Malam Qadar Haji Ramli

Sejak beberapa hari yang lalu, Haji Ramli terlihat gelisah. Sepanjang hari, lelaki paruh baya itu hanya bergonta-ganti posisi dari tidur ke duduk atau sebaliknya di panteu depan rumah dan berulang kali menatap lekat pada langit siang seolah sedang menunggu jatuhnya sesuatu di sana. Meskipun begitu, mulutnya tak henti mengucapkan lafaz zikir.

Istri Haji Ramli, yang biasa dipanggil Mak Yek oleh warga desa karena ukuran tubuhnya yang sangat bongsor sama sekali cuek dengan perilaku aneh suaminya. Setelah menikah selama hampir 15 tahun dengan Haji Ramli, Mak Yek sudah tidak asing lagi dengan perilaku suaminya itu; menjadi gelisah setiap bulan Ramadhan tiba. Mak Yek tahu bahwa kegelisahan suaminya itu dikarenakan keinginan lelaki itu yang begitu besar untuk dapat bertemu dengan malam Lailatul Qadar.

Azan Zuhur terdengar nyaring dari arah meunasah. Beranjak dari panteu, Haji Ramli menuju ke kamar mandi yang posisinya berdekatan dengan dapur. Terdengar bunyi kerekan katrol di sela-sela suara azan dan suara benturan timba dengan dinding sumur. Sambil menunggu suaminya selesai mengambil wudhu, Mak Yek ikut mendongak, mencoba meniru apa yang suaminya sering lakukan akhir-akhir ini. Mak Yek tidak melihat apa pun, kecuali langit biru, gumpalan awan, rombongan burung pipit yang sedang bermigrasi, dan leher yang pegal.

“Harus orang-orang dengan hati bersih yang dapat menyaksikan tanda-tanda kedatangan malam Qadar.” Mak Yek sempat terkejut, sama sekali tidak menduga jika suaminya sudah selesai dari kamar mandi dan sedang menatap tajam ke arahnya. Malas meladeni sindiran suaminya, Mak Yek memilih diam dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.

Menjelang waktu berbuka, Haji Ramli kian sering menatap jauh pada langit senja. Tiba-tiba Haji Ramli tampak terburu-buru masuk ke dalam rumah. Rupanya hendak mengambil kaca mata. Bahkan pertanyaan Mak Yek tentang waktu berbuka puasa untuk hari itu tidak digubrisnya sama sekali. Merasa heran dan setengah kesal, Mak Yek mengikuti suaminya ke panteu.

“Dah, kaulihat bentuk bulan itu?” Tanpa menoleh ke arah istrinya, Haji Ramli menunjuk pada bulan yang baru saja melenggang. Mak Yek ikut mendongak, berlagak seolah ahli astronomi. “Tidak ada yang aneh dengan bentuk bulannya. Bukannya bentuk bulan di akhir-akhir Ramadhan memang seperti itu?” Kerutan di kening Mak Yek kian dalam. Lehernya pun mulai pegal.

“Itu, coba kauperhatikan lebih teliti. Bukannya itu terlihat seperti bentuk setengah bejana?” Tampak kesal dengan kebodohan istrinya, Haji Ramli ngotot menyuruh istrinya itu untuk tetap melihat ke arah bulan yang tampak samar pada langit senja.

“Itu berarti malam ini adalah malam Lailatul Qadar. Mungkin karena hatimu yang masih belum bersih sehingga kau tidak melihatnya seperti yang aku lihat.” Wajah Haji Ramli untuk pertama kalinya terlihat begitu berbinar. Sedangkan Mak Yek, bibirnya terlihat manyun; namun sekali lagi mendongakkan kepala sambil menahan pegal. Bulannya baru saja tersaput mendung.

Dan gerimis pun merinai. Berbarengan dengan bunyi seurunee tanda tibanya waktu berbuka puasa dari radio yang sengaja dihidupkan sedari tadi oleh Mak Yek.

Haji Ramli makan dengan sangat lahap. Binar di matanya terlihat begitu nyata. Meskipun azan Maghrib sudah hampir selesai, dia  masih juga tidak beranjak. Bahkan, lelaki itu kembali menyendokkan nasi dan pecal  ke dalam piringnya. Di luar, hujan mulai menderas. Mak Yek menatap heran pada suaminya.

“Untuk mendapatkan hasil yang terbaik di malam Lailatul Qadar, aku butuh banyak tenaga. Kau juga, Dah! Seharusnya kau tidak tidur malam ini. Mohonkanlah keampunan dari Allah untuk setiap dosa yang sudah kaulakukan. Terlebih, untuk kebiasaanmu yang tak henti bergosip itu.” Masih dengan mulut mengunyah, Haji Ramli seolah mengerti tatapan heran istrinya.

Sama sekali tidak menyahuti perkataan suaminya, Mak Yek mengambil kantung plastik dari tumpukan plastik bekas yang tergantung pada dinding dekat pintu dan memakai di kepalanya seperti memakai topi. Perlahan, perempuan itu menyeret tubuh bongsornya menuju sumur di bawah tarian hujan.

“Jika memang benar malam ini adalah malam Lailatul Qadar, ampunilah dosa-dosaku ya Allah! Dan seandainya pun malam ini bukanlah malam Qadar, aku tetap memohon keampunan dari-Mu, Allah!” Terdengar lirih suara Mak Yek. Seusai shalat, perempuan itu terlihat begitu khusyuk berdoa, terlebih ketika mengingat sindiran suaminya tentang kebiasaannya yang suka bergunjing.

Baru saja Mak Yek membuka Quran-nya, lampu tiba-tiba padam. Sementara suara hujan kian deras menerpa atap seng rumah mereka. Terdengar teriakan suaminya dari arah dapur.

Tergopoh-gopoh, Mak Yek mencari senter dan menyalakan lampu teplok. Suara petir yang menggelegar membuat Mak Yek terlonjak dan hampir menjatuhkan lampu teplok yang sedang dipegangnya. Perempuan itu tidak pernah bisa meredam ketakutannya pada suara petir.

Setelah menggantungkan lampu teplok di dinding dapur, Mak Yek bergegas mengambil dan mengisi tempat cuci tangan yang baru setelah melihat yang sebelumnya terjatuh dan pecah tersenggol tangan suaminya pada saat mati lampu tadi. Dalam keremangan cahaya, Mak Yek melihat wajah Haji Ramli kembali pias. Gelisah yang tadi menghilang entah ke mana, kini kembali hadir dan membentuk galur kekecewaan. Mak Yek meletakkan tempat kobokan itu di samping suaminya.

“Tidak ada malam Qadar yang sekelam ini.” Mendengar gumaman suaminya itu, Mak Yek menahan napas dan menghembuskannya perlahan. Perasaan iba yang tiba-tiba menyeruak saat menatap kekecewaan di wajah suaminya itu membuat Mak Yek terdiam. Haji Ramli terlihat semakin lesu, sementara hujan tetap menderas di langit kelam. Dan Magrib pun kian berlalu.

* Rinal Sahputra  berprofesi sebagai dokter

Dimuat di Harian Serambi http://aceh.tribunnews.com/2013/07/21/malam-qadar-haji-ramli

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here