh padanya.

“Ayah, wetengku mual,” kataku pada Ayah menggunakan bahasa Jawa. Ya, kami memang keluarga keturunan Jawa yang telah lama merantau di Lhokseumawe, Aceh Utara. Sejak Mbah hingga Ayahku tinggal di Aceh mulai lahir.

“Ssstt! Ojo ngomong Jowo disik, yo Nak.” Bisik Ayah padaku agar tidak bicara dalam bahasa Jawa. Aku yang bingung hanya bisa mengangguk. Kulihat dua orang lelaki yang duduk di sebelah kami mulai memperhatikan kami. Mamak yang mendengarkan bisikan Ayah tadi akhirnya terbangun dari tidur.

“Mak, tolong kasih air sama obat lagi untuk Iqbal.” Ayah berkata pada Mamak. Terlihat jelas wajah Ayah begitu berbeda dibanding sebelumnya. Lalu, Ayah kembali bicara dengan orang yang di sebelah kami.

“Hee, hehe. Si Agam saket prut jih.” Ayah mencoba menjelaskan perkataanku pada dua lelaki tersebut. Kulihat dua orang itu hanya tersenyum.

Lalu, mendekatlah kepala dari seorang tersebut ke posisi Ayah.

“Pak, kenapa berani sekali pergi malam-malam begini?” Tanya seorang yang duduknya sisi paling kanan dekat lorong jalan kecil dalam bis.

“Enggak mungkin lagi berangkat besok, Pak. Sudah…” Ayah menerangkan dengan menyilangkan jari-jarinya berhuruf ‘X’.

“Ya Allah. Kapan ditandainya, Pak?” Tanya orang itu lagi masih berbisik-bisik. Aku terus saja memperhatikan percakapan Ayahku itu.

“Tadi pagi habis salat subuh di masjid, kelihatan.”

“Kenapa tidak naik bis siang saja?”

“Enggak bisa, Pak. Saya harus kerja dulu.”

“Ya baiklah. Semoga perjalanan ini selamat sampai tujuan. Amin.” Tutup lelaki tersebut.

Aku terus memandangi pemandangan yang gelap dari jendela di sebelah kiriku. Tidak begitu jelas apa yang terlihat, kecuali pepohonan yang berdiri di hampir sepanjang jalan. Sesekali terlihat olehku rumah warga berukuran kecil-kecil. Jika memasuki sebuah kecamatan, maka akan terlihat beberapa toko dan ruko yang kelihatan begitu sepi.

Bis yang kami tumpangi itu tidak begitu ramai. Bahkan terlalu sedikit. Banyak kursi-kursi yang kosong. Mungkin hanya diisi oleh 10 penumpang. Di depan kami duduk seorang ibu tua. Sesekali tercium bau minyak kayu putih berasal darinya. Bau yang tidak aku sukai. Di depan dua lelaki yang berbincang-bincang dengan Ayah tadi, terlihat kosong. Namun, selang dua bangku darinya, duduk seorang pria dengan tubuh yang tegap dan rambut yang cepak. Barangkali ia seorang tentara atau polisi.

Jika mau melongok ke arah kaca depan bis tempat supir bis berada, maka yang terlihat hanya lah jalanan yang sangat sepi. Nyaris tidak ada kendaraan yang melintas. Bis kami sendiri melaju dengan kencang. Mungkin inilah yang membuat perutku sedikit terkocok dan mual-mual.

“Sudah sampai mana ini, Yah?” Tanya Mamak pada Ayah yang sedang memperhatikan jalanan melalui kaca depan.

“Engg… Mungkin sudah di daerah Idi,” jawabnya sambil melihat-lihat ke pinggir jalan.

“Idi? Bismillahirrahmannirrahim..” kudengar Mamak mulai membaca-baca doa. Aku tidak tahu pasti mengapa Mamak langsung membaca doa. Tapi, terlihat jelas ia kelihatan kaget. Aku yang melihat itu juga menjadi tidak enak. Perasaanku menjadi getir sendiri. Maka pelan-pelan aku mulai melafalkan surat-surat pendek Al quran.

Sekitar lima belas menit setelahnya, kurasakan bis yang kami tumpangi menurunkan kecepatannya. Ayah yang menyadari hal ini, langsung mengintip melalui kaca depan bis. Mukanya terlihat sangat panik dan kurasakan tangannya menggenggam erat tanganku. Terasa seperti hendak menerkam.

“Astagfirullah. La ilaaha illallah…” Ayah langsung berzikir dan menyebut-nyebut asma Allah.

“Kenapa, Yah? Ada apa!?” Tanya Mamak begitu kaget melihat Ayah yang terpaku memandangi jalanan di hadapannya.

“Di-stop, Mak. Bis kita diberhentikan.” Jawab Ayah dengan suara yang bergetar.

“Siapa, Yah? Tentara? Atau…?” Mamak mendesak.

“Enggak tahu. Enggak kelihatan jelas.”

Lalu akhirnya bis kami benar-benar berhenti. Aku yang tidak tahu menahu pun mulai merasakan ketakutan yang amat sangat.

Nyan, Pak. Kon tentara. Awak tanyoe,” kata seorang yang duduk di sebelahku itu.

“Ya Allah. Jauhkanlah musibah ya Allah. Ya Allah, ya Allah..” Mamak tak henti-hentinya berucap doa. Sedang tangannya erat memelukku ke dekapan badannya.

Tron.. tron mandum. Tron!” Seorang lelaki bertubuh pendek telah berdiri di sebelah supir dan menyeru pada penumpang bis untuk turun.

Bagaah! Bagah. Tron!” Kali ini ia mendesak.

Turunlah kami semua dari bis ke pinggir jalan. Karena perintah, kami para penumpang disuruh berdiri berbaris membelakangi bis. Tangan Mamak dan Ayah terus memegang pundakku. Aku yang sudah ketakutan, tak mampu membendung air mata. Kudengar Ayah berusaha bicara padaku agar jangan menangis.

Sewaktu aku menengok ke arah kiri, terlihat olehku seorang yang berkepala cepak tadi sedang diinterograsi oleh empat orang lelaki dengan masing-masing senjata di tangannya.

Awak kaphe heh? Peu but bak bumi Allah? Kaphe!”

Buk! Moncong senjata dari salah satu empat orang itu memukul wajahnya. Orang berkepala cepak itu sedikit meringgis dan hampir terjatuh. Namun, dia kembali berdiri seperti sedia kala.

So nyan?” Terlihat datang seorang lelaki berkumis dengan peci di kepalanya.

Awak teuntra, Komandan!” Jawab seseorang yang memukul tadi.

Angkot jih lam moto!”

Maka aku tahu, seseorang tadi memang merupakan anggota TNI.

Empat orang dan seorang komandan itu memeriksa semua penumpang. Terlihat juga olehku di antara penumpang, ada yang disuruh naik lagi ke dalam bis dan ada yang digiring naik ke sebuah mobil bak terbuka. Kami bertiga berdiri di paling pojok. Hingga akhirnya kelima orang bersenjata itu menghampiri kami.

“Assalamualaikum. Ci lihat KTP, Pak!” Minta seorang komandan pada Ayahku.

Dengan gemetar Ayah merogoh dompet dan mengeluarkan sepotong kartu berwarna biru. Sambil menyerahkan, Ia berkata.“Nyoe aneuk ngen istri lon, Pak.”

Komandan itu hanya melihat-lihat sekilas ke arah kami. Lalu matanya kembali memeriksa KTP ayahku.

Nan droe neu Agus?” Tanya Komandan tersebut perihal nama Ayah.

Betoi, Pak.”

Awak Jawa?” Kali ini Ia menanyakan asal daerah Ayahku.

Hana, Pak. Lon lahee sinoe.” Ayahku mengelak dan menegaskan bahwa Ia lahir di Aceh.

Jadi, kiban cara nan jih Agus? Lahee sinoe tapi asai jih Jawa? Teros terang mantoeng,” Komandan itu terus menatap Ayah dengan seksama. Sangat dekat. Ia meminta Ayah menjawab dengan jujur. Sementara Ayah hanya diam saja.

Jaweub pertanyaan lon, Jawa peu kon?” Bentaknya, kali ini pistol ditangannya ditodong ke kepala Ayah. Aku dan Mamak yang melihat itu langsung menangis sambil memohon agar Ayah jangan ditembak.

“Jangan tembak, Pak. Bawa saya. Biarkan Istri dan Anak saya naik bis lagi.”

Betoi droe awak Jawa?”

Kali ini Ayah mengangguk mengaku berasal dari Jawa. Mamak semakin deras isakan tangisnya. Begitu juga aku.

Maka tanpa ucapan sedikit pun, Komandan itu menyuruh empat orang tadi membawa Ayahku menuju sebuah mobil bak terbuka yang berada di depan bis kami. Saat itulah hatiku berkecamuk. Kukejar Ayah sambil menangis. Ayah yang terlihat hendak menggapaiku juga akhirnya dipukul dengan ujung senjata. Mengetahui hal ini, Komandan tadi langsung memegang bahuku dan mendorong aku ke arah Mamak yang telah terduduk di atas rumput. Sedang tangisannya terus-terusan memecah malam.

“Bu, Bu.. Ayo cepat naik. Ayo cepat!” Telah berdiri seorang supir dan seseorang yang duduk di sebelahku tadi.

“Ayo Dek, naik cepat. Ajak Mamak naik juga,” desak dua orang itu. Sementara kulihat mobil yang membawa Ayahku telah melaju dengan cepatnya. Meninggalkan beberapa orang dengan senjata lengkap di pinggir bus.

Ek laju! Bagah!” Teriak seseorang bersenjata itu. Maka naiklah aku dan Mamak ke dalam bis. Mamak yang saat itu lemas dan terus menangis, harus dipapah oleh dua orang penumpang.

“Tenang, Bu. Tenang! Pasrahkan sama Allah. Semoga suami Ibu tidak ada apa-apa. Berdoa sama Allah.” Kata dua orang yang duduk di sebelah kami sambil mendudukkan Mamak. Sedang saat itu bis kami kembali melaju. Aku yang tidak tahu menahu tentang hal ini hanya bisa menangis dan bingung. Aku tidak tahu Ayah dibawa ke mana. Orang-orang yang berada di sekitar kami pun tidak bisa memberikan jawaban. Sampai bis kami berhenti di terminal kota Medan, pertanyaan itu masih mengawang di kepalaku. Kemana Ayahku?

Hingga kini aku dewasa, pertanyaan itu tidak pernah terjawab.

 

Malang, Febuari 2014

Penulis merupakan aktivis kemanusiaan yang berdomisil di Malang, Jawa Timur. Sekarang sedang sibuk menumpahkan karya di blognya: http://theeternalnotes.blogspot.com

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here