Koran Bekas Hari Lebaran

944759_10201781752653380_937356623_n Karya Doni Daroy

Sudah sejak sepekan yang lalu orang-orang sibuk dengan hal yang serbabaru. Baju baru, sarung baru, peci baru. Cat rumah pun diperbarui. Seakan  semua wajib baru. Tak terkecuali potongan rambut. Semua ingin tampil sempurna di hari Fitri nanti. Rata-rata  pusat perbelanjaan penuh dengan para pelanggannya. Bahkan yang puasanya diragukan pun tidak ingin ketinggalan meramaikan tempat yang berlabel diskon. Namun, tidak berlaku bagi Bu Umar dan keluarganya. Mereka justru memampangkan tangannya dengan goni di pinggir jalan. Beberapa hari sebelum 1 Syawal, orang-orang sudah disibukan dengan berbelanja daging sebagai tradisi. Sapi, kambing, kerbau hingga ayam pun tak kalah ingin disebut. Pasar daging padat, pinggiran jalan penuh dengan aroma daging segar. Babat, paru, hati, usus semua diborong . Sepulangnya dari tempat tersebut, mereka terus berpikir untuk singgah kembali ke pasar malam, mencari baju yang lupa dibeli tempo hari.  Tak cuma itu. Kaum ibu-ibu juga disibukkan dengan persiapan aneka kue Lebaran.  Tak usah repot-repot membuat. Asal punya uang, tinggal pergi ke supermarket lalu pilih beragam model kue yang disukai. Di berbagai supermarket modern yang kini mulai menjamur bahkan tak perlu bawa uang cash. Tinggal gesek kartu kredit, apa pun barang tinggal bawa pulang. . Tapi, lagi-lagi,  hiruk-pikuk persiapan Lebaran itu  tak mempengaruhi  Bu Umar dan keluarga. Reza, anak sulung Bu Umar,  justru sibuk mencari koran-koran bekas. Koran-koran inilah, yang bisa membuatnya sedikit terhibur di hari Idul Fitri itu. Hari yang ditunggu-tunggu umat Muslim sedunia pun tiba, hari Raya Idul Fitri. Semua umat Islam berbondong-bondong ke lapangan merdeka untuk shalat  pada hari kemenangan ini. Semua dengan penampilan baru. Wangi-wangian, peci baru, sarung baru, baju baru dengan penampilan yang istimewa.  Reza dan adik-adiknya juga ikut ke lapangan merdeka, namun tidak tampak ada yang baru dari mereka. Semua menenteng tumpukan koran. Bukan koran baru, tapi koran  bekas. “Bu! Korannya, Bu!” teriak Reza di salah satu gerbang lapangan merdeka. “Pak, koran! Koran, Pak!” sorak Fadli, adiknya Reza di gerbang lain lagi.  “Koran, koran!” lolong Bu Umar dan putri bungsunya Fatma di jalan menuju lapangan merdeka.  Keluarga itu terus menjajakan koran bekasnya seraya menebar senyum di hari Fitri. Bukan senyum memohon maaf, tetapi senyum untuk menyapa pelanggan,  seraya berharap ada yang  membutuhkan koran bekas yang dijajakan, untuk dijadikan  alas pengganti sajadah. Kehadiran mereka di area lapangan merdeka juga terbilang paling cepat di antara yang lain. Mereka sudah menenteng koran-koran bekas itu sejak matahari baru menampilkan cahaya remangnya. “Koran, Kak!” Fatma menawarkan dagangannya pada perempuan muda di dalam mobil. “Berapa, Dik?” tanya perempuan itu. “Seribu saja, Kak,” sahut Fatma dengan nada merendah. “Dua ribu, tiga ya?” tawar perempuan dari dalam mobil. Fatma menoleh ke arah ibunya. Namun Bu Umar agak jauh dan tidak melihat Fatma. Maka sambil menenteng koran-koran bekasnya, Fatma berlari menuju Bu Umar untuk bertanya tawaran perempuan tadi. Bu Umar hanya mengangguk, kemudian Fatma kembali lagi ke perempuan itu. Namun belum rezeki, mobil yang ditumpangi perempuan itu sudah duluan menghilang di tempat. Di sudut yang lain, di gerbang tempat Reza menjajakan koran bekas, seorang bapak-bapak berumur sekitar 45 tahun menghampirinya. Tanpa senyum, entah karena si Bapak kurang ramah atau sebab ia sedang buru-buru. Dari wajahnya tampak ia kurang sehat. “Dik, korannya berapa?” “Seribu, Pak,” “Ah, kemahalan. Ini lima ratus saja.”  Tanpa menjawab kata terima kasih dari Reza, si Bapak langsung minggat selepas memberi uang  receh lima ratus rupiah. Walau separuh dari harga yang ditawarkan, Reza tetap bersyukur. Baginya, rezeki sudah Tuhan yang mengatur. Jadi, seberapa pun yang didapat, semua datangnya  dari Allah. Shalat Hari Raya pun sudah diselesaikan dengan penuh kemenangan. Orang-orang sudah berjabat tangan dan beranjak pulang. Giliran Bu Umar beserta keluarganya yang mengarungi lapangan yang biasanya dipakai untuk upacara kenegaraan itu. Tapi bukan untuk shalat Hari Raya ataupun melakukan upacara, Bu Umar dan keluarga ingin mengutip kembali koran-koran yang sudah dibeli  tadi. “Ibu! Kita dapat banyak uang hari ini! Sepulang dari sini,  kita ziarah ke kuburan ayah, ya!” seru Reza sembari meraih koran-koran bekas. “Iya, Nak. Tapi kita singgah ke warung untuk bayar utang dulu,” sahut Bu Umar dengan senyum penuh syukurdi hari kemenangan ini. Tulisan ini dimuat di Serambi Indonesia : http://aceh.tribunnews.com/2013/08/04/koran-bekas-hari-lebaran

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here