Momentum Awal Pembaharuan

hijrah

Beberapa hari yang lalu, tahun baru hijriyah telah berganti periode. Tahun baru islam yang menjadi kebanggan setiap muslim ini, seringkali dilupakan bahkan hanya dianggap angin lalu oleh sebagian besar umat islam di Aceh bahkan di Indonesia. Berbeda halnya dengan tahun baru masehi yang seringkali menjadi peristiwa paling diingat, bahkan dianggap wajib oleh sebahagian orang untuk dirayakan dan diperingati.

Semua media, baik cetak maupun elektronik lebih tertarik untuk memantau dan menyoroti proses pergantian tahun baru masehi dibanding hijriyah sebagai moment yang menarik untuk ditayangkan dan disebarluaskan. Padahal, mayoritas penduduk indonesia beragama islam. Sebenarnya, tahun baru masehi maupun tahun baru islam hakekatnya sama, keduanya merupakan sebuah peristiwa penting dalam perjalanan hidup manusia yang selama satu tahun harus ditutup lembarannya untuk  membuka lembaran yang baru lagi. Tradisi kebiasaan, moderinsasi, tingkah laku, kebiasaan dalam keseharian merupakan faktor penentu yang menjadi alasan pembeda masing-masing orang untuk menganggap tahun baru itu penting dan layak diperingati baik kalangan masyarakat kelas bawah maupun atas.

Memang, selama ini tidak ada lembaga survey yang melakukan pendataan, seberapa ingat umat islam terhadap tahun baru islam dibanding tahun baru masehi? Mungkin hal itu tidak penting, tapi bagi orang islam seharusnya perlu untuk diketahui. Pasalnya, ada kebiasaan baik yang diajarkan oleh para ulama menjelang pergantian tahun baru yakni berdo’a pada Allah SWT. Pergantian tahun selayaknya menjadi introspeksi diri bagi kita untuk melangkah kearah yang lebih baik  di tahun mendatang. Tahun baru masehi mungkin mudah diingat ketika kalender di rumah sudah habis gambarnya. Namun, apa kita tidak menoleh terhadap apa yang dicetuskan oleh Khulafaur Rasyidin agar umat islam memiliki hitungan tahunnya sendiri. Tak elok rasanya, sebagai orang muslim kita menafikan bahkan malu memperingati tahun baru islam sebagai bentuk kebanggaan seorang muslim.

Pergantian tahun baru hijriyah 1435 H yang sangat sepi bukan karena umat islam enggan merayakan, namun umat muslim punya cara tersendiri untuk merayakannya, mereka lebih banyak merayakannya dari dalam masjid atau mushalla serta dengan cara mengadakan pengajian, ceramah, Mabit (Malam bina iman & taqwa) dan biasanya dibarengi dengan selamatan bersama. Bahkan selamatan biasanya juga diadakan oleh warga-warga kampung yang biasanya mengambil tempat diperempatan jalan desa.

Sehingga orang islam merayakan pergantian tahun baru Islam dari 1434 H menjadi 1435 H seperti itu yang justru dan patut kita berikan apresiasi ketimbang merayakan tahun baru dengan cara berpesta yang ujung-ujungnya bisa menimbulkan kemaksiatan, semisal perayaan yang dibarengai pesta miras, narkoba sampai dengan jatuhnya korban jiwa karena perkelahian, dan hal tersebut masih terjadi disetiap pergantian tahun baru masehi.

Makna Tahun Baru 

“Demi Waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yangberiman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS al-Ashr [103] 1-3).

Dan Rasulullah SAW. bersabda: “Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan baik amalannya, dan sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan jelek amalannya.” (HR Ahmad).

Waktu terus berjalan dan berubah hingga tidak ada sesuatu yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri.  Perubahan itu terjadi dengan sendirinya seperti umur suatu benda yang lama kelamaan terus berubah tanpa harus ada campur tangan manusia. Namun perubahan perilaku manusia memerlukan ikhtiar yang diawali niat dan diakhiri tawakkal, termasuk memaknai pergantian tahun baru Islam 1 Muharram 1435 Hijriyah.

Membicarakan bulan Muharram pasti tidak akan lepas dari peristiwa Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 M. Hijrah itu sekaligus menjadi tonggak awal dimulainya kalender Islam. Ini artinya hijrah Rasulullah SAW beserta para sahabatnya ke Madinah telah berumur 1435 tahun. Sebuah peristiwa bersejarah yang patut dikenang dan bisa menjadi proses transformasi spiritual. Di dalamnya terkandung makna dan keteladanan untuk sebuah pengorbanan sejati yang mengapresiasikan perlawanan akan kebathilan sekaligus sikap konsisten mengedepankan kepentingan misi dari kepentingan apa pun. Agar ia tetap lestari dan terjaga dari kepunahan meski karenanya harus berdarah-darah mereka harus meninggalkan negeri, harta, sanak dan handai taulan tercinta.

Bagi kita umat Islam di Indonesia khususnya di Aceh, sudah tidak relevan lagi berhijrah dengan berbondong-bondong seperti hijrahnya Rasul, mengingat kita sudah bertempat tinggal di negeri yang aman namun kita perlu dan wajib untuk hijrah dalam makna “hijratun nafsiah” dan “hijratul amaliyah” yaitu perpindahan secara spiritual dan intelektual, perpindahan dari kekufuran kepada keimanan, dengan meningkatkan semangat dan kesungguhan dalam beribadah, perpindahan dari kebodohan kepada peningkatan ilmu, dengan mendatangi majelis-majelis ta’lim, perpindahan dari kemiskinan kepada kecukupan secara ekonomi, dengan kerja keras dan tawakal kepada Allah Swt.

Niat yang kuat untuk menegakkan keadilan, kebenaran dan kesejahteraan umat sehingga terwujud “Rahmatal lil alamin” adalah tugas suci bagi umat Islam, baik secara individual maupun secara kelompok. Tegaknya Islam dibumi nusantara ini sangat tergantung kepada ada tidaknya semangat hijrah tersebut  dari umat Islam itu sendiri.

 

 

Hijrah Spiritual dan Hijrah Amaliah.

Sebagai seorang muslim, kita harus taat dan patuh dengan ajaran agama. Dalam hal ini, hendaklah kita menyambut tahun baru hijriah ini dengan berbuat dan memperbaiki amalan-amalan kita ditahun lalu. Kemudian, dalam menyambut tahun baru dengan tidak melakukan sesuatu seperti yang dilakukan non muslim dalam menyambut tahun baru masehi. Di tahun baru ini selayaknya kita mengintrospeksi diri dengan semua apa-apa yang telah kita perbuat selama ini. Memilih semua bentuk amalan yang baik untuk tetap kita pertahankan dan kita tingkatkan, baik dalam porsi amalan yang baik untuk kita kerjakan maupun meninggalakan semua perbuatan yang tidak bermanfaat, baik untuk diri kita pribadi ataupun orang di sekitar kita.

Hidup kita semakin hari semakin berkurang, bukannya bertambah. Maka, selayaknya kita pergunakan kesempatan hidup di dunia ini dengan sebaik mungkin. Karena ajal manusia merupakan rahasia Allah, dan jarum jam tidak akan pernah berbalik arah, sudah sepantasnya kita memperbaiki diri kita masing-masing. Hindari kebiasaan-kebiasaan lama/hal-hal yang tidak bermanfaat pada tahun yang lalu untuk tidak diulangi lagi di tahun baru ini dan selanjutnya. Lakukan amalan-amalan kecil secara istiqamah, dimulai sejak tahun baru ini yang nilai pahalanya luar biasa dimata Allah Swt, seperti membiasakan shalat dhuha, tahajjud, mengaji,  sedekah, menyantuni anak-anak yatim, dll. Usahakan dengan niat yang ikhlas karena Allah agar tahun baru ini jauh lebih baik dari tahun kemarin dan membawa banyak manfaat bagi keluarga maupun masyarakat muslim lainnya.

Dalam memasuki tahun baru Hijriah 1435 H ini, menjadi momentum peningkatan bagi kita, baik peningkatan dari keburukan menjadi lebih baik, atau peningkatan dari yang sudah baik menjadi lebih baik lagi. Sehingga semangat hijrah Rasulullah Saw tetap mengilhami jiwa kita menuju kepada keadaan yang lebih baik dalam segala bidang, sehingga predikat yang buruk yang selama ini dialamatkan kepada umat Islam akan hilang dengan sendirinya dan pada gilirannya kita diakui sebagai  umat yang terbaik, baik agamanya, kepribadiannya, moralnya, intelektualnya dan akhlak  yang terpuji. Semoga!

 

Oleh: Riri Isthafa Najmi

Anggota Forum Lingkar Pena Aceh; Kabid Advokasi BEM FKIP Unsyiah; Anggota SAPAT (Sarekat Pemuda Atjeh).

 

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here