Pahlawan adalah Pahlawan

Oleh: Riri Isthafa Najmi

http://www.acicis.murdoch.edu.au/hi/img/DavidArmstrong/merdeka.jpg

 

SELURUH rakyat Indonesia pasti sudah tahu bahwa negara ini sudah merdeka sejak tahun 1945. Kemerdekaan tersebut bukan sesuatu yang mudah untuk dicapai, butuh pengorbanan yang ekstra tinggi untuk menggapainya. Dahulu, kita terus-terusan dijajah oleh berbagai negara seperti Portugis, Belanda dan Jepang. Namun berkat perjuangan para pahlawan yang mati-matian berperang meraih kemerdekaan, kita dapat meraih dan mendapatkan sebuah kemerdekaan sampai saat ini. Sehingga kita harus menghargai jasa para pahlawan yang berjuang demi memajukan bangsa Indonesia.

Dalam hal ini, patut kita “tinta merah”kan bahwa 10 November merupakan tanggal dan bulan yang memiliki sejarah besar tentang perjuangan para pahlawan. Dimana pahlawan merupakan seseorang yang berpahala dan perbuatannya berhasil memberi manfaat dan faedah bagi kepentingan orang banyak. Sehingga, perbuatannya memiliki pengaruh terhadap tingkah laku orang lain, karena dinilai mulia dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat bangsa dan umat manusia. Sebagai generasi masa depan, sangat tidak pantas jika kita melupakan jasa besar para pejuang karena tanpa jasanya kita semua tidak akan seperti saat ini.

 

Pahlawan Kemerdekaan

Berbicara mengenai pahlawan merupakan suatu hal yang paling mudah dikatakan namun paling rumit untuk dijabarkan. Banyak orang beropini bahwa pahlawan adalah seseorang yang berhasil dalam prestasi gemilang kemiliteran saja. Namun secara universal, makna seorang pahlawan sangatlah luas. Jika berbicara mengenai pahlawan kemerdekaan, Bung Karno adalah salah seorang diantaranya. Beliau tidak pernah mengangkat senjata untuk berperang. Tetapi pemikiran dan usahanya untuk mencapai Indonesia merdeka sangat jelas dan terstruktur.

Begitu juga halnya dengan Raden Ajeng Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan lainnya. Melalui surat-suratnya yang kemudian dibukukan dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”, ia berusaha memerdekakan kaum wanita bangsa indonesia dari kekangan tradisi yang sangat mengikat. Surat-surat ini pun sebagai sebuah perlawanan budaya bagi kemerdekaan kaum wanita.

Disamping itu, Ki Hajar Dewantara yang dikenal sebagai bapak pendidikan nasional juga telah merintis dan membangun dasar-dasar Pendidikan Nasional. Sebagai salah seorang tokoh pendidikan, ia banyak menyumbang pemikiran dan usaha untuk memerdekakan bangsa indonesia dari keterbelakangan intelektual dan kebodohan. Dengan pemikiran dan usahanya ini ,dapat kita baca melalui tulisannya yang terkumpul dalam dua buku berjudul ‘Kebudayaan dan Pendidikan”. Maka, ia juga layak disematkan sebagai pahlawan nasional.

 

 

Keberadaan Pahlawan

Keberadaan arti seorang pahlawan (selain pahlawan perang), pada umumnya memang kurang dikenal oleh masyarakat awam. Apresiasi masyarakat terhadap pahlawan perang mengandung nilai plus terutama kalau dihubungkan dengan masalah kemerdekaan. Sehingga, jika kita bertanya kepada masyarakat siapa itu pahlawan, sudah tentu jawabannya mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Pada hakekatnya, pahlawan lebih dari itu. Ia adalah seseorang yang berbakti kepada masyarakat, negara, bangsa dan umat manusia tanpa menyerah dalam mencapai cita-citanya yang mulia. Sehingga rela berkorban demi tercapainya tujuan, dengan dilandasi oleh sikap tanpa pamrih serta balas budi. Seorang pahlawan bangsa yang dengan sepenuh hati mencintai negara-bangsanya sehingga rela berkorban demi kelestarian dan kejayaan bangsa-negaranya disebut juga sebagai patriot atau pahlawan.

Namun, dewasa ini disebabkan adanya penilaian yang timpang karena masih adanya lapisan masyarakat yang kurang cerdas dalam mengapresiasi pahlawan bangsanya. Disamping itu juga disebabkan oleh adanya kelompok yang memiliki kepentingan politis. Sebagai contoh, pahlawan perang melakukan usaha dan gerakan terbuka di panggung sejarah sehingga bisa disaksikan oleh masyarakat luas. Namun, para pahlawan lainnya lebih banyak bekerja dibelakang panggung sejarah, sehingga kurang dikenal oleh masyarkat. Oleh sebab itu kurang mendapat apresiasi oleh masyarakat luas.

Seyogyanya, semua pahlawan, termasuk pahlawan kemerdekaan, haruslah merdeka. Seorang pahlawan mestinya tidak memiliki pretensi balas budi atas jasa-jasanya. Seorang pahlawan yang melawan dan berkhianat kepada negaranya, karena pretensi balas budi, tak lagi layak disebut pahlawan. Ia otomatis menjadi penjilat dalam negara. Jika pretensi harus ada, maka satu-satunya yang layak bagi seorang pahlawan adalah tercapainya cita-cita yang diperjuangkan. Maka tempat perhentian seorang pahlawan adalah sesuatu yang ideal, bukan material semata.

 

Integritas Pahlawan

Dalam merumuskan makna pahlawan yang sebenarnya memang sangat rumit untuk dijabarkan. Namun, jika kita melihat seseorang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran atau pejuang yang gagah berani dalam mempertahankan dan memperjuangkan hak-hak murni dalam menancapkan panji-panji kebenaran. Apabila mengacu pada arti pahlawan tersebut, sangat jelas bahwa setiap usaha dan perjuangan hidup manusia yang mampu melahirkan kesejahteraan dan kemakmuran manusia lainnya  juga disebut pahlawan.

Kategori pahlawan pun sangat banyak, tergantung kepada prestasi dan karya yang disumbangkan kepada orang lain, seperti pahlawan kemanusiaan, pahlawan nasional, pahlawan perintis kemerdekaan, pahlawan revolusi, pahlawan proklamasi, pahlawan iman, pahlawan tanpa tanda jasa, pahlawan masyarakat, dan sebagainya. Sehingga pada akhirnya, gelar dan kedudukan seorang pahlawan itu bukan dinilai dari apa yang ia dapatkan namun apa yang telah ia berikan untuk memajukan lingkungan hidup baik untuk bangsa, negara serta agama ini menjadi lebih baik di masa mendatang. Sebab, tanpa adanya sebuah pengorbanan yang besar, akan sangat mustahil sebuah cita-cita dan impian itu terwujud.

Dengan demikian, sebagai manusia biasa seperti kita juga bisa menjadi pahlawan, paling tidak, menjadi pahlawan bagi diri sendiri. Jika kita tidak mampu memberikan yang terbaik untuk negara, bangsa dan agama, maka tancapkanlah sifat jujur, amanah, peduli, memiliki rasa kebersamaan dan kasih sayang terhadap diri sendiri maupun orang lain. Karena tanpa memiliki integritas kepahlawanan diri dari lingkungan terkecil, sangat mustahil negara, bangsa, agama serta isinya akan berdiri tegap dan nantinya akan mudah kembali terjajah oleh bangsa lain.


Riri Isthafa Najmi, Anggota FLP Aceh (Forum Lingkar Pena) Aceh; Kabid Advokasi BEM FKIP Unsyiah; Anggota SAPAT (Sarekat Pemuda Atjeh).

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here