Anak Rantau

Oleh: Mahdiyani

Anak merupakan keturunan kedua, dimana kata anak merujuk pada lawan dari orang tua. Orang dewasa juga merupakan anak dari orang tua mereka, meskipun mereka telah dewasa. Setiap anak selalu membutuhkan orang tuanya, meskipun anak tersebut tidak akrab dengan orang tuanya atau bahkan tidak suka terhadap orang tuanya – dikarenakan sesuatu dan lain hal – dalam keadaan tertentu mereka akan membutuhkan orang tuanya.

Anak, akan sulit melakukan apapun tanpa orang tuanya. Meskipun orang tua tidak berada disamping mereka, tapi setidaknya doa dari orang tua selalu terkirimkan untuk mereka. Karena dengan doa-doa yang dipanjatkan oleh orang tua untuk anak-anaknya, membuat anak maju, sukses, dan mampu menggapai apa yang ingin diraihnya, sekalipun hal itu diremehkan oleh orang lain.

Sedari kecil seorang anak dirawat dan dibesarkan oleh orang tuanya, namun tak selamanya kondisi tersebut berlangsung. Ada kalanya anak akan berpisah dari orang tuanya. Perpisahan disini tidak harus diartikan dengan tidak akan bersama lagi, seperti kematian misalnya. Namun ada juga perpisahan sementara, baik itu karena tuntutan pekerjaan atau sekolah yang berbeda daerah dengan orang tua.

Orang tua manapun, pasti menginginkan anak yang berpendidikan tinggi, menjadi orang yang lebih hebat dan menjadi kebanggaan bagi mereka. Namun, untuk mendapat pendidikan yang tinggi, terkadang tidak bisa didapatkan dalam daerah mereka pribadi, sehingga harus mendapatkannya di luar daerah, disinilah semua akan bermula. Anak berpisah dari orang tuanya, anak menjadi jauh dari orang tuanya, dan kerinduan akan bermuara.

Awal kepergian, semua terasa berat, tangisan akan menemani kepergian si anak, terlebih jika itu anak manja. Setibanya di daerah orang, tidak henti-hentinya menghubungi kampung halaman untuk sekedar berbincang-bincang dengan orang tua dan sanak keluarga. Namun, semua akan berubah, tak lagi sama seiring berjalannya waktu. Anak akan sibuk dengan dunianya dan berbagai kesibukannya. Hari-harinya penuh kegiatan, bahkan makan pagi pun dijamak beserta dengan makan siang. Waktu istirahat berkurang, tengah malam masih mengerjakan tugas, dan bahkan menghubungi orang tua pun menjadi jarang.

Sebenarnya, anak ingat akan menghubungi orang tuanya yang berada di kampung halaman, tetapi disaat hendak menghubungi ada saja kendala yang menghentikannya, sehingga terhalang. Ketika lelah menghampiri, anak pun terlelap. Ketika mata kembali terjaga, anak pun kembali sibuk dengan rutinitasnya.

Ya, begitulah yang sering terjadi di kalangan anak-anak yang jauh dari orang tuanya kala dalam masa pendidikan. Namun, semua itu terjadi bukan karena anak lupa akan orang tuanya, melainkan karena mereka mengingat target mereka, mereka mengingat tujuan mereka berpisah dari orang tua mereka adalah untuk mencari ilmu yang tinggi, menggapai prestasi, yang nantinya akan dibawa pulang dan dipersembahkan untuk orang tua yang selama ini selalu mendoakan mereka di balik sujud.

Demikian pula orang tua, sesibuk apapun anaknya selalu mengerti akan kondisi, selalu mengerti akan posisi yang diduduki anaknya. Mereka tidak pernah menuntut anak untuk selalu memberi kabar, tidak pernah meminta untuk dijenguk, mereka hanya meminta pada Rabb agar anak mereka selalu dilindungi dan diberi kesehatan agar mampu menjalankan aktifitasnya dengan baik.

Meskipun jauh, bukan berarti hati anak dan orang tua juga ikut jauh. Hati mereka masih terikat erat. Dalam sujud saling menyebut nama, saling menyampaikan doa, dan saling bertukar rindu. Rindu yang tak bisa dihentikan, rindu yang terus mengalir deras, berharap dapat segera dipertemukan dan tak akan dipisahkan. Rindu ketika berkumpul bersama, saling bertawa ria meski dalam kesederhanaan. Karena sederhana itulah yang sangat dirindukan.

Ketika berjauhan, banyak hal yang saling disembunyikan. Anak yang ketika sakit tidak memberitahukan orang tuanya agar tidak khawatir. Ketika duit sudah tidak ada tidak juga berani memberitahu, karena takut keluarga akan kesusahan, sehingga berinisiatif untuk mencari kerja demi tidak membebankan kedua orang tua. Ketika beban sudah  menumpuk di kepala dikarenakan kegiatan dan pendidikan, anak hanya meminta doa dari orang tua agar mereka diberi jalan kemudahan untuk menyelesaikan segala seusuatu.

Tak jauh berbeda dengan orang tua, yang tidak memaksa anaknya untuk bertukar kabar, menyembunyikan kerinduannya dengan senyuman, menggunakan seluruh tenaganya untuk mencari nafkah dan dikirimkan untuk anaknya dan menyisihkan untuknya ala kadarnya. Apapun mereka lakukan untuk anak mereka berhasil meraih tujuannya, mendapatkan pendidikan yang layak. Tak peduli panas, tak peduli hujan, mereka tetap bekerja. Di saat sakit, mereka yakin bahwa mereka masih mampu bekerja karena mereka memiliki anak sebagai penyemangat. Mereka memiliki motivasi yang sedang berjuang di daerah orang.

Terkadang terfikir hanya satu pihak yang tersiksa dengan perpisahan itu, namun sebenarnya kedua belah pihak sama-sama tersiksa, sama-sama tidak bisa jika harus berpisah. Namun tuntutan berkata beda. Semua harus dijalankan, agar dapat kembali bersama. Sesuatu tidak akan ada hebatnya jika tidak tanpa perjuangan. Karena perjuangan itulah yang akan dikenang. Perjuangan itulah yang menguatkan.

Bukankah semua akan terasa indah jika telah melalui semua rintangan? Bukankah semua akan sangat memuaskan ketika perjalanan memulangkan hasil yang baik? Karena anak rantau tidak mudah untuk menyerah. Mereka tau apa itu sedih, apa itu sakit, apa itu rindu. Dan semua itu menguatkan mereka, membangkitkan semangat mereka yang terkadang padam, dan membuat mereka yakin bahwa hidup ini manis jika diperjuangkan.

*Mahdiyani, mahasiswi Hukum Pidana Islam UIN Ar-Raniry, beberapa waktu lalu merantau ke Tapaktuan, Aceh Selatan untuk tugas pendidikan. Disana ia berhasil mengusir galaunya dan menemukan seorang pangeran berkuda putih. 

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here