Dari Pemurtadan Hingga Ajang Miss World

Miss-World-Logo

Beberapa minggu lalu, para pembaca baik dari tingkat lokal maupun nasional dihebohkan oleh banyak berita yang menjadi sajian terhangat media massa dimana berdasarkan hukum syariat islam dikatakan sebagai “Panggung pendangkalan akidah dan nilai-nilai moralitas”, baik dari kasus Pemurtadan hingga ajang “kecantikan” Miss World. Berbagai pro dan kontra terus menghiasi media massa baik media cetak, media elektronik hingga jejaring media sosial seperti facebook, twitter, blackberry messanger, dll.

 

Sehubungan dengan itu, pemberitaan yang diberitakan Serambi Indonesia (Jumat, 6/9/2013), yang berjudul “Satpol PP/WH Gerebek Rumah Lima Misionaris”. Kita sangat prihatin dengan apa yang terjadi di lingkungan sekitar kita, dimana pemberitaan itu menyebutkan bahwa Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP & WH) Aceh Barat, Rabu (4/9) sekitar pukul 23.00 WIB, menggerebek sebuah rumah di jalan Blang Pulo, desa Ujong Kalak, kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat. Rumah tersebut diduga sebagai  tempat pengendalian aksi misionaris, upaya pemurtadan hingga ranah “pencucian otak’untuk memutar-balikkan akidah terhadap warga muslim di pantai Barat-Selatan Aceh.

 

Dilain hal, pendangkalan nilai serta norma moralitas di ajang “Kecantikan” Miss World juga diberitakan Serambi Indonesia melalui sebuah opini “Menyoal Miss World” di Indonesia (Selasa, 10/9/2013) oleh Khairatun Munawwarah dimana dalam tulisan beliau mengatakan bahwa “Miss World adalah konsep negara liberal yang sengaja memperkeruh situasi umat Islam dunia, termasuk Indonesia menjadi sasaran empuk mereka. Sehingga Pro dan kontra terus menjamur di pelosok Nusantara dengan berbagai dalih, ormas Islam tanpa ragu menentang keras Miss World di Indonesia, bahkan akan mengacaukan pelaksanaan Miss World (MW) jika pemerintah bersitegang mengizinkan kontes ‘buka-bukaan’ ini tetap dipertunjukan.”

 

Lemahnya Budaya Bangsa

Sebagai orang Indonesia yang diakui sebagai bangsa besar yang memiliki integritas serta nilai yang mengakar perihal kebudayaannya oleh bangsa lain, selayaknya kita patut bangga terhadap budaya serta menjadi bagian dari kebudayaan itu sendiri. Akan tetapi, sebuah  kebudayaan akan memudar ketika para penikmat budaya tersebut telah meninggalkan budayanya. Di samping itu, diadakannya Miss World di Indonesia selain merusak budaya tanah air juga menyebabkan moralitas bangsa Indonesia menjadi rusak dan binasa.

Terkait anggapan bahwa dengan terlaksananya “Miss World” sangat menguntungkan dari sisi sektor perekonomian seperti menarik investor bagi Indonesia adalah kebohongan besar. Bangsa Indonesia sebenarnya memiliki harga diri dan sampai kapan pun harga diri itu tidak bisa dibeli dengan uang maupun popularitas. Sebab, martabat, harga diri dan kehormatan bangsa ini diatas segala-galanya. sehingga tidak boleh ada satu negara lain pun yang bisa melecehkan kebesaran bangsa ini.

 

Kemudian, berdasarkan pendapat dari semua kalangan, baik yang muslim maupun non muslim, menganggap bahwa ajang “Miss World” tersebut bukan merupakan budaya Indonesia, sehingga tidak perlu diselenggarakan di Indonesia.  Apalagi ajang tersebut merupakan suatu pelanggaran terhadap hak Asasi Manusia (HAM) dan bagian dari proyek liberalisme serta imperalisme yang disuguhkan oleh negara barat yang terbungkus ke dalam  kontestasi dan eksploitasi terhadap kaum hawa (perempuan).

 

Sehingga kebudayaan yang sopan, santun, ramah dan menjaga dari setiap kehormatan individu masyarakatnya, kali ini akan dicoba untuk dirusak oleh kegiatan Miss World yang mempertontonkan aurat wanita tanpa ada nilai/norma positif yang dapat diambil oleh bangsa ini dari kegiatan tersebut, bahkan sekali lagi dimana nilai budaya sebuah integritas bangsa ini telah dirusak bahkan dihancurkan oleh kegiatan Miss World tersebut.

 

Bukan hanya kebudayaan saja, namun moralitas masyarakat Indonesia pun ikut rusak oleh kegiatan tersebut. Terutama terhadap kalangan pelajar dan mahasiswa. Dalam hal ini jelas sangat merusak pemikiran positif pelajar/mahasiswa untuk senantiasa berperan aktif dalam belajar segala hal/aspek. Dengan adanya tayangan yang merusak budaya juga moralitas bangsa ini, yang kemudian akan berdampak sistemik kepada dasar serta pola kehidupan anak penerus  bangsa ini seperti pelajar/mahasiswa sebagai harapan perubahan (agent of change) yang jelas-jelas akan semakin memperkeruh seluruh keadaan bangsa ini di masa mendatang.

 

Nilai Yang Terkontaminasi

Disamping isu nasional yang sangat menghebohkan, isu lokal juga tak kalah menarik ketika sebuah nilai telah diperkosa oleh pihak yang ingin merusak sebuah nilai yang telah mengakar itu. Dimana orang-orang Aceh berdomisili di Aceh Barat yang beragama Islam diberitakan di media Serambi Indonesia (Jumat, 6/9/2013), yang berjudul “Satpol PP/WH Gerebek Rumah Lima Misionaris”.

 

Sebagai orang Aceh yang beragama Islam, kita sangat prihatin dan menyanyangkan terjadinya berbagai kasus pemurtadan selama ini di Aceh yang dikenal sebagai negeri bersyariat dan Serambi Mekkah ini. Kasus seperti ini bukan yang pertama kali terjadi di Aceh.  Bahkan sebelumnya,  berbagai aksi pemurtadan yang dilakukan oleh para misionaris kristen dan misonaris aliran/paham sesat juga terjadi di kabupaten Aceh Barat, Aceh Besar, Nagan Raya, Benar Meriah dan kabupaten lainnya.

 

Sebenarnya, indikasi Gerakan Kristenisasi dan aksi pemurtadan telah terdeteksi oleh masyarakat setempat semenjak pasca Tsunami Aceh 2004 dimana para misionaris melalui LSM/NGO asing dengan berbagai tipu muslihat yang mereka lakukan mulai membagikan sembako yang disisipi buku-buku dan majalah tentang Yesus, memberi uang jutaan rupiah ke setiap keluarga sebagai rayuan agar mereka pindah ke agama Kristen bahkan ada yang hal yang paling menghebohkan dimana ditemukan Injil berbahasa Aceh.

 

Acapkali, para misionaris ini melakukan berbagai strategi pemurtadan di Aceh dari yang lemah lembut sampai yang terang-terangan bahkan gerakan ini paska tsunami Aceh sangat tangguh dan berani mati. Langkah awal yang mereka targetkan adalah membuat masyarakat Aceh tidak bangga menjadi umat Islam. Sehingga hal ini dibuktikan dengan temuan benda-benda berupa tanda salib dan buku injil yang diselipkan dalam bantuan ke Aceh dan juga melalui doktrin-doktrin yang isinya membujuk anak Aceh dengan cara membandingkan antara Allah dengan Tuhan mereka (Yesus).

 

Sikap  Bangsa Yang Besar

Sudah saatnya bangsa ini bangkit menjadi bangsa yang besar, tidak mesti lagi bergantung pada budaya, ekonomi atau bahkan filosofi negara lain. Kita yakin bangsa ini dapat melahirkan anak bangsa yang mempunyai kualitas moral yang benar serta tidak melenceng dari norma-norma agama, sosial dan budaya.

 

Perihal penolakan ajang kontes “Miss World” dan perlawanan terhadap pendangkalan akidah (pemurtadan) oleh  Gerakan Misionaris merupakan suatu kewajiban bagi kita semua sebagai unsur masyarakat yang madani dan islami demi menjaga moralitas bangsa, memelihara budaya, dan mencerdaskan masyarakat Indonesia. Sehingga segala bentuk kepentingan dan kegiatan yang mengorbankan serta menghancurkan dasar dari sebuah filosofi kehidupan bangsa dan kesejahteraan rakyat itu merupakan kejahatan moral yang keji dan perusak.

 

Sebagai bangsa yang besar dan memiliki integritas yang tinggi dan mapan, mari bersama hidupkan kembali tradisi dan budaya bangsa ini berdasarkan pada asas Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Aturannya sudah ada, bila dilanggar maka harus siap menerima resiko dengan segala bentuk konsekuensi yang ada.

Penulis:
Riri Isthafa Najmi
Anggota Forum Lingkar Pena Wilayah Aceh
Kabid Advokasi BEM FKIP Unsyiah

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here