MANUSIA 3/4 ROBOT

Baru-baru ini, saya membaca sebuah buku menarik: The Digital God.

Dengan taglineSearching for god footprints”, buku ini mengangkat topik Artificial¬†Intelligence¬†(Kecerdasan Buatan). Dikisahkan, 6 orang ilmuwan yang bergelut dalam bidang berbeda berada dalam satu proyek rahasia: Trinity. Ini adalah suatu proyek penciptaan super komputer yang berbasis pada komputer pintar yang tidak hanya bisa menyimpan dan mengolah data, namun memiliki kecerdasan yang dapat dikembangkan. Komputer ini nantinya dapat belajar, dapat menganalisa, bahkan dapat mengambil inisiatif dan keputusan! Lengkaplah bencana yang timbul saat Proyek Trinity ini berhasil terlaksana. Dunia kocar-kacir, indeks saham dikacaukan, bahkan sebuah kota dapat dihancurkan melalui banjir yang disebabkan rusaknya kode pintu bendungan.

Ini fiksi, kita semua tahu. Ada beberapa fiksi lainnya yang juga membahas tentang kecerdasan buatan, dalam bentuk robot misalnya , contohnya Terminator, The Matrix, dan beberapa film sejenis. Melalui robot-robot yang super cerdas, dunia dikuasai. Bahkan secara ekstrim, dalam film The Matrix digambarkan bahwa persaingan manusia dengan robot tidak hanya di tingkat perebutan lahan dan pekerjaan, namun sampai pada kekuasaan. Robot menguasai manusia, bukan sebaliknya. Ada juga film yang menggambarkan kecerdasan buatan ini diberikan pada virus, sehingga lahirlah virus-virus super cerdas yang dapat menjadi penyakit mengerikan, bermutasi, bahkan menghasilkan zombie yang berkeliaran di kota dan memakan manusia.

Faktanya, kecerdasan buatan ini ada. Saya ingat suatu tayangan televisi yang menggambarkan robot-robot yang telah dibekali dengan kecerdasan buatan. Mereka dapat melakukan banyak hal hampir sebaik manusia. Bisa bermain catur hingga mengalahkan grand master, mengendarai sepeda, bermain basket, menari, dan lain sebagainya. Impian manusia seperti yang terwujud dalam film Doraemon: Nobita and The Robot Kingdom, semakin nyata. Sebuah dunia dimana robot bisa menggantikan fungsi manusia, sehingga pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, pekerjaan kasar, bisa diambil alih oleh robot.

Kecerdasan buatan ini dirancang untuk mesin, bukan untuk manusia. Dalam buku The Digital God digambarkan bahwa komputer dapat berpikir, namun faktanya hingga sekarang kecerdasan buatan hanya dapat dicapai dengan pemberian informasi. Kenapa komputer bisa bermain catur? Bukan karena dia bisa berpikir, menganalisa tiap langkah catur dengan detil, melainkan dengan menggunakan informasi langkah-langkah bermain catur yang telah dimasukkan ke dalamnya terlebih dahulu. Dari puluhan ribu data itu, komputer akan memilih data yang dapat dipergunakannya untuk bermain catur. Dia tidak akan membuat langkah baru yang belum pernah ada dalam sejarah. Begitu saja.

Inilah perbedaan besarnya kecerdasan mesin dan manusia. Manusia tidak hanya dapat memanfaatkan informasi yang diberikan, namun kecerdasannya juga terbangun dari insting dan inisiatif. Naluri, imajinasi, atau yang kita kenal dengan fitrah memberikan manusia langkah kecerdasan yang tidak dapat terduga, tidak bisa diprediksi, bisa menakjubkan atau malah mencelakakan. Contoh paling sederhana adalah dalam menyontek. Manusia berevolusi dari menyontek ala primitif, modalnya hanya gulungan kertas yang diselipkan dalam kantong baju, menjadi menyontek digital. Modalnya bisa gadget canggih, jam tangan, bahkan pulpen yang ada perekam suara! Meski banyak yang hanya meniru, namun tetap saja ada pencetusnya kan? Berangkat dari imajinasi, hal sederhana pun bisa menakjubkan.

Begitu juga dalam menjawab sebuah persoalan. Manusia dapat punya variasi jawaban yang dapat mencengangkan, tidak terpikirkan. Bukan semata-mata karena informasi yang sudah ada sebelumnya, namun juga karena imajinasi.

Sayangnya adalah, kita sekarang telah terjebak dalam sistem pendidikan ala Artificial Intelligent ini. Sistem pendidikan kita sekarang adalah sistem robot, dimana manusia dicetak untuk mengumpulkan kredit sebanyak-banyaknya melalui rangkaian informasi yang dijejalkan tiap harinya. Yang bisa mengumpulkan paling banyak informasi untuk dimuntahkan di meja ujianlah yang menang. Soal-soal ujian dibuat dalam bentuk pilihan ganda, sama sekali tidak memberikan kesempatan untuk menjawab dengan kreatif. Apakah satu tambah satu harus sama dengan dua? Padahal jika menggunakan bilangan biner, jawabannya adalah 011. Jika ditanyakan pada ahli biologi, jawabannya bisa 7, 10, 11. Yang mana? Kita dikacaukan untuk hanya berpikir satu arah saja. Sehingga wajarlah, ketika dibawa ke ranah yang lebih ahli, para manusia dengan kecerdasan buatan ini kocar-kacir. Tak sanggup berpikir jernih, lalu gantung diri di pohon semangka. Tragis.

Imajinasi lebih penting dari pengetahuan, kata Einstein. Terima kasih untuk pernyataan ini. Lepas dari kita tetap mengakui pentingnya pengetahuan, namun imajinasi memberikan nilai tambahan pada manusia yang tidak dapat dikalahkan oleh komputer, robot, ataupun mesin manapun. Jika institusi pendidikan kita sekarang menolak konsep ini, terus menerus menjejali muridnya dengan tumpukan informasi, maka kemanakah imajinasi akan berlarian?

Ayolah, menolak memasukkan imajinasi dalam sistem pendidikan, hanya akan mencetak robot-robot dengan kecerdasan buatan ketimbang mencetak manusia. Mencetak robot memang tampak luar biasa, namun yakinkah kita bahwa manusia harus kalah dari robot?

Semoga dengan momen Hari Pendidikan ini, akan ada saatnya pendidikan kita mampu berlari. Menjadi lebih manusiawi, bukan robotawi.

 

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here