Memilih untuk Terlibat

Saya pernah melakukan suatu kegiatan di kampus dengan para penderita autisme, pada hari autisme sedunia, 2 April 2010. Saat itu saya berkenalan tidak hanya dengan anak penyandang autisme, namun juga dengan orang tuanya, sebagian besar adalah ibunya. Mereka seperti ibu biasa, dengan cinta kasih berlimpah-limpah. Menatap anaknya yang masih sulit menerjemahkan perhatian, tidak dapat berbicara dengan baik, bahkan beberapa memiliki spektrum hiperaktif-sehingga selalu bergerak ke sana kemari, membuat ibu pontang panting mengejar anaknya agar jangan sampai lari ke jalan raya; semua masih diterjemahkan dengan satu bahasa cinta.

Beberapa dari ibu-ibu ini meneteskan air mata menjelaskan perjuangannya mendidik anaknya. Memastikan sang anak mendapatkan kemampuan minimal untuk bertahan hidup sebagai manusia. Ibu Rita misalnya, mengaku ikhlas dengan keadaan anaknya, hanya berharap bahwa anak tersebut dapat hidup dengan utuh, memiliki kemampuan untuk mengenali hak-haknya agar bisa bertahan, bahkan jika orang tuanya telah tiada.

Menatap ibu-ibu ini, saya tidak punya kata lain: kagum. Mereka berasal dari berbagai profesi dan latar belakang yang beragam. Ada yang berpendidikan tinggi, ada yang tidak. Namun memiliki tekad yang sama kuat untuk melindungi anaknya. Saya ingin bisa seperti mereka: melindungi yang dikasihi dengan apapun yang dimiliki.

Namun entah kenapa, fragmen ini menyadarkan saya bahwa pernah ada kondisi dimana ibu-ibu seperti ini tidak punya kekuasaan apapun untuk melindungi anaknya. Sebab saat itu negara memilih untuk mengambil alih anak-anak yang istimewa ini. Menderetkannya menjadi satu dengan anak-anak spesial lain. Ada yang bisu, lumpuh, buta, retardasi mental, dan semacamnya. Mereka yang dianggap berbeda, dikumpulkan dengan paksa. Diambil dari pelukan orang tuanya yang menjerit untuk mempertahankan anaknya. Dibawa kemana? Bukan untuk dididik. Namun untuk dibariskan lalu dikirim ke kamar gas.

Adakah yang ingat, peristiwa sejarah yang menggetarkan ini?

Ya. Hitler bersama dengan geng NAZI nya dengan brutal mengumpulkan anak-anak dan orang dewasa yang seperti ini. Mereka didata, lalu diambil paksa dari rumahnya untuk kemudian dibantai. Semua hanya dengan alasan sederhana, bahwa orang cacat adalah “unsur yang sakit”, yang harus dibersihkan untuk menjaga kemurnian Ras Arya.

Bisa dibayangkan, saat itu tantangan orang tua bukanlah sekedar untuk menahan diri saat ada orang yang melecehkan anaknya, pasang badan saat anaknya melakukan kesalahan atau merusak, atau penderitaan karena membayangkan masa depan anak. Namun tantangan orang tua adalah memastikan bahwa anaknya tidak terdata, tidak diambil, dan selamat dari pembantaian kamar gas. Tantangannya adalah memastikan anaknya masih punya nyawa untuk menghirup udara besok. Satu hari yang penuh syukur, jika tidak ada pasukan yang datang untuk mengambil anaknya hari itu.

Siapa musuh orang tua di sini? Negara. Ya, saat keadaan itu menjadi hukum, maka menentangnya berarti menentang negara.

Tidak hanya peristiwa sejarah yang sudah lampau itu. Di masa sekarang pun, ada berbagai kisah menggiriskan tentang bagaimana negara dapat merampas anak dari pelukan kasih orang tuanya. Di Australia misalnya, jika ada anak yang dianggap ditelantarkan oleh orang tuanya, maka anak tersebut bisa diambil oleh negara. Jika itu terjadi, jangan harap orang tua dapat melihat anak itu lagi, walau hanya bayangannya. Saya ingat seorang rekan di sana pernah menceritakan tentang triple zero. Karena seringnya kampanye tentang penggunaan triple zero sebagai jalur telepon khusus keadaan darurat kepada anak-anak, mudah bagi anak-anak untuk memanfaatkannya. Suatu hari, ada seorang anak 8 tahun yang baru bangun tidur siang. Panik melihat tidak ada seorang pun di rumah, dia menelpon line triple zero ini. Serentak, seluruh tim medis, pemadam kebakaran, sampai polisi wilayah datang ke lokasi, menemukan si anak yang sedang sendirian di rumah. Anak itu diambil oleh negara dan orang tuanya tidak bisa mengasuhnya lagi. Padahal saat itu, sang ibu hanya sedang keluar sebentar untuk berbelanja di toko sebelah rumahnya!

Bagaimana bisa, kita tidak percaya akan kemampuan negara untuk mempengaruhi kehidupan kita, bahkan dalam hal yang sangat pribadi ini?

Jika negara diatur oleh orang yang ingin mengaturnya seperti itu, maka kekuasaan negara akan sulit dilawan. Dengan akses akan informasi, seluruh jalan keluar bisa ditutup. Jika negara ingin mengatur hukum seketat itu, maka setiap orang bisa dikendalikan seperti bidak catur. Tidak hanya masalah pengasuhan anak. Bahkan cara bicara, berpakaian, sampai apa yang kita makan bisa diatur.

Di sinilah, saya mengerti dan paham pentingnya pendidikan politik bagi kita semua. Selama ini saya, dan mungkin banyak dari kita bangga dengan kebodohan, bangga menjadi orang-orang yang termasuk dalam golongan putih, yang diasosiasikan dengan golongan suci. Bangga menolak terlibat pada sistem yang dirasa kotor, jorok, dan menjijikkan. Jika kita semua terus seperti ini, maka akan kemana kita pergi jika semua tadi benar-benar terjadi? Sebab kita telah membiarkan orang-orang yang kotor, jorok, dan menjijikkan naik ke puncak tampuk kekuasaan. Kita telah membiarkan Hitler-Hitler modern naik ke puncak tahta, merebut anak-anak istimewa kita dari rumah, mengambil anak-anak istimewa lain untuk menjadi tentaranya, lalu mengirimkan foto kematiannya ke rumah kita setelah perang. Akan kemanakah kita saat itu? Kita tidak bisa mengelak dengan mengatakan bahwa kita tidak mengkehendaki peraturan itu ada, berteriak mengatakan bahwa kita tidak terlibat dalam memilih pemimpin itu. Saat pemimpin telah naik ke puncak, semua yang dibawahnya akan terlibat, meski dia menolak terlibat.

Saya tidak ingin menyaksikan hari itu, melihat anak-anak istimewa itu, dan anak-anak lain direnggut dari sisi orang tuanya. Itu hanya satu bagian, dari kehilangan-kehilangan lain yang mungkin terjadi, jika kita membiarkan pemimpin yang salah naik.

Mari kita peduli akan hal ini, sedikit saja. Mari terlibat.

*Oleh Ade Oktiviyari

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here