Ada Apa dengan Romantis?

Oleh: Alfi Rahman

Saya teringat ketika mengikuti pelatihan persiapan pranikah yang diikuti oleh laki-laki dan perempuan yang memang kebanyakan belum menikah. Para lajangers datang dengan malu-malu namun antusias. Pada saat acara dimulai, pembicara mengadakan survei kecil-kecilan dan tentu saja objeknya adala para lajangers tersebut.

“Silahkan menuliskan kriteria tentang pasangan idaman Anda.” Pembicara mengarahkan dan memberikan waktu 5 menit untuk menuliskannya di kertas yang telah disediakan.  Pesertapun mulai sibuk menulis. Ada yang serius sambil berimajinasi, ada pula tersenyum-senyum penuh arti, sesekali menengadah ke langit-langit.

Dan tibalah saat hasil survei dibacakan satu persatu.
“Kalo saya yang penting akhwat itu smart, cantik juga nggak apa-apa, nggak masalah juga dia orang kaya, bla-bla…” kalimat tu disambut suara gemuruh di barisan peserta laki-laki.
“Ikhwan idaman saya adalah satu romantis, dua minimal strata satu, tiga memiliki motivasi kerja yang baik, empat mampu berkomunikasi, bla-bla…” kembali suara gemuruh di barisan laki-laki saat kertas salah seorang peserta perempuan dibacakan. Pasangan idaman atau iklan lowongan kerja?

Setelah semua diinventarisir, tampak bahwa laki-laki cenderung mencantumkan kriteria fisik walau bukan dengan kalimat ekstrim. “Ya… cantik juga nggak apa-apa,” atau “Yang penting enak diliatlah,” dan “Standarlah…”

Sementara semua peserta perempuan sepakat mencamtunkan kriteria ‘romantis’ adalah syarat bagi pasangan idaman mereka.
Dua kutub gaya berpikir menunjukkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Terlepas dari berbagai macam teori atau polemik yang menyatakan bahwa perbedaan tersebut sebagai hasil the law of father atas sistem patriarki. Saya sedang tidak membahas tentang polemik tersebut.

Ada yang menggelitik di ruang berpikir saya saat itu, bahwa semua peserta perempuan ternyata merasa penting untuk mencantumkan kriteria romantis. Ada Apa Dengan Romantis (AADR)? Atau mungkin pikiran yang sama akan muncul pada benak para perempuan mengapa laki-laki justru menempatkan kriteria fisik? Padahal tidak semua perempuan ditakdirkan memiliki wajah yang elok rupawan sebagaimana para artis. Nah, inilah perbedaan yang pernah menyelimuti pikiran saya beberapa saat.

Pertanyaan AADR ini mengingatkan saya saat tanpa sengaja menonton kartun Timmy Turner milik salah seorang keponakan saya.
‘Andai di dunia ini laki-laki dan perempuan dipisahkan, aku kesal dengan anak perempuan!” Timmy berteriak.
Rengekan Timmy mendapat sambutan dua peri hebat. Jadilah dunia dibagi dua. Women City berupa dominasi pink seantero kota, salon kecantikan bertaburan, mal menyediakan berbagai kebutuhan perempuan, jamuan makan berkelas, pesta yang meriah, dan tentu saja tidak ketinggalan gossip.

Timmy bersorak riang tatkala para laki-laki mendapatkan kota dalam kondisi tanpa kehadiran seorangpun makhluk yang bernama perempuan dan tentu saja no pink, no salon, no mall, dan tentu saja tanpa gossip. Bebas melakukan kegiatan khas laki-laki. Berkelahi antar gang, bahkan dapat berkata kasar dan jorok tanpa harus memikirkan perasaan perempuan, asik di arena pacuan kuda. Aroma macho menghiasi Men City.

At last Timmy pun tersadar bahwa dunia sungguh menyiksa ketika para laki-laki dan perempuan harus dipisahkan karena berbagai perbedaan tersebut. Bahwa ada yang kurang asyik ketika peran-peran yang selama ini dikuasai perempuan justru menuai kesulitan ketika mereka tidak ada.

Negative thinkingnya Timmy mungkin sama ketika saya memunculkan pertanyaan AADR. Pertanyaan AADR sesungguhnya adalah sebuah khasanah kehidupan bagi cara berpikir saya. Persis seperti Tammy.Perbedaan dari segi apapun antara laki-laki dan perempuan sesungguhnya memperkaya pemahaman. Saya pun menemukan bahwa ada juga di antara sebagian laki-laki menyenangi romantis ini. Apapun perbedaan yang tercipta adalah karya terbaik sang Pencipta. Perbedaan bukan untuk adu tanding antara laki-laki dengan perempuan dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing. Adalah indah ketika menyatukan dan mensejajarkan dalam sebuah kekayaan jiwa. AADR? Ya gitu, deh.

*telah dimuat di Annida No. 09 bulan Mei 2006

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here