Letusan Penyambut Ramadhan

Cerpen  Nazri Z. Syah Nazar

Diterbitkan di Serambi, Minggu, 7 Juli 2013.

kembang_api

Binatang-binatang malam berterbangan memburu cahaya. Tatapan cicak putih pun cukup tajam mengintai mangsa. Aku termenung, pikiranku melayang ke masa kanak-kanak. Mengenang ayah yang dulu menuntunku membakar kembang api, juga ibu yang selalu menyiapkan rendang untuk sahur pertama.

Di tanah rantau ini, aku hanya bisa menatap gerombolan cicak mengejar nyamuk, serta dendangan nyanyian katak yang tak bertempo. Terasa hambar, ramadhan kesekian kali ini harus kujalankan seorang diri. Tidak semeriah tempo hari. “Ayah, cepat! Orang-orang sudah menyalakan kembang api di luar!” seruku mengajak ayah keluar rumah.

“Sabar, Nak. Kita yasinan dulu,” sahut ayah yang masih bersarung usai salat Magrib. “Halah, Ayah kelamaan,” cetusku tak peduli dan langsung keluar.

Cahaya kuning keremang-remangan menghiasi  serambi rumah tetangga. Aku ingin ke sana, tapi tidak berani. Pagar besi yang melingkari rumah itu terlalu tinggi. Bangunan rumahnya pun cukup gagah berdiri. Hampir lima kali lipat dari rumahku. “Ayah, lihat! Mereka punya lilin yang cukup terang,” ucapku kagum ketika mengintip cahaya dari balik pagar tinggi.

Ayah tidak menjawab apa-apa. Lidahnya masih terdengar fasih membaca surat yasin.

“Ayah, cepat! Abang melihat mereka membakar kembang api berwarna,” tukasku melihat seorang anak dari rumah itu memegang tongkat yang menyalakan api berwarna-warni.

Ayah tetap belum keluar, namun suaranya tak lagi terdengar membaca ayat-ayat suci. Aku pikir, ayah tidak mendengarku. Tapi tiba-tiba ayah keluar sambil membawa sebatang bambu yang menyerupai pentungan.  Dan tangan kirinya menenteng jeriken minyak tanah.

Wajahku melemas. Kejadian ini sudah pernah terjadi di beberapa ramadhan sebelumnya. Bambu itu dijadikan obor, lalu aku menjadi pusat perhatian orang-orang yang melintas untuk bershalat Tarawih ke masjid. Ah, walaupun cahayanya lebih besar dari lilin tetangga, tetap saja aku bosan dengan mainan seperti ini.

“Ayah, Abang mau kembang api! Kayak itu, Ayah!” rengekku sambil menunjuk anak yang sedang berlari-lari membawa kembang api berwarna di halaman luas sebelah rumahku.

“Itu mahal, Nak. Kalaupun kita punya banyak uang, Ayah tidak mau beli yang seperti itu,” ucap Ayah sembari memegang pundakku.

“Tapi Ayah, Abang pingin,” rengekku lagi, namun sedikit pelan. “Nak, itu sama saja seperti bakar-bakar uang. Mubazir, itu temannya setan,” nasihat ayah lagi. Ia memperhatikan anak yang aku tunjuk tadi.

“Nanti Lebaran saja Ayah belikan, tapi Abang harus janji. Puasanya harus full satu bulan,” sambung ayah berbisik di telingaku. Mungkin ayah luluh melihat mataku yang sudah berkaca-kaca.

Selepas itu, ayah masuk ke dalam mengambil peci dan selembar sajadah. Aku memperhatikania pergi ke masjid untuk salat Tarawih. Wajahnya yang sampai sekarang kuingat, ia tersenyum seraya menoleh lalu melangkahkan kakinya.

Dooor! Suara letusan keras menyambar gema sautan takbir di masjid. Ibu segera keluar dan meraihku. Segera dibawanya aku masuk dalam pelukannya. Aku yang tidak mengerti, semakin bingung. Suara letusan serupa kembali terdengar. Namun kini berkali-kali, seolah mengikuti detik jarum jam.

“Bu Nidar! Cepat ke simpang sekarang!” seru seorang pemuda yang menyebut nama ibu dari luar. “Ada apa?” sahut ibu panik. “Bapak kena tembak!” tukas pemuda itu lagi.

Seketika itu aku didera ribuan tanya. Bagaimana mungkin ayah yang tertembak. Apa ayah seorang pemberontak? Bukan juga ia seorang tentara. Apa salah ayahku? Orang-orang menjawab: Ia terkena peluru nyasar. Hingga sejak itu pun aku disandang yatim.

Ah, kini aku sudah dewasa. Sebaiknya aku lebih mengerti akan peristiwa itu. Lagi pula, sekarang sudah  tidak terdengar lagi letusan seperti itu. Semoga status Aceh damai bisa bertahan hingga Lebaran tahun ini.

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here