Mutiara Pengganti Bunda

Ilustrasi: www.bestmakeupshop.com
Ilustrasi: www.bestmakeupshop.com

Oleh: Inka Nazira

Kuhadapkan wajah ke depan mentari pagi, udara segar menembus masuk ke dalam sumsum tulang. Aku segera bangkit dari kasur yang begitu empuk, membereskan tempat tidur, lalu beranjak ke kamar mandi. Aku berwudhu, tidak lain ialah untuk menunaikan ibadah salat subuh. Begitu nyaman ketika bisa dekat dengat Rabbku. Sebab banyak do’a yang akan kulantunkan kepadaNya. Termasuk mendo’akan orang tuaku, sungguh aku sangat menyayangi mereka.

Namaku Kaimilah, mungkin nama yang begitu norak jika didengar oleh anak-anak zaman modern ini. Ya, mungkin orangtuaku mempunyai makna tersendiri di balik nama itu. Sedangkan adikku bernama Sakinah, begitu sederhana dan juga mempunyai arti tersendiri bagi orang tua kami. Sebagai anak tertua, tentunya aku harus menjadi teladan bagi Sakinah.

Hari ini adalah minggu. Kami sekeluarga berencana untuk berkunjung ke rumah nenek. Sudah lama juga rasanya tidak berkumpul di sana. Dan tepat pada pukul 08.00, kami sudah berangkat menuju tempat nenek dengan mengendarai mobil Avanza berwarna silver. Tidak terlalu jauh, kurang lebih perjalanan 1 jam dari tempat tinggal kami. Canda gurau Sakinah yang masih kecil cukup membuat kami terhibur. Sungguh bahagia rasanya berada di tengah keluarga kecil ini. Walaupun hanya di waktu senggang begini, kami bisa berkumpul bersama. Karena ayah dan ibuku pekerja kantoran.

Tidak terasa, setelah 1 jam perjalanan akhinya tiba juga kami di tujuan. Nenek tampak bahagia menyambut kedatangan kami, begitu pula kami yang sudah sangat rindu padanya. Dan ternyata keluarga besar kami juga sudah berkumpul di sana. Tentu menjadi hari yang paling bahagia, bisa berkumpul dengan mereka. Bergurau bersama, tertawa bersama, apalagi melihat kelakuan anggota keluargaku yang penuh canda. Tapi, cuma seharian ini kami bisa berkumpul, sebab besok aku mesti kembali ke sekolah, sedang orang tuaku juga harus masuk kantor. Terasa begitu cepat waktu berputar, ingin rasanya berkumpul kembali.

Setelah magrib kami pun bersiap-siap untuk kembali ke rumahku. Setelah berpamitan pada nenek dan keluarga besar lain, kami langsung berangkat. Dan tiba-tiba di dalam mobil, ibu berkata padaku, “Nanti kalau Bunda udah enggak ada, Kakak sama Adek jangan lupa selalu nyempatin waktu buat pulang ke rumah Nenek, ya,”

Aku hanya mengiyakan, tanpa muncul firasat apa-apa. Namun nahas, sekitar 15 menit setelah ibu berkata seperti demikian, kami mengalami kecelakaan. Ibu meninggal di tempat, ayah dan Sakinah mengalami luka parah, sedangkan aku hanya mengalami luka ringan. Setiba di rumah sakit, jenazah ibu langsung diautopsi, Sakinah dan ayah dilarikan ke ruang ICU. Aku sekedar dinfus, dan sedikit perawatan untuk luka-luka kecil yang kualami. Selang 20 menit kemudian, keluarga besarku pun langsung berdatangan. Dan di saat itulah, aku terus menangis sejadi-jadinya.

Keesokan harinya, kala jenazah ibu hendak dikebumikan. Dalam kondisi yang masih sangat lemah, aku tetap bersikeras untuk menatap wajah ibu yang terakhir kalinya. Ingin rasanya mencium kening ibu, dan memeluknya dengan sanggat erat. Mungkin hal yang paling konyol saat itu, aku mengharapkan agar ibu hidup kembali. Aku sangat tidak mau jauh darinya, dan berharap untuk selalu bersamanya. Tidak henti dengan itu, aku sempat tidak sadarkan diri, begitu tersadar ketika jenazah akan disalatkan. Nenek yang mendorongku supaya bisa tegar dengan kejadian ini. Akhirnya aku pun langsung berwudhu, agar bisa ikut menyalatkan ibu. Setelah itu aku langsung menuju kamar, dan kembali menangis sejadi-jadinya lagi.

Terpikir olehku, siapa yang akan mengurus Sakinah yang masih sangat kecil? Pikiranku kacau, sahabat-sahabatku terus berdatangan, tetapi aku enggan keluar. Tidak ingin diganggu, aku ingin sendiri, aku hanya menginginkan ibuku kembali. Akan tetapi nenek terus mencoba menasehatiku. Katanya, aku tidak boleh terus terpuruk seperti ini, aku harus bisa bangkit. Sebab itu pula, aku terpaksa keluar untuk menemui teman-temanku yang sudah lama menunggu di luar sana. Mereka mencoba merubah keadaan dari sedih menjadi senang, tetapi aku tetap seperti ini. Aku terus melamun dan menjatuhkan air mata.

Sedikit lega rasanya, ketika salah satu saudara mengabarkan ayah dan Sakinah mulai membaik. Mungkin satu atau dua hari lagi bisa kembali ke rumah. Aku pun mulai bisa berbicara dengan kawan-kawanku. Walaupun sesekali aku tetap menjatuhkan air mata. Mungkin  mereka bisa mengerti keadaanku saat ini. Aku baru merasakan bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang begitu kita cintai. Mereka terus menghiburku.

“Key, kamu harus lebih sabar dalam menghadapi cobaan ini,”

Aku hanya bisa menatap wajahnya, melihat foto-foto yang bertempelan di dinding. Seperti tidak sadar, aku bangkit dan mengambil salah satu foto yang ada di sana. Tidak salah lagi, itulah foto ibu, aku memeluk dan mencium foto itu. Kawan-kawanku pun berpamitan, karena bisa dikatakan mereka sudah lumayan lama di sini.

Setelah kawan-kawanku pulang, aku langsung kembali menuju kamar, dan lagi-lagi menangis. Aku terus memeluk foto ibu seharian. Nenek menyuruhku untuk makan, tetapi aku tidak mau.

“Aku hanya ingin masakan Bunda! Kalau tidak ada masakan Bunda, aku tidak mau makan!” teriakku.

Spontan nenek berlinangan air mata. Aku mulai tidak mau memikirkan siapapun, aku tetap bersikeras menginginkan ibu kembali. Seharian penuh aku terus menangis. Walaupun tidak ada sedikitpun makanan yang ada di dalam tubuh, aku masih merasa begitu kuat.

Keesokan harinya, hari ke dua setelah kepergian ibu. Ayah dan Sakinah diizinkan untuk pulang, dan aku hanya menunggu mereka tiba di rumah. Rekan-rekan ibu terus berdatangan, mereka mengucapkan belasungkawa. Tidak lama kemudian ayah dan Sakinah tiba juga, aku langsung memeluk mereka dan kembali menangis sebisanya.

Mendadak Sakinah bertanya, “Mengapa banyak orang di rumah?”

Aku tidak menjawab apa-apa, hanya nenek memberitahu, bahwa ibu sudah meninggal.

Tapi Sakinah kembali bertanya, “Apa itu meninggal?”

Dengan sabar juga nenek menjelaskan. Baru saat itu Sakinah memahaminya, dan dia pun langsung menangis. Masih sangat kecil rasanya ditinggalkan oleh seorang ibu. Tamu terus berdatanngan, mulai dari saudara, kerabat dan sebagainya.

***

Enam bulan sudah aku hidup tanpa seorang ibu. Aku sangat merindukannya. Allah tentu sudah merencanakan yang lebih baik dari itu. Seluruh keluargaku hari ini berkumpul, aku tidak tahu apa yang ingin dibahas. Ternyata mereka membicarakan bahwa ayah akan menikah lagi, dan berarti aku mempunyai ibu tiri. Sempat aku ingin menolak, tetapi tidak berani. Aku berkumpul bersama keluarga, saat itulah keluargaku membicarakan tentang calon ibu tiriku. Sejujurnya, aku sangat keberatan ketika mengetahui siapa calon ibu tiriku. Sebab ia adalah sahabat dari almarhumah ibu.

Ayahku langsung memalingkan wajahnya ke hadapanku, lalu menanyakan persetujuanku. Aku masih bimbang dengan pertanyaan itu. Tetapi tidak boleh juga aku egois. Maka aku pun langsung menjawab, setuju. Walaupun aku sedikit kurang setuju. Dan karena semua sudah setuju, ayah pun berniat untuk mempercepat pernikahannya.

Dua bulan kemudian sahabat ibu kandungku itu benar-benar sudah menjadi ibu tiriku. Namanya Susi, ayah menyuruh aku memanggilnya bunda. Spontan aku menjawab, tidak mau. Hanya ibu kandungku yang boleh dipanggil bunda. Ayah dan ibu tiriku tidak menjawab ap-apa. Nenek menyarankan, bagaimana kalau panggil ibu saja. Aku langsung berpikir dan tidak lama, aku pun menjawab, iya.

Hari-hariku terasa berbeda setelah ada ibu tiriku. Ia mulai memasak makanan yang biasanya dimasak oleh Almarhumah. Mencoba mengubah keadaan, dan sedikit demi sedikit aku mulai bisa menerima kehadirannya. Tetapi aku juga tidak bisa melupakan kenangan bersama bundaku.  []

 

-Penulis merupakan siswi kelas X di SMAN 1 Muara Batu, Kreung Mane – Aceh Utara.

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here