Heroisme ‘Erfpacht Roempit’

Oleh Nuurul Husna

JAUH sebelum Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) menjadi jantong hate rakyat Aceh, ada sekelumat cerita hebat tentangnya. Yaitu, siapa pun siap rela berkorban untuk membangun kota mahasiswa ke depan. Bahkan Aceh dulunya siap untuk memantapkan ide Darussalam ke lubuk hati dua juta rakyat. Maka mengalirlah sokongan dari segenap pelosok, sehingga dimana-mana dibentuk badan penerima sumbangan. Demi terciptanya kota pelajar ini, rakyat mengadakan gerakan pengumpulan botol kosong, kertas koran bekas, hewan ternak, dan emas perhiasan. Ada pula menyumbang gedung yang siap ditempati ataupun perhiasan emas dalam jumlah besar, sebagaimana dihibahkan oleh Kolonel Syamaun Gaharu.

Pengumpulan botol-botol tersebut kini telah menjadi pondasi-pondasi hebat pembangunan gedung Darussalam, yang mengubah kubangan lumpur yang berbau amis menjadi tempat belajar mahasiswa, salah satunya adalah Unsyiah. Tentu tempat ini dahulunya bukanlah tempat biasa, karena terjadi basis dan saksi bisu gerilya muslimin dengan Belanda seperti yang tertera dalam http://theglobejournal.com bersumber pada Majalah Santunan (No.47 Tahun ke V, September 1980, halaman 8-11). Adapun dulu bernama erfpacht Roempit, kini disulap menjadi sebuah nama surga, yakni Darussalam. Siapapun dapat menyaksikan bahwa kebersatuan masa lalu telah membuat sinergi besar bagi Aceh untuk maju setara secara pendidikan dengan daerah Indonesia lainnya.

 Aktivitas perkuliahan
Kini, para mahasiswa baru hasil dari berbagai program seleksi yang dilakukan beberapa waktu lalu, sudah mulai disibukkan dengan berbagai aktivitas perkuliahan. Tidak terkecuali Unsyiah, dengan berbagai tawaran bidang studi dan fakultas, menerima ribuan mahasiswa baru setiap tahunnya. Baik melalui jalur Undangan SNMPTN, Bidik Misi, TPBI, UMBPT, dan JMU. Semua jalur telah menjadi mediator terseleksinya mahasiswa baru dari berbagai penjuru.

Para calon mahasiswa dari berbagai kabupaten/kota di Aceh, luar Aceh, bahkan luar negeri, yang dinyatakan lulus dalam proses seleksi itu, kini menjadi mahasiswa Unsyiah. Tak sedikit pula yang tidak lulus. Tentu hal ini bukan menjadi sebuah bahan kekecewaan, bahwa ada banyak yang tidak lulus lainnya memilih untuk tetap kuliah dimana saja atau berusaha kembali mengikuti seleksi di tahun yang akan datang.

Namun, jika yang mengalami ketidaklulusan pada kampus favorit Unsyiah seperti pendidikan kedokteran, teknik, farmasi, informatika, dan sebagainya, tentu tidak perlu berkecil hati. Jurusan tersebut bukanlah menjadi tonggak keberhasilan. Karena pada dasarnya keberhasilan terletak pada seberapa tekun ia menjalani proses belajar pada bidangnya, selebihnya harapan terbesar adalah mencetak generasi bermanfaat untuk bangsanya. Tentunya mendukung unsyiah untuk berdiri sejajar dengan universitas lain di Indonesia dengan prestasi-prestasi yang mumpuni.

Pada sebagian kampus, beberapa waktu lalu hingga kini masih menyambut pendaftaran ulang mahasiswa baru Unsyiah. Salah satunya adalah kampus MIPA. Jajaran kampus seperti halnya Badan Eksekutif Mahasiswa melayani KRS Online bersama. Seperti biasanya, angkatan sebelumnya akan membimbing pengisian data bagi mahasiswa baru MIPA untuk mengisi data pribadinya dalam borang.

Selain itu, mengingat setiap kampus memiliki jurusannya masing-masing maka setiap jajaran himpunan pengurus jurusan juga merekrut biodata atau transkrip mahasiswa baru yang memasuki jurusannya. Dengan demikian, setiap mahasiswa baru tidak kewalahan dalam mendaftar ulang menuju kampusnya. Kebersatuan ini juga telah membuat jajaran kampus berdiri tegak dengan mutualisme menyambut pembelajaran baru demi keberlangsungan kehidupan pahit-manisnya pendidikan. Hal ini patut diapresiasi karena keikutsertaan mereka dalam wacana kampus setiap tahunnya menjadikan studi pembelajaran baru pun terlaksana. Mereka juga dapat diibaratkan pejuang pendidikan.

Pejuang pendidikan tentunya adalah kita semua yang menginginkannya. Pada pelansiran yang sama juga mengungkapkan bahwa pada pembangunan kota pelajar terdapat tiga landasan penting, dalam landasan pertama menyebutkan Komisi Pen¬cipta adalah badan pemikir, inspirasi dan pencipta. Jika saja kita ingin berpikir lebih dalam bahwa kegiatan jajaran pengurus kampus ini merupakan agenda yang didasarkan atas landasan pertama. Bahwa mahasiswa jajaran turut menjadi pemikir yang menginspirasi untuk menciptakan pembangunan keberlanjutan kepada ranah pendidikan mereka untuk mereka. Pada dasarnya dulu jajaran kampus juga menjadi sasaran pembangunan orang-orang terdahulu dan sudah semestinya semuanya turut andil dalam membina.

Pada landasan ke tiga dalam pembangunan Darussalam juga menuturkan bahwa Rakyat adalah modal utama pembangunan raksasa tersebut. Pada landasan ini juga menimbulkan pemahaman bahwa rakyat adalah salah satu yang menjadikan terbentuknya sebuah negara. Demikian pula, sebuah negara dapat dibangun dengan syarat adanya rakyat itu sendiri. Begitupula yang terjadi pada Darussalam, ketika hendak mendirikan kota pelajar maka semua jajaran rakyat tanpa terkecuali ikut dalam menyukseskan kemajuan kotanya dala mendirikan kota pelajar.

 Tingkatkan kepedulian
Pada landasan kedua dalam pendirian kota pelajar tersebut yakni Yayasan Dana Kesejahteraan Aceh adalah badan pelaksana. Kegiatan kerjanya yakni merencanakan ide akan format, isi, jiwa dan semangat Kota Mahasiswa yang hendak dibina menjadi meningkat. Selanjutnya, pemerintah harus ikut andil dalam melengkapi dengan berbagai sarana kebutuhan. Sarana kebutuhan ini tentunya seiring perkembangan akan terus meningkat dan di sinilah pemerintah harus meningkatkan kepeduliannya.

Mengecewakan apabila jalan menuju kota pelajar tepat setelah masuk Kopelma Darussalam terdapat jalan yang masih berlubang. Apalagi jika selama ini jalan yang tidak seharusnya dipertebal, malah ikut dipertebal di berbagai tempat. Sedangkan jalan yang setiap paginya ratusan atau ribuan mahasiswa melaluinya untuk menuntut ilmu menjadi terabaikan.

Demikian pula Masjid Jami’ yang menjadi pembangunan dasar sejak lima puluh tahun lalu, kini memiliki ruang kamar kecil yang tidak terawat bahkan tidak nyaman untuk mahasiswa ataupun tamu dari berbagai kampus lain. Tentu tidak dapat disebutkan satu persatu sarana yang belum diperbaiki. Belum lagi setiap tahunnya, mahasiwa baru akan kerap membuat kegiatan pada masjid tersebut dan pastinya kekeruhan semangat pelajar tidak boleh terjadi.

Semoga dengan dimulai aktivitas perkuliahan sekarang ini, semua jajaran ikut berpartisipasi dalam pembangunan dunia pendidikan Kopelma Darussalam. Tidak terkecuali pemerintah, juga harus ikut memperbaiki dan melengkapi sarana untuk meningkatkan kenyamanan dan semangat mahasiswa dalam menempuh perkuliahan atau pendidikannya. Sungguh Heroisme membangun kota pelajar ini harus terus diperjuangkan.

Tulisan ini dimuat di Serambi Indonesia, Sabtu, 7 September 2013

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here