Kubuang Cinta Sampai ke Jerman

Alif-Jerman, 2012

Gugup. Gemetar dan cemas mulai menghampiri ku. Hari ini aku akan menikahi Mia, gadis cantik yang selama ini aku cintai. Setelah perjuangan 10 tahun akhinya aku bisa menikahinya. Masalah cinta jangan di tanya karena Mia terpaksa menikah denganku. Ya dia sangat terpaksa.
***
Mia, cinta pertamaku di SMP. Dia csntik, pintar, kaya dan menjadi idola sekolah saat itu. Hanya satu kekurangannya. Dia sombong. Berbeda dengan aku yang culun dan dekil. Perbedaan keadaan ini membuat aku tak berani menyapa. Walaupun kata teman-temanku, aku mempunyai wajah yang tak kalah ganteng artis korea asalkan kacamata ini ku buka tapi itu tetap tak membuatku merasa percaya diri untuk menyatakan cinta padanya.
Sampai hari kelulusan SMP, masuk SMA yang sama, Lulus SMA. Aku tetap tak punya nyali untuk mendekatinya. Perbedaan yang terlalu jauh membuatku minder dan bahkan terkesan menjauhi Mia.

Jakarta, 2011
Sampai tahun lalu aku kembali bertemu Mia. Dia tetap cantik. Awalnya dia sungguh tak mengenaliku karena sekarang aku bukan si culun lagi. Semasa kuliah teman-teman dari geng”X-boy” menyarankanku untuk ganti syle dan mulai berburu cewek-cewek kece di kampus ku. Namun sekian tahun aku kuliah, tak ada yang bisa ku lakukan selain memikirkan Mia. Geng “X-Boy” memberiku penghargaan sebagai “The Failed”. Bagaimana tidak dalam sejarah 7 keturunan “X-Boy” belum pernah gagal dalam berburu cewek.
Mia nampak terkejut begitu melihatku.
“Alif. Kamu Alif bukan?” katanya sambil memandangku takjub
“Mia? Ngapain kamu di kantorku? Kataku berusaha menyembunyikan keterkejutanku.
“aku mulai kerja disini. Tadi aku disuruh papa ehh maksudku direktur untuk menjumpai manager. Sungguh aku tidak menyangka ternyata manager itu kamu, alif” jawabnya berbinar-binar.
“ iya aku juga baru diangkat jadi manager” jawabku.
Setelah berbincang-bindang cukup lama akhirnya Mia kembali ke ruangannya.
Sedangkan aku masih terpaku menatap gadis itu berlalu.
Pelan-pelan ku buka laci mejaku dan mengeluarkan selembar foto. Ya itu foto Mia yang sempat ku curi diam-diam saat kelulusan SMP. Dibelakangnya sengaja ku tulis “yang tercinta, Mia”
Ternyata perasaan ini masih sama dengan 10 tahun yang lalu. Aku masih mencintaimu, Mia.
Susah payah ke lewati hari demi hari. Tiap hari bertemu Mia dan itu membuatku salah tingkah. Aku tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaanku. Aku membenci situasi ini. Akhirnya ku putuskan untuk menata kembali perasaanku. Aku harus melupakan Mia. Aku harus profesional.
“Buat apa aku memikirkan gadis sombong itu. Dulu dia tak pernah melirikku. Sekarang karena aku sudah berubah apa ia seenaknya saja memasuki hidupku”
Keesokan harinya aku berharap tak bertemu gadis itu. Namun ketika ku memasuki ruangan, Mia telah menunggu. Ku tatap wajahnya yang tanpak sendu.
“Ada apa lagi dengan gadis ini”
“ada perlu apa?”jawabku berusaha untuk tetap tegas dan berwibawa.
“apa maksud semua ini”jawabnya sambil memnyodorkan selembar foto. Foto yang kemarin lupa ku masukan ke dalam laci.
“ oh itu. Cuma kenangan waktu SMP” jawabku menyembunyikan keterkejutan di wajahku
“lalu apa maksud tulisan ini? Kau mencintaiku?” katanya enatapku
Sungguh aku tak berani menatap mata itu. Mata penusuk setiap sisi jantungku.
“itu itu itu dulu sekarang aku tak lagi seperti itu” aku berbohong karena tak mungkin ku akui rasa yang telah susah payah ku sembunyikan selama ini.
“ ohh begitu” jawabnya sambil berlalu.
Aku ingin berteriak mengatakan kalau aku masih mencintainya tapi ego ku sebagai lelaki mengalahkan itu semua.
Akhirnya Aku membiarkannya pergi
****

Jakarta 2011
Mia
Setelah 4 tahun melanjutkan studi ku di Jemran, aku kembali ke indonesia. Kembali ke Indonesia membuat hati ini perih. Walaupun rasa itu ku bawa terbang melintasi benua, ternyata sakitnya masih sama dengan 4 tahun yang lalu. Aku kecewa dan patah hati.
Laki-laki yang ku temui di hari pertama Aku menginjakan kaki di SMP ternyata tidak mengingatku sama sekali. Demi menghilangkan perih itu aku memutuskan untuk bekerja di kantor papa. Sama seperti sebelumnya, papa tetap sibuk dengan pekerjaannya tanpa mempedulikan aku putri samata wayangnya.
“Silahkan belajar dari manager di lantai 2” ucapnya sambil kembali melanjutkan pekerjaanya.
Dengan malas aku berjalan menelusuri koridor dan menaiki tangga. Aku masuk menemui manager kesayangan papaku itu.
Tok tok tok
“Masuk”terdengar suara pria didalam sana
Aku masuk dan disambut dengan ramah oleh seseorang. Aku terpaku. Ku amati pemuda itu.
“Alif. Kamu Alif bukan?” kataku tanpa bisa menyembunyikan keterkejutan ku.
“Mia? Ngapain kamu di kantorku?” jawabnya tak kalah terkejut
“Aku rasa aku akan betah di kantor papa”
***
Hari ini aku memilih baju terbaikku. Karena aku tak mau kelihatan kurang cantik di depan Alif. Pemuda yang ku cintai diam-diam sejak hari pertama SMP. Sedih memang, karena dia tak lagi mengingatku tapi ku rasa belum terlambat.
Aku memasuki kantor dan langsung menuju lantai dua. Pelan-pelan ku lihat ruangan Alif. Masih sepi. Keberanianku muncul untuk memasuki ruangan itu. Dan diatas meja ku lihat selembar foto.
“Foto siapa ini” pikiranku mulai cemas kalau ternyata Alif punya kekasih.
Dengan hati-hati ku balik foto itu dan alangkah terkejutnya aku ketika ku amati sosok difoto itu.AKU??
Bagaimana mungkin? Berarti cintaku selama ini tak bertepuk sebelah tangan. Betapa bodohnya aku harus menangis sampai ke Jerman hanya untuk melupakan pemuda ini” ku rasakan kebahagiaan yang selama ini hampir tenggelam dalam hidupku.
Tiba-tiba pintu terbuka. Di pintu tampak Alif sedang mengamatiku. “duh aku tak boleh kelihatan terlalu senang” batinku
“ada perlu apa?”katanya tegas.
“apa maksud semua ini. Kau mencintaiku?”tamyaku berharap
“oh itu. Cuma kenangan waktu SMP. Dulu iya tapi sekarang nggak lagi” jawabnya datar.
“nggak lagi??”
Sekuat tenagaa aku menahan rasa sakit itu. Berusaha untuk tetap tegak berdiri. Aku tak mau kelihatan lemah di hadapannya.
Namun akhirnya air mata itu jatuh juga. Ternyata cintanya tak sanggup jua ku gapai. Aku putus asa dan menerim dia saja yang di jodohkan Papa denganku.
***
Jakarta,2011
Alif
Pagi itu direktur memanggilku. Aku sungguh cemas. Apakah perasaanku pada putrinya sudah ketahuan makanya dia memecatku?
Tapi apapun yang ku pikirkan tak bisa menjawab semua kekuaatiran itu.
Tok tok tok
“silahkan masuk Alif” Direktur tersenyum padaku.
Ahhh kayaknya aku nggak bakalan di pecat nih” gumamku setelah melihat wajah cerah Disertur.
“ada apa Bapak memanggil saya?”
“Alif kamu adalah karyawan kesayangan saya. Bagi saya kamu berharga bagi perusahaan. Sungguh aku berterimakasih padamu. Untuk itu maukah kau menjadi anakku?” ucapnya
“anak? Mia bakal jadi adikku? Tidak. Aku tak mau. Tapi jika tidak karir yang selama ini aku bangun akan hancur begitu saja” batinku
Sepertinya Direktur tahu kekuatiranku. Lalu Dia melanjutkan penjelasannya “ kau akan meniah dengan Mia, putri kesayanganku. Ku tahu selama ini Aku telah mengabaikannya jadi ku harus berjanji jangn pernah mengabaikannya seperti aku”
“apa? Menikahi Mia?” hampir saja kursi yang ku duduki mencuim lantai.
Direktur hanya tersenyum melihat tingkahku. Agaknya dia sudah tahu aku akan menyetujuinya.
Jerman,2012
Mia
Setelah setahun aku kembali ke negara ini tapi bukan lagi untuk menangis melupakan si Culun, Alif tapi sekarang aku kembali untuk melangsungkan pernikahan kami. Ku rasa saat ini aku gadis yang paling bahagia di dunia ini. Sungguh aku tak peduli apakah Alif mencintaiku atau dia hanya mencintai harta dan perusahaan keluargaku. Bagi ku bisa hidup bersama orang yang ku cintai itu sudah cukup.
Acara pernikahan kami berlangsung meriah dan mewah. Alif tampak sangat bahagia. Mungkin karena dia sebentar lagi bisa jadi direktur perusahaanku. Tapi bagiku tak mengapa asal bisa tetap bersamanya.
***
Malam harinya kami saling diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba aku memberanikan diri menghampiri Alif yang sekarang sudah resmi jadi suamiku.
“Mas apakah kau ingat gadis yang kau tolong pertama kali saat memasuki SMP?” kataku agak sedikit gugup.
Lama dia berfikir dan mnegingat-ingat.
“Aaaa gadis lucu dan culun yang manjat pagar karena telat ya” teriaknya sambil menahan tawa. “Dia tak sadar kalau roknya sampai sobek. Benarbenar gadis cerobah. Aku harus merelakan jakutku. memang kenapa?”
“hmm tidak ada apa-apa. Hanya dia pernah bercerita kalau sejak saat itu Dia jatuh cinta padamu, Mas” jawabku
“so?” wajahnya berkerut menandakan dia tak senang.
“maaf kalau membuatmu marah mas. Aku tidu duluan” jawabku sambil beranjak meninggalkan Alif yang masih sibuk menghilangkan kerutan di wajahnya.
Alif
Setelah lelah seharian aku memutuskan untuk beristirahat namun mana bisa aku beristirahat sementara si Nona besar masih duduk terdiam di sudut kamar.
Lama sepi dan senyam tercipta di antara kami. Akhinya aku memberanikan diri untuk memulai pembicaraan. Tapi tiba-tiba Mia mengahampiri ku dan berkata ““Mas apakah kau ingat gadis yang kau tolong pertama kali saat memasuki SMP?”.
“Haa dia menanyakan gadis lain saat aku memikirkan dirinya” aku mulai kesal dengan ketidak pekaan istriku
Lama aku berfikir dan mnegingat-ingat.
“Aaaa gadis lucu dan culun yang manjat pagar karena telat ya. Dia tak sadar kalau roknya sampai sobek. Benar-benar gadis cerobah. Aku harus merelakan jakutku. memang kenapa?” tanyaku.
“hmm tidak ada apa-apa. Hanya dia pernah bercerita kalau sejak saat itu Dia jatuh cinta padamu, Mas” jaeabnya.
Mia benar-benar keterlaluan. Aku tahu kalau Dia tak mencintaiku tapi jangan jadi mak comblang antara aku dan wanita lain dong. Aku kan suaminya.
“so?”aku mulai marah dan nggak tenang
“maaf kalau membuatmu marah mas. Aku tidur duluan” jawabnya sambil berlalu.
Aku kesal dan marah. Lama aku terpaku di balkon seraya menatap bintang-bintang dilangit. Aku berharap ada keajaiban sehingga Mia mencintaiku.
Tak terasa malam semakin larut. Kantuk sudah mulai menyerangku. Berlahan ku berjalan ke kasur dan ku dapati istriku di sana menangis dalam tidurnya.
“Mengapa?mengapa Dia menangis”
Lalu mataku tertuju pada sebuah Diari dibawah bantalnya. Perlahan ku buka dan ternyata disana ada wajah gadis culun yang dulu ku tolong.
“ini Mia?”lalu ku teringat kata-katanya “Dia pernah bercerita kalau sejak saat itu Dia jatuh cinta padamu, Mas”
Satu persatu ku baca semua tulisan di Diary itu. Terakhir ku tatap wajah gadis yang berada di sampingku itu sambil tersenyum bahagia.
“Ich Lieben dich, Mia.
Ich werde dich glücklich machen. Danke Warten Sie bitte, Mia”
(Aku mencintaimu, Mia. Aku berjanji akan membuatmu bahagia selamanya. Terima kasih telah menunggu ku, Mia)
Hari esok kebahagiaan akan menghampiri kami selamanya.

Banda Aceh, 2 April 2012

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here