Percaya pada Sisi Terbaik

Setahun silam, tepat di bulan Maret, saya dan teman saya Devi sedang berada di negeri lain: Budapest, Eropa Timur. Tanah yang sama dengan tempat menjejaknya sejarah komunisme, yang terus berlanjut hingga sekarang. Tanah yang menyimpan kisah tentang perebutan kekuasaan khas Eropa, pertarungan antara umat kristiani, komunisme, dan bangsa Yahudi. Kami juga baru tahu itu di sana, karena tiap brosur yang kami dapat menawarkan paket tur sejarah Yahudi, Kristen, atau komunisme. Belum mulai, perasaan saya mulai mendingin. Apalagi saat disambut oleh wajah-wajah dingin khas Eropa Timur, mulai dari Bandara Internasional Wina, tempat kami mendarat, sampai di sepanjang jalan di bandara.

Lepas dari perasaan bersemangat karena telah tiba di tujuan, saya segera saja merasa tidak aman. Orang-orang yang tidak bisa berbahasa inggris, informasi yang tidak jelas, sampai jadwal keberangkatan bus ke Budapest—lokasi tujuan kami—tidak terdeteksi. Alhasil kami sampai ke Budapest saat sudah malam, sementara tempat tujuan kami sebenarnya, Debrecen—sebuah kota terbesar kedua setelah Budapest—baru bisa kami kunjungi besoknya dengan kereta api. Kami tidak dapat berhubungan dengan contact person dan tidak punya tempat menginap.

Lama berada di terminal bus di Budapest, semua alternatif untuk berangkat ke Debrecen malam itu menjadi mustahil. Lelah menunggu dan mencari informasi, awalnya kami berpikir untuk bermalam di terminal. Selain luas dan hangat, kami menemukan tempat yang bersih dan agak tersembunyi untuk shalat. Suhu di luar juga sangat dingin, suasana sangat sepi seperti kota hantu, sehingga kami enggan beranjak. Namun rencana itu gagal karena terminal itu tutup jam 11 malam. Pukul 10.45 malam waktu Budapest, kami sudah diusir.

“Di depan ada metro.” Informasi petugas sebelum menutup pintu di depan hidung kami. Kami berjalan sedikit di tengah angin yang menggigit kulit, menemukan subway (stasiun bawah tanah) dan metro yang dimaksud. Tapi kami tidak tahu kemana metro itu akan pergi kan? Bimbang, hendak memutuskan apakah kami akan pergi atau tidak, tiba-tiba muncul lagi petugas keamanan yang lain. Dalam balutan seragam biru tebal yang angker, dia menginformasikan bahwa kami tidak dapat duduk di sana dan harus pergi dengan metro, karena setelah itu metro tidak akan beroperasi lagi sampai besok pagi. Dalam kebimbangan, kami naik ke metro itu. Bingung sebingung anak kelinci yang tersesat di sarang rubah.

Devi mengusulkan untuk berhenti di dekat bandara, jadi kami bisa menginap di bandara yang hangat. Namun rupanya, tempat pemberhentian metro itu adalah suatu tempat yang sama sekali asing. Berdua, kami beriringan keluar dari metro menuju kegelapan yang dingin. Tidak tahu harus kemana dan bertanya pada siapa. Di penghujung musim dingin, Budapest jam 12 malam sangat sepi bagai kota mati. Belakangan kami tahu bahwa dari jam 8 malam, kebanyakan toko-toko sudah tutup, orang-orang pulang ke rumah atau masuk ke bar. Sehingga saat itu kami hampir tidak menemukan satu orang pun di jalan.

Panik. Suasana waktu itu sangat dingin. Jaket yang saya pakai tidak sanggup menahan udara dingin menelusup hingga ke tulang. Seluruh sendi seperti dilepas. Sarung tangan dan kaus kaki juga tidak mampu menahan dingin. Padahal waktu itu salju belum turun. Devi yang panik melihat kondisi saya yang menyedihkan, pergi berkeliling, mencari taksi atau informasi hotel atau kendaraan apapun yang dapat digunakan. Terakhir, dia kembali dengan seorang tukang sapu jalan yang berbaju kumal.

“Waktu Devi bilang hotel, dia langsung tunjuk-tunjuk. Ya udah.”

Ternyata tidak hanya menunjuk, laki-laki tua dengan cambang yang tumbuh tidak beraturan itu membawa kami menuju hotel. Dia tidak bisa berbahasa inggris sedikit pun, dan sepertinya hotel adalah salah satu dari sedikit kata di dunia yang dipahami secara global, seperti polisi dan bus. Dia membawa kami menelusuri jalan yang gelap dan berkelok-kelok. Beberapa kali saya berhenti untuk mengambil nafas, karena beratnya beban backpack yang saya bawa. Tapi dia tidak marah, hanya ikut berhenti dan menunggu saya mengikutinya kembali.

Sebenarnya dalam hati, saya waswas. Bagaimana bisa kami tahu dia orang baik? Bisa saja dia adalah penjahat yang mau memanipulasi, lalu merampok dan menikam kami di jalan yang sepi. atau bisa jadi kami sedang dibawa ke markas penjahat. Bagaimana jika begitu? Apalagi jalan yang kami lalui sudah keluar dari jalan besar, melewati pohon-pohon yang tumbuh bersilangan dengan tempat duduk yang gelap, hanya sesekali ada lampu jalan.

Dalam kekalutan saya tak hentinya berdoa, sedang si laki-laki terus berceloteh dalam bahasa Magyar, bahasa nasional Hungaria. Sampai kami tiba di jalan kecil yang gelap, dia mengacungkan jari.

“Bla bla bla hotel.” Hanya itu yang kami tangkap. Lalu dia menghilang di kegelapan malam kembali. Ucapan terima kasih pun hanya bisa kami teriakkan seadanya. Di bahkan tidak berbalik, tidak mencoba meminta upah, atau apapun.

Hanya pergi, begitu saja.

***

Sampai hari terakhir kami di Hungaria, saya tidak pernah bertemu lagi dengan beliau. Walaupun bertemu lagi pun, kami mungkin tidak akan mengenalinya lagi. Karena cambang tebal dan baju kumal yang dipakainya, sangat serupa dengan puluhan gelandangan yang bertebaran di kota sebesar Bupapest.

Namun, jika memang kami bisa bertemu dengannya lagi, saya ingin sekali berterima kasih pada bapak baik hati ini. Sebab hal yang telah dilakukannya, membuat kami percaya: Bahwa kebaikan selalu ada pada setiap orang, siapapun dia. Setelah kejadian itu, sedikit lebih mudah bagi kami berdua untuk menikmati waktu singkat kami di Eropa Timur yang tidak ramah, dengan mempercayai pada keramahan orang asing, dan berbagi senyum pada orang berwajah angker. Karena, bukankah indah, untuk mempercayai sisi terbaik dari setiap orang?

 

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

3 KOMENTAR

  1. yang tidak ramah itu cuacanya kan? Banyak negara di eropa timur kita anggap negara rawan, padahal mereka cukup santun sama pendatang. Itu yg aku tangkap dari beberapa artikel mengenai eropa timur.

  2. Sebenarnya bukan masalah baik buruk. Yang tidak ramah itu karakternya, apalagi bagi orang Asia. Selain ke Hungaria, saya sempat ke beberapa negara. Karakternya serupa, kebanyakan tidak ramah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here