Aira’s 19th Birthday

27

Aku ulang tahun? Benarkah?

Kurasa kalender salah menunjukkan tanggal.

***

Kamar Kos, 06.15 WBA (Waktu Banda Aceh)

Seperti sebelumnya, aku bangun telat lagi. Meski alarm di HP telah kuatur sedini hari mungkin, tetap saja teriakan bocah jepang yang meniup peluit itu tidak sampai ke telingaku. Setelah waktu subuh hamper lewat aku tersentak, sepertinya malaikat yang jengkel menyentilku hingga terduduk. Kakiku menendang laptop yang terletak tepat di sebelah utara ruang kamar, layarnya masih terbuka, seperti saat ia kutinggal tidur setelah menyelesaikan makalah Psikologi Sosial semalam.

Sadar hamper ditinggal subuh, segera kutepuk dua teman yang masing berkelana di kerajaan mimpi masing-masing dan bergegas ke kamar mandi.

***

Kamar Kos, 10.00 WBA

Tanganku meraih ponsel yang masih bernyanyi-nyanyi medley sedari pagi. Kubuka inbox, beberapa pesan teks telah bersarang di sana, ragam redaksi dengan inti yang sama. Kutilik satu persatu nama-nama kontak yang tersusun bertingkat. Ternyata namanya tidak ada.

Mungkinkah mereka lupa? Pura-pura lupa? Terlalu sibuk? Atau tidak ada pulsa? Aku mulai menerka-nerka dengan semangat.

Lelah menanti, kutinggalkan ponsel warisan itu tergeletak di lantai. Dengan penuh harap kunyalakan kembali laptop yang masih kelelahan tanpa rasa bersalah, seraya berdoa supaya modem smartfren milikku hari ini tidak cari-cari masalah.

Begitu Mozilla terbuka, kursor langsung kuarahkan untuk mengklik logo facebook yang tersemat di bookmark toolbar. Masih dengan rasa penasaran kuteliti kiriman yang memenuhi timeline. Ternyata tidak ada juga!

Apa mereka sekongkol? Tak terbantahkan hatiku jadi dongkol. Otakku tidak bisa mencerna fenomena menyebalkan tersebut. Mana mungkin lupa? Bukankah aku sering bercerita tentang teman-teman yang banyak mengucapkan kata ‘selamat ultah’ sebelum tanggalnya? Aneh.

Karena tak sabar, akhirnya kuputuskan untuk memastikan apakah ia sedang tidak ada pulsa atau tidak. Sebaris sms singkat yang menanyakan keberadaannya kukirim dengan segera. Hanya beberapa menit pesanku berbalas.

“Di rumah,” tulisnya sepatah tanpa embel-embel apa pun. Aku ingin meledak membacanya. Bahkan setelah kupancing sedemikian rupa ia tidak juga menyelipkan sedikit kata selamat? Lebih baik tak usah membalas pesanku tadi sekalian! Omelan kecil menggebuk-gebuk jantungku.

***

RK II Psikologi, 14.30 WBA

Kucek lagi kalender berkali-kali. Aku tidak percaya hari ini 27 Maret, pasti salah. Pasti. Tapi pada setiap pesan yang masuk ke ponselku menyertakan detil pengiriman dengan tanggal 27 Maret 2013. Tidak mungkin kan operator salah mencatat tanggal? Tapi aku masih tidak mau percaya. Sekarang aku meragukan diri sendiri, apa aku mulai berdelusi?

Kalau benar… gawat! Ini tidak boleh diteruskan.

Sementara aku duduk mencoret halaman binder, teman-teman mulai mendatangiku satu persatu dan mengucap selamat. Apa tanggal di HP mereka juga salah? Mustahil. Aku meragukan lalu membantah pemikiranku sendiri.

Sekali lagi kulirik HP-ku. Pesan darinya tak juga muncul. Sempat terpikir untuk menegurnya seperti yang pernah dilakukan seorang sahabat saat aku melupakan hari ulang tahunnya. Tapi aku terlalu gengsi. Kuputuskan untuk menunggu. Jika memang sampai esok ia tidak member selamat sama sekali, maka aku akan menerornya.

***

Pelajaran yang sulit kupahami tersebut akhirnya berakhir juga. Selama sang dosen bercerita, aku sibuk menulis catatan ini. Biar saja, karena ini hari pertama ia masuk ke kelas kami, jadi belum ada materi yang di sampaikannya, aku tak perlu repot mencatat ucapannya.

Aku ingin pulang, tapi Echa menahanku. Setelah Ashar ada Study Club Psikologi Kepribadian, aku tidak bisa ikut karena sudah ada janji dengan para penghuni kos. Tapi aku yakin bukan itu alasannya mencegatku. Ucapan-ucapan Ama beberapa hari lalu mengetuk-ngetuk gendang telingaku. Tepung, air dan telur. Bahan-bahan yang seharusnya menjadi adonan kue tersebut mungkin telah berada di suatu tempat di Fakultas ini. Plis deh, kita bukan anak SMA lagi kan?

“Aira, kami ada kue untuk Aira, masa mau pulang terus?” Tutur Echa sambil menggamit lenganku. Gaya khasnya yang manja.

Demi mendengar kata kue mataku berbinar, aku memang belum makan sedari pagi, jadi kebaikan mereka memberiku kue ulang tahun adalah anugrah.

“Tunggu bentar ya kami ambil dulu,” sambungnya lagi. Aku mengangguk lalu melangkah keluar kelas.

***

524127_578964318789099_941342257_n

“Happy birthday to you…” kawan-kawanku serempak menyanyikan lagu ulang tahun seraya mendekat ke arahku. Salah satunya memegang kue, yang lainnya memegang lilin yang angka satunya terlihat agak cacat. Kenapa lilinnya tidak sekalian ditancapkan di kuenya? Aku tidak mengerti.

Tika, orang pertama yang mengirimiku ucapan selamat ulang tahun memintaku meniup lilin yang ada di tangannya.

Aku sedikit tersipu, “kalian buat aku malu.” Pengakuan jujur dari seseorang yang memang tidak pernah merayakan ulang tahun.

Mereka semakin semangat saja melantunkan tembang ulang tahun yang kini terdengar seperti paduan suara yang kurang latihan.

Seperti biasa, adegan selanjutnya adalah acara potong kue dan suap-suapan. Aku melakukannya seperti yang mereka minta, memotong kue – dengan pisau yang belakangan kuketahui milik Kak Mawaddah, menyuapi satu persatu teman-teman yang merencanakan perayaan dadakan tersebut. Setelah kuenya habis, ternyata aku masih dilarang pulang.

Aku melirik jam dengan gusar, Kak Ama mungkin telah menungguku di rumah. Lagi-lagi kuperiksa ponselku, pesan darinya belum dating juga.

Sekarang Echa memintaku membuka kado yang disodorkannya sebelum kue lezat itu dating. Aku menurut tanpa menunggu dipaksa, karena memang harus segera pulang. Sebuah dompet berwarna merah kutemukan di sana. Aku berterimakasih. Entah mengapa mereka memberiku dompet, tapi itu menjadi suatu kebetulan yang menguntungkan karena aku memang berniat mengganti domperku yang sudah sepuh.

Akhirnya aku pulang membawa perut kenyang, dompet baru dan kotak bekas kue yang mereka paksakan masuk ke dalam tasku. Sementara ucapan dari seseorang yang kutunggu masih belum membayang.

***

Suzuya, 17.00 WBA

“Aira ga beli apa-apa?” Tanya Kak Ama yang datang bersamaku membeli kado untuk bayi tetangga.

Aku hanya menggeleng. Dompetku kosong, hanya ada SIM dan STNK yang menyelamatkan kami dari razia kepolisian di wilayah Peunayong sesaat lalu.

Kami terus menggeledah rak yang memuat gaun-gaun imut tersebut. Aku tertarik mengamati baju-baju mungil tersebut, demikian pula Kak Ama terlihat sangat antusias. Namun tentu saja bagiku peralatan dapur jauh lebih memikat. Entah mengapa cangkir dan mangkuk menjadi barang yang paling kulirik di tahun 2013 ini.

“Kak Ama, hari ini Aira ulang tahun. Minta kado dong…” ujarku tiba-tiba pada Kak Ama yang memang tidak tahu menahu tentang tanggal spe-‘sial’ ini. Hari ini aku memang berpikir untuk sedikit matre. Mungkin pengaruh isi dompet yang sudah tidak cukup untuk makan.

“Ah, ya? Selamat ya…” Hanya itu respon darinya. Sudah kutebak dari awal. “Maaf ya, kakak lagi engga ada uang nih. Nanti kadonya menyusul.” Aku percaya saja, karena beliau memang baik hati.

Tadi pagi aku mendapatkan pulsa gratis dari pamanku, siangnya aku gagal makan gratis karena ada jadwal kuliah, sorenya Putri memberiku kado yang isinya sebuah belt modis berwarna coklat. Malam ini harus bisa makan gratis! Otakku masih dikendalikan virus matre.

***

Kos, 20.10 WBA

Kami baru saja pulang dari rumah tetangga ketika Kak Ama menawarkan diri membeli makan malam. Aku berharap itu gratis, ternyata tidak. Aku tidak memesan apa-apa karena memang uang yang kupunya merupakan residu yang tidak cukup untuk membeli makanan apapun, recehan Rp500,-.

Aku duduk lagi menekuni laptop, meng-update status terbaru yang mengekspos kekesalanku padanya;

27 Maret beberapa jam lagi berlalu. Tapi sapaan dari seseorang yang kutunggu tak juga kuterima.
Tak ada panggilan suara, tak ada pesan teks. Mataku hampir juling karena bolak-balik memeriksa layar ponsel sejak bangun pagi.


*patahhati*

 

Meski status itu kutulis dengan harapan ia akan membacanya, beberapa saat kemudian aku mengetahui ia tidak sedang online. Adikku mengirimi ucapan selamat di timeline yang langsung kubalas dengan menanyakan kakak.

“Senior mana?” tanyaku dengan hati yang kembali menyimpan harap.

“Biasa, sibuk bercanda tawa dengan buku.” Jawabnya enteng.

Semua harapanku lenyap. Ternyata ia memang tidak ingat atau sengaja tidak mengucapkan. Percakapan selanjutnya kulakukan tanpa minat. Aku meng-update status lagi;

I’ll wait until 00.00

If it doesn’t come, then I’ll forget about this day.

 

Di tengah kesenduan yang menggerogoti hati, Kak Ama pulang membawa dua bungkus nasi dan sebuah semangka. Aku melirik dengan semangat, berharap dapat melahap seluruh semangka itu sendiri. Tidak tahu diri. ternyata aku hanya mendapat bagian seperempat, demikian pula yang lainnya. Semangka itu Kak Ama yang membeli, aku tidak ikut mensubsidi walau sepeser, masih untung dibagi. Aku bersyukur, setidaknya itu masih gratis :p

***

Kamar Kos, 23.30 WBA

Malam beranjak semakin larut. Sementara ketiga penghuni kos yang lain tidur dengan hati ber-flower-flower, aku ingin meringkuk di dapur, mengiris bawang merah dan menguras air mata. Namun kelebayan itu tidak dapat terwujud karena lampu dapur tidak hidup dan persediaan bawang merah habis.

Kulakukan sesuai janjiku untuk menunggunya hingga tengah malam. Tapi ketika jam sudah menunjukkan pertukaran hari dan kalender berganti tanggal, aku hanya bisa menghembuskan nafas putus asa.

Aku sudah berniat tidur, melupakan semua yang kulakukan hari ini. Tiba-tiba sebuah pesan teks menyambangi ke ponselku.

“Selamat ulang tahun! Semoga umurnya berkah dan tercapai semua cita. Amin.” Demikian isinya.

Kuketikkan balasannya dengan cepat. “Telat… udah lewat :p” Jelasku sebal. Pahadal aku ingin berteriak. Kak, kau menyebalkan!

“Better late than never :p Lagian pulsa bermasalah” Tulisnya lagi.

Aku tersenyum. Ya, setidaknya penantian dua puluh empat jamku tidak sia-sia.

Aku beranjak tidur, membayangkan brownies kukus yang akan kubuat esok hari.

19th-birthday

 

Kamar kos, 28 Maret 2013

Tengah malam

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here