Bersama Kita (Tidak) Selalu Bisa

Berkarya dalam komunitas itu menyebalkan.

Sebab dengan adanya komunitas, akan ada mulut-mulut cerewet yang terus menerus berulang meneriakkan, “Berkaryalah!” atau “Produktiflah!” atau yang lebih lembut, “Kamu sudah menulis apa hari ini? Minggu ini? Bulan ini? Tahun ini? Wah, belum? Jadi, kamu ngapain aja selama ini?”

Berkarya dalam komunitas itu menyesakkan.

Sebab ada yang namanya bedah karya. Tempat dimana teman-teman yang selama ini tersenyum cemerlang, mendadak menelanjangi, menguliti, mengoyak-ngoyak, bahkan berpesta pora menyantap ‘daging’ karya yang selama ini kita sayangi dengan pisau analisa dan bom cabe kritikan mereka. Karya yang selama ini kita lihat sangat cemerlang, begitu berkilau bagai berlian, ternyata tidak lebih berharga dari batu hitam yang biasa diinjak orang-orang di jalan. Karya yang kita lihat bagaikan seorang bayi yang tampan dengan rambut lebat dan senyum lucu, ternyata tidak lebih dari sosok Frankenstein dengan wajahnya yang tambal sulam.

Berkarya dalam komunitas itu melelahkan.

Sebab tidak ada lagi teman bernama kemalasan boleh menemani hari-hari seorang penulis. Tidak ada waktu leyeh-leyeh untuk tidur siang dan sekedar berbagi gosip tentang Sponge Bob dengan tetangga sebelah. Ide yang berkejaran seperti seekor cheetah mengejar istri harus ditangkap dengan rajin. Agar tidak tertinggal jauh dengan para teman sesama penulis yang telah berkiprah di majalah, koran, blog, hingga ajang lomba nasional-internasional.

Berkarya dalam komunitas itu menyedihkan.

Sebab akan ada orang-orang yang berbeda pendapat, orang-orang yang berbeda karakter, bahkan mungkin terasa ‘kejam’. Akan ada perselisihan kecil sampai perang dunia, yang mungkin akan menjadikan air mata menitik di penghujung senja, sebelum kata maaf terucap sempurna.

Ah… berapa panjang lagi daftar ini harus saya tulis?

Sebab memang berkarya dalam komunitas itu tidak selalu seindah pelangi, semegah angkasa, semeriah pesta penobatan Ratu Elizabeth, senyaman Hotel Hilton di Paris, setenang iktikaf di Masjidil Haram, sedamai menghafal Al-Qur’an ditemani iringan ombak di suatu fajar. Sebab mungkin saja berkarya dalam komunitas itu tidak lantas menghasilkan dobrakan karya yang mememangkan Khatulistiwa Award, Nobel Sastra, ataupun sekedar penghargaan Karang Taruna. Atau bahkan tidak juga membuat cerpen, puisi, dan puluhan status di Facebook, Twitter, Path, dll mendapatkan satu juta likers. Berkarya dalam komunitas tidak selalu seperti itu.

Namun sedikitnya, berkarya dalam komunitas itu seperti gerombolan ikan cod yang berenang yang di lautan, gerombolan zebra di padang sabana, gerombolan rusa yang tengah merumput, gerombolan penguin di tengah padang es, selalu tidak ada kata ‘kesepian’. Selalu ada pengingat, orang yang tertawa, orang yang memuji, orang yang mengkritisi. Itu semua, membuat cahaya dan warna dalam karya. Selebihnya, berkarya dalam komunitas membuat kita yakin, bahwa kita tidak pernah sendiri.

Berkarya dalam komunitas, membuat karya kita tidak egois. Sebab karya itu disemat dengan cinta dari orang lain. Jika Stephen King punya istrinya, Tabitha, yang selalu membaca dan mengkritisi karyanya sehingga membuatnya lebih baik, maka berkarya dalam komunitas menjadikan kita punya beberapa, belasan, bahkan puluhan Tabitha yang menjadikan karya kita puluhan kali lebih baik.

Berkarya dalam komunitas, menjadikan kita peduli. Bukan hanya kita yang ingin menulis, bukan hanya kita yang ingin berkarya. Maka kita belajar, dan mengajarkan secuil ilmu yang kita punya dalam kritik sastra, kelas menulis, workshop, sebutlah apapun itu. Kita senang mengeja aksara, maka kita berusaha agar orang lain punya kesempatan yang sama. Kita dirikan taman bacaan, kita kumpulkan buku untuk para pengejar aksara.

Maka selalu ada alasan, untuk berkarya dalam komunitas, untuk berbagi.

*Gambar dari: http://cynthiavenikalioe.com/wp-content/uploads/2012/11/togetherness_cropped.jpg

*Milad FLP Aceh ke-13. Berbakti, berkarya, berarti. 

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here