Bersama dalam Cinta

Manusia bisa memiliki rencana-rencana indah.  Allah sebaik-baiknya pembuat rencana.  Hidup yang kujalani selalu memberiku pilihan-pilihan sulit.  Menakar prioritas, menilai kemungkinan-kemungkinan, mengukur kesanggupan diri menjalaninya.  Bulan April tahun lalu,  aku berbincang dengan suami di Makassar.  Kami membahas kepindahanku dan anak-anak ke Makassar.  Saat itu telah berjalan satu tahun kami terpisah jarak.  Suami bekerja di Palu, Sulawesi Selatan. Sedangkan aku dan anak-anak menetap di Bandung.  Aku sengaja datang ke Makassar untuk menjajaki kemungkinan menyusul dan tinggal di Sulawesi.

Cukup berat memutuskan itu, karena anak-anak yang besar sudah tak mau ikut pindah.  Sebagai seorang ibu, rasanya berat sekali harus meninggalkan anak-anak yang sedang menginjak usia remaja. Sementara membiarkan suami terus sendirian di rantau juga tak membuatku nyaman.  Ada tarik menarik dalam batin ini. Aku menyadari betul bahwa kewajiban seorang istri adalah mendampingi suaminya.  Namun mendampingi anak-anak remajaku di dunia yang semakin “ngeri” ini juga tak kalah penting.  Ditambah lagi saat ini amanahku bertambah menjadi pendidik di playgroup dan tempat penitipan anak, salah satu impianku yang terkubur sejak lama. Walaupun sedih, aku ikhlas bila harus melepas kembali impian itu, tapi meninggalkan anak-anak yang akan menghadapi Ujian Nasional tahun depan merupakan hal terberat.

Setiap diskusi seringkali berakhir dengan kebuntuan.  Apalagi bila sudah dibenturkan pada kewajiban mana yang lebih utama, maka tak ada pilihan lain bagiku selain menyusul suami. Setiap malam airmata mengalir dalam doa. Aku tak ingin mempertanyakan takdir, namun terkadang semua ini terasa begitu berat.  Aku tak ingin memilih antara suami dan anak-anak, namun pilihan itu yang kini ada di hadapan. Akhirnya aku serahkan segalanya pada Sang Sutradara.  Bila kehendakNya adalah aku mendampingi suami, maka Ia yang akan menjaga anak-anak untukku.

Beberapa bulan berselang, ada kabar bahwa suami akan pindah tugas ke Medan. Tentu saja kabar ini merubah rancangan yang telah kami diskusikan sebelumnya.  Rencana kepindahan sekolah si kecil dan tempat tinggal pun beralih ke Medan.  Syukurnya setelah 7,5 tahun tinggal di sana, Medan sudah seperti kampung halaman kedua bagi kami. Lebih ringan melangkahkan kaki ke sana, karena sudah banyak saudara baru kami di Medan.  Segala persiapan mulai kami lakukan, walaupun tetap ada peperangan batin saat membayangkan harus meninggalkan dua anakku di Bandung.

Rupanya Allah kembali memberikan kami pilihan.  Satu bulan menjelang kepindahan ke Medan, suami mendapat tawaran pekerjaan di tempat lain.  Kami berharap pekerjaan itu menempatkan suami di Jakarta.  Setelah melalui kebimbangan dan diskusi, akhirnya kesempatan pindah ke Medan dilepaskan.

Satu bulan berselang, belum juga ada kabar penempatan baru untuk suami.  Sungguh kami, terutama suami mulai gelisah. Sisi manusiawi mulai tergoda untuk berandai-andai, kemudian menyelipkan penyesalan atas keputusan sebelumnya.  Alhamdulillah Allah masih menjaga hati kami untuk beristighfar dan yakin pada skenarioNya.

Selanjutnya kami menikmati saja apa yang sedang diberikan Allah.  Menikmati kebersamaan yang selama ini hilang tersebab jarak yang memisahkan.  Beberapa kali mata ini menghangat saat melihat anak gadisku berangkat sekolah diantar Ayahnya.  Hal yang sebelumnya langka terjadi.  Aku menikmati setiap perbincangan dan candaan, bahkan perdebatan yang kadang terjadi karena urusan kecil di rumah.  Selama Ayah di rumah, si kecil ikut berjamaah ke mesjid, dijemput dari sekolah untuk shalat Jumat.  Sorenya mereka berdua menjemput aku sepulang mengajar di sekolah.  Allah memberikan kemewahan ini dan kami bersyukur karenanya.  Hei, bukankah rencanaNya begitu indah?

Kini episode baru kehidupan kami sudah terbentang di hadapan.  Suamiku ditempatkan di Surabaya.  Mengingat jarak yang tidak terlalu jauh dari Bandung, beliau mengikhlaskanku menemani anak-anak di Bandung.  Paling tidak hingga mereka menyelesaikan Ujian Nasionalnya.   Kadang saat merenung, aku tersenyum sendiri.  Betapa Allah begitu mencintaiku.  Memberiku berbagai kejutan dan tempaan keimanan. Mengujiku berkali-kali, tak bosan memberiku pilihan, membuatku puyeng dengan rencana-rencana. Namun pada akhirnya membuatku menyerah dan yakin akan rencanaNya. Justru di saat kepasrahanku begitu penuh, Ia memberikan kami keputusan terbaikNya.  Subhanallah.

Alhamdulillah di awal episode baru ini aku masih bisa menemaninya mencari tempat tinggal di Surabaya. Mencium punggung tangannya di hari pertama perjuangannya. Menyambutnya saat pulang dari bekerja. Mengumpulkan kekuatan bersama untuk kembali menjalani hubungan yang terpisah jarak dan waktu.

Hari ini adalah hari terakhirku menemaninya di Surabaya. Esok aku kembali ke Bandung.  Merengkuh ketiga buah hatiku dalam bimbingan. Menjumpai kembali wajah-wajah polos di sekolah. Menggenapkan amanahNya di dunia ini. Menjadi bermanfaat bagi orang-orang yang kukasihi. Mengiringi suamiku dengan doa yang menembus langitNya.  Dialah Sang Maha Penjaga.  Dialah Sang Maha Sutradara. Sedang kehidupan adalah tempatku menjalankan sebaik-baiknya peran.  Apapun itu, kami yakin Allah telah memilihkannya dengan tepat.  Tugasku sekarang, menikmati setiap lelah, mensyukuri setiap tawa, memaknai setiap perjumpaan. Senantiasa meyakini setiap rencana indahNya. Tak putus berharap Ia akan mempersatukan kami kelak di JannahNya.  Di setiap kelelahanku, hanya satu yang kumiliki.  Hasbunallah wa ni’mal wakiil ni’mal maula wa ni’mal nashiir, cukuplah Allah menjadi penolong bagi kami dan Dialah sebaik-baik pelindung.

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here