Penerjemah Subuh

Jika beberapa tahun lalu tuan datang ke kota kelahiran saya, tuan akan melihat bagaimana kuatnya ibadah masyarakat kami pada waktu shubuh. Ribuan surau, meunasah hingga mesjid, tuan hanya akan melihat barisan orang-orang tua yang tengah khusyu menjalankan shalat shubuh. Tidak lebih dari satu shaf. Bahkan, kadang-kadang, hanya satu orang yang datang. Tidak terkecuali di tempat saya tinggal.

Sebagian masyarakat tidak tahu harus berbuat apa. Mau menyalahkan siapa dan siapa yang harus disalahkan. Karena mereka juga bagian dari masyarakat. Kerisauan ini kerap disampaikan melalui kutbah Jumat, pengajian-pengajian, namun semua tausiah itu seperti mental ketika shubuh datang.

Tapi, itu beberapa tahun yang lalu. Sekarang sudah berbeda. Seorang pemuda dari pedalaman telah merubah segalanya. Jumlah shaf di mesjid pada shalat shubuh mulai bertambah.

Nama pemuda itu Amri Fatmi. Di tempat kami, ia biasa di sapa ustadz. Semasa kecil, ia sudah tertarik dan serius membaca buku-buku agama. Kegemaran membaca buku agama akhirnya mengantarkannya untuk melanjutkan pendidikan di di Ruhul Islam Anak Bangsa (pesantren), setamat sekolah dasar. Di pesantren inilah kecintaannya pada ilmu agama semakin tinggi dan membuat dirinya bercita-cita menggali lebih dalam lagi ilmu agama yang dimilikinya.

Alhamdulillah, cita-cita itu tercapai. Atas izin Allah, Amri Fatmi memperoleh beasiswa untuk menuntut ilmu di Negara Mesir. Di negeri para nabi itu, ia gunakan dengan sebaik-baiknya dalam mendalami agama. Tidak hanya di kampus, ia juga juga mengikuti pengajian-pengajian yang di isi oleh para syeikh. Bahkan, ia rela pindah dari satu mesjid ke mesjid lainnya untuk belajar memahami agama.

Dari para syeikh itu, beliau belajar bagaimana membangkitkan kembali semangat menjalankan shalat, khususnya berjamaah di mesjid.

Beliau menyelesaikan pendidikan di Mesir dan meraih predikat Cum Laude, beliau kembali ke kampung halaman, Pidie. Di kota emping melinjo ini, Amir mencoba merintis mengajian. Tepatnya di Menasah Blang Asan, kota Sigli.

Banyak orang yang sebelumnya tidak mengenal pemuda kelahiran Cot Leubat, Kecamatan Teupin Raya, Pidie Jaya, itu. Atas keseriusan dan kegigihannya, akhirnya masyarakat menyadari, bahwa shalat di mesjid tidak hanya Maghrib, Isya ataupun hari Jumat, melainkan juga pada waktu Shubuh.

 Awalnya, setiap malam Kamis selepas Maghrib, ia mengisi pengajian rutin untuk masyarakat. Tak disangka, animo masyarakat ternyata sangat tinggi. Mereka datang berbondong-bondong setiap Amir mengisi pengajian. Masyarakat meminta kepadanya agar pengajian ditambah satu malam. Sejak saat itulah, beliau mengisi pengajian dua malam, yaitu pada malam Kamis dan malam Jumat setelah shalat Maghrib berjamaah.

Ada satu hal yang sangat mengagumkan dari sifat beliau adalah cara beliau menyampaikan ceramah. Walau tetap berpegang teguh pada kebenaran, ia mampu memilah kata dan menjadikannya bahasa yang santun tanpa menyakiti perasaan. Apalagi, bahasa-bahasa yang digunakan tanpa menggunakan “pemaksaan” melainkan “tekanan” pentingnya menjalankan agama dengan baik dan benar.

Tak menunggu lama, beliau menjadi sosok yang ditunggu-tunggu. Tawaran menjadi khatib berdatangan dengan gencar, setiap Jum’at beliau mulai tak lagi shalat di satu masjid. Panitia masjid seluruh Pidie dan Pidie Jaya berebutan mengundang beliau untuk mengisi posisi khutbah Jum’at.

Apakah beliau puas dengan ini? Tidak. Maka kebaikan yang lebih besar terus dilakukan, dari hari ke hari. Hal yang berikutnya yang beliau rintis di Kota Sigli adalah Bank Anak Yatim, dimana para jamaah bisa memberikan sumbangan ke bank ini untuk disalurkan kepada anak yatim yang di seleksi oleh panitia. Dana ini hanya diberikan kepada yang benar-benar memerlukan.

Berikutnya, membangun Darul Qur’an, yaitu rumah pengajian untuk segala usia. Beliau menerima siapa saja yang belum bisa baca Al-Qur’an untuk diajarkan dengan metode Syafi’iyah. Tidak memandang usia, gelar dan jabatan, siapapun boleh belajar di Darul Qur’an. Rintisan beliau yang ketiga adalah Safari Shubuh. Setiap Shubuh minggu beliau bersama Wakil Bupati Pidie, Wakapolres dan unsur Muspida lain bersilaturrahmi ke masjid-masjid.

Keseriusan Ustadz Amir melalui program-program sosial dan spiritualnya menyentuh hati masyarakat. Berbagai kalangan berbondong ingin membantu, ingin berkontribusi dalam beramal. Bahkan ada jamaah pengajian yang menghibahkan rumah untuk dijadikan Darul Qur’an.

Dalam segala hal yang dilakukan Ustadz Amir, yang paling membekas bagi saya adalah kemampuannya untuk mengajak masyarakat kembali shalat berjamaah sewaktu Subuh, hal yang seharusnya biasa bagi masyarakat Aceh yang religius, namun mulai ditinggalkan. Saya ingat, seorang pemain bola internasional yang juga beragama Islam, E’too, pernah mengatakan. “Sesaat sebelum fajar adalah waktu yang paling gelap, jika kau ingin mencuri telur tetanggamu, itulah saatnya”. Walau tidak ada hubungannya langsung dengan Ustad Amir, namun, apa yang dikatakan pemain bola itu jelas sangat berkaitan dengan apa yang dilakukan Ustad Amir. Yaitu menghidupkan kembali jamaah mesjid saat Shubuh. Menghidupkan waktu lalai agar bisa merebut keberkahan.

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here