Pagi, Siang, Malam; Aku Tahu Kau Selalu Ada

Saat pagi..
awan-awan masih memutih
langit pun tetap membiru, sedikit pucat ia
dan rumput-rumput di pelataran kelihatan ceria
daun-daun di percabangan pun masih basah dengan embun
yang dicipta dari butir-butir air atap alami
batu-batu di taman tampak kaku
karena hawa dingin pagi yang membisu
pagi ini hujan.
Saat siang..
sebagian mulai melemah, sebagian lagi
masih terus saja memacu jiwanya untuk bersemangat
matahari kadang begitu menyengat
sinar dan energinya pun berkilauan
memedihkan kedua bola mata manusia
rumput-rumput yang sepagi tadi ceria kini melesu jua
batu-batu menghitam tanda panasnya
dan awan bersama langit masih tetap sama
sekalipun siang ini sama; hujan.
Saat malam..
yang bimbang mulai bersuara
udara dingin menusuk daging dan seikat tulang manusia
selimut seratan kain menjelma laris di tiap-tiap rumah
jendela tak diizinkan terbuka, semili pun tidak
sadarlah mereka, ini saat yang tepat demi bicara
hujan; seringkali mampu menjadi sarana dialog
telepati, dengan hati
ia tak peduli seberapa jauh jarak yang dihadapi
hujan; selalu jadi yang ter-setia berbagi
sebab malam ini masih sama; hujan.
bear-hujan
“Ada yang percaya bahwa di dalam hujan terdapat lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu sesuatu. Senandung rindu yang bisa meresonansi ingatan masa lalu.” – Yoana Dianika, Hujan punya Cerita tentang Kita
Duhai hujan, aku tahu kau selalu ada.
Kau, yang dijadikan perantara turunnya cinta, berkah dan rahmat dari Tuhan kami, Allah.
Kau, yang dijadikan perantara perbincangan hati manusia yang dipisahkan jarak.
Kau, yang dijadikan bukti bahwa lepas badai akan ada pelangi indah yang menanti; wujud pemakna dari firman-Nya: “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
Kau, hujan. Ya, Kau.
Kau selalu ada, karena Allah tidak pernah tidur. Karena Allah tidak pernah jauh, Dia dekat, lebih dekat dari urat leher manusia, yang agaknya masih kurang rasa syukurnya.
FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here