Kenapa Memilih Islam Jika Semua Agama Sama?

Oleh: Aini Aziz

Sebagai hamba Allah yang ditakdirkan memeluk Islam sejak terlahir ke dunia ini, sudah sepatutnya saya memperbanyak syukur kepada-Nya. Sebab tiada nikmat yang lebih besar melampaui nikmat Islam. Selanjutnya, sebagai muslim, Allah lagi-lagi melimpahkan nikmat-Nya kepada saya yang lemah ini. Nikmat yang jauh lebih besar dari nikmat Islam itu sendiri, yakni Iman.

Dalam kenegaraan, benar, bahwa setiap anak yang terlahir, ia mewarisi agama orang tuanya. Jika orang tuanya muslim, maka anaknya Islam. Jika orang tuanya kristian, Maka agama anaknya ialah Kristen. Jika orang tuanya hindu, maka anaknya pula akan mewarisi agama hindu. Namun itu sebatas status dalam kenegaraan. Dalam agama disebutkan bahwa setiap anak yang lahir ke dunia ini, adalah suci. Kemudian, orangtuanya lah yang menjadikan anak tersebut Yahudi, Nasrani dan Majusi.

Sebagai muslim, jika hanya pewaris agama orang tua, maka keislaman seseorang tidak dikatakan sempurna sebelum ia menempuh jalan menuju keimanan. Baik, kita sederhanakan lagi. Jika seorang muslim berislam karena bawaan lahir, maka tidak sempurna keislamannya sebelum dia mengetahui secara akal dan dalil tentang; kenapa dia harus beragama Islam. Inilah yang saya namai Thariqul Iman (jalan menuju keimanan).

Dewasa ini, banyak sekali para intelektual yang lahir dari pendidikan formal angkat bicara mengenai keberagaman dan fleksibel dalam beragama. Lebih umum dikenal dengan istilah “Pluralisme dan Liberalisme”. Jujur, terkadang saya merinding membaca argumen mereka mengenai pandanganya terhadap agama. Dengan alibi bahwa semua kita didoktrin paling benar oleh agama bawaan lahir, beraninya mereka mensejajarkan Islam dengan agama yang lain.

Tidak heran, jika ungkapan “semua agama adalah sama” itu dilontarkan oleh selain muslim. Sebab, dalam pandangan mereka agama hanyalah tuntutan hidup, candu dan sesuatu yang berupa ritual semata. Bagi mereka, setiap yang mengkultuskan sesuatu sebagai sesembahan, sah dianggap agama. Tapi saya tidak ridha jika yang menyatakan kalimat tercela itu adalah muslim.

Jika seorang muslim berani menganggap semua agama sama, lantas kenapa dia memilih tetap memeluk Islam. Toh, dengan menjadi kristian pun tak akan merubah apa-apa, sebab semua agama adalah sama. “Pakon han ditameng kaphe, keupeu diikot agama Ma jih?” (Kenapa dia tida menjadi kafir saja, kenapa dia mengikuti agama ibunya?), Rasanya layak pertanyaan itu kita lontarkan bagi orang orang yang bermasalah dengan keimanannya.

Kembali ke Thariqul Iman. Jika seorang muslim keturunan, maka sepatutnya, saat sudah cukup umur dan berakal, dia harus mempertanyakan kepada dirinya; kenapa dia memilih tetap berislam. Sama halnya dengan seseorang yang memeluk Islam karena kesadaran dan hidayah yang Allah berikan setelah sekian lama dia menjadi non muslim. Tentu ada hal yang menjadikan mereka yakin, Allah sajalah yang patut menjadi Tuhan. Tidak pantas kita menuhankan apa pun selain Allah. Konon lagi menganggap sesembahan yang alakadar itu sama dengan Dia. Na’udzubillah.

Hal pertama yang harus ditemukan dalam jalan menuju keimanan adalah, siapa Tuhan yang kita sembah. Islam memandang Allah sebagai Tuhan, bukan yang lainnya. Allah yang wujud. Ada Dzatnya, namun tidak dapat dilihat oleh mata manusia yang lemah, tidak dapat didengar oleh telinga manusia yang penuh salah, tidak dapat diraba oleh kulit yang berkudis selayaknya kita manusia. Sebab keutamaan dan ketinggiannya itulah sehingga tidak dapat dijangkau sembarangan. Jika saja dapat dilihat dengan mata, diraba, didengar, tentu saja itu telah menunjukan bahwa Tuhan lemah.

Selain itu, Allah yang  diyakini sebagai Tuhan tersebut tentu saja tidak memiliki sekutu. Tidak ada serikat. Tidak terikat kerjasama dengan siapa pun. Allah Esa pada Dzat-Nya, Esa pada sifat-Nya, Esa pada perbuatan-Nya. Tidak membutuhkan palang untuk bergantung. Tidak membutuhkan batu untuk duduk bertapa. Tidak membutuhkan tongkat sebagai penyangga. Tidak butuh apa-apa. Sebab, Tuhan sempurnya.

Lalu, apa lagi? Allah yang diyakini sebagai Tuhan dalam agama Islam tentu saja tidak memiliki keluarga. Sifat memiliki keluarga itu adalah kebiasaan manusia. Allah tidak memiliki istri, konon lagi anak. Tentu saja tidak. Perilaku berkeluarga itu adalah sifat manusia. Sebab manusia lemah, perlu kepada melengkapi hidupnya dengan keberadaan pasangan. Allah kuasa.

Lalu, setelah mengetahui semua tentang Tuhan yang diyakini oleh Islam, lantas lihatlah pada tuhan-tuhan yang diyakini oleh agama lain. Adakah demikian? Apakah tuhan-tuhan itu memiliki sekutu untuk bekerja sama. Tuhannya ada dua dan tiga? Tuhan mereka beranak atau tidak? Bisa dilihat, atau bahkan fotonya bisa dipajang di ruang utama rumah mereka? Jika tuhan mereka berbeda dengan Tuhan yang diyakini dalam Islam, maka jangan sekali-kali mengatakan “semua agama sama.” Itu kejahilan dan kebiadaban paling nyata yang berkedok keberagaman (pluralisme).

Setelah mengetahui tentang Tuhan yang kita sembah adalah sebenar-benar yang patut disembah, sudah sepatutnya kita meyakini apa-apa yang diperintahkan oleh-Nya. Kita harus tahu, setelah diciptakan, di dunia ini apa yang harus kita lakukan. Kemudian, setelah kehidupan ini, apa lagi yang akan terjadi.

Islam hadir dengan seperangkat aturan yang bertujuan untuk kesejahteraan hidup, baik di dunia maupun setelah dunia ini tiada. Di dunia, jika kita menjalankan segala rutinitas berpolakan aturan syariat, maka kita akan selamat. Demikian pula di akhirat. Kita akan selamat.

Saya rasa ini sudah sangat akurat. Allah menciptakan manusia, kemudian memberi aturan. Sama halnya dengan produk yang diciptakan oleh sebuah perusahaan, katakanlah itu berupa alat komunikasi yang kita gunakan saat ini. Telpon genggam. Jika Appel mengeluarkan sebuah produk, tentunya dilengkapi satu buku petunjuk penggunaan. Berbeda produk, berbeda pula panduannya. Jika kita menggunakan buku petunjuk penggunaan Android untuk mengaktifkan Iphone, fatal akibatnya. Tidak akan sejalan. Inilah analogi sederhana kenapa semua kaum muslimin menginginkan Syariat Islam sebagai landasan hukum dalam sebuah negara.

Lalu, bagaimana dengan agama-agama yang lain, jika mereka juga menginginkan agar aturan dari kitab sucinya dijadikan dasar hukum sebuah negara. Sebagaimana yang saya katakan tadi, buktikanlah bahwa kitab itu benar dari tuhan yang benar-benar Tuhan, atau hanya dari yang dituhankan. Syarat menjadi Tuhan sudah kita bahas di atas. Jika sesuatu tidak patut menjadi Tuhan (al khaliq), artinya sesuatu itu tidak layak memiliki penyembah (makhluk), maka tak pantas pula kitab sucinya dijadikan acuan negara. Bukan begitu?

Islam mengakui 4 agama samawi. Bahwa Rasulullah Daud pernah diturunkan kitab Zabur oleh Allah. Rasulullah Musa pernah diturunkan kitab Taurat oleh Allah. Rasulullah Isa pernah diturunkan kitab Injil oleh Allah. Ketiganya benar sebagai agama yang lurus, namun itu sebelum diturunkan Kitab Al Quran kepada Rasulullah Muhammad sallahu’alaihi wasallam. Tiga kitab terdahulu telah dimansuhkan, tinggallah Al Quran sebagai pedoman hidup dari Tuhan hingga akhir zaman. Jika tidak percaya, tunggulah turunnya kembali Ruhullah Isa ‘alaihi salam. Ia akan menyampaikan kebenaran, meluruskan kembali pemahaman umat yang terlanjur salah. InsyaAllah!

Keyakinan terhadap Islam harus secara total. Tidak boleh ada pengingkaran meski terhadap hal yang paling sederhana. Islam tidak bisa disamakan dengan agama apa pun. Islam tidak memusuhi agama siapa pun, tidak membenci agama apa pun, sebab Islam dijanjikan oleh Tuhan sebagai rahmat bagi seluruh alam. Saya menulis ini sebagai ungkapan syukur atas nikmat Islam dan nikmat iman yang Allah takdirkan kepada saya. Akhir kata, benar bahwa semua agama memiliki Tuhan. Namun, bukan berarti semua agama itu benar.

Aini Aziz, Ketua Bidang Kaderisasi Forum Lingkar Pena Wilayah Aceh.

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here