Peringatan Isra Miraj Sebagai Momentum Perbaikan Shalat

Oleh: Nurhasanah

ROTASI waktu yang begitu cepat, kembali membawa kita menemui hari-hari di penghujung Rajab. Sebagaimana yang kita ketahui, terdapat sebuah peristiwa bersejarah di penghujung Rajab yang senantiasa diperingati oleh umat muslim di seluruh dunia. Peristiwa bersejarah tersebut  jatuh pada tanggal 27 Rajab dan kini dikenal sebagai peringatan hari Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa dimana Baginda Rasulullah diperjalankan oleh Allah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian dilanjutkan bepergian dengan menaiki buraq ke Sidratul Muntaha (langit tertinggi) untuk menerima perintah salat. Hal ini diabadikan dalam kitab suci Al-Qur’an pada permulaan surat Al-Isra. “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q.S. Al Isra: 1)

Salat menjadi ibadah utama umat islam yang wajib dikerjakan sejak peristiwa Isra’ Mi’raj telah dialami oleh Baginda Rasulullah SAW dulu. Salat inilah yang membedakan antara orang-orang yang beriman dengan orang-orang yang kafir. Jika di kalangan masyarakat masih terdapat orang-orang yang salat, namun melakukan perbuatan mencuri, korupsi atau bahkan sampai hati membuang bayi, maka sungguh salat mereka harus dipertanyakan lagi.

Dalam Surat An-Nisa Allah telah melarang kita untuk tidak melakukan salat dalam keadaan tidak benar. “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati salat, ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan. . .” (QS.An-Nisa 4:43). Salat yang dikerjakan dalam keadaan lalai dan tidak sadar, hanya akan mendatangkan celaka dan sia-sia. Mengenai celakanya orang-orang yang salat telah ditegaskan oleh Allah SWT dalam Firman-Nya pada surah Al-Ma’un, ayat ke 4 dan ke 5. “Maka celakalah orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dalam salatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4-5).

Seseorang yang benar-benar mengerjakan salat nya dengan baik, akan mampu mencegah diri untuk tidak melakukan perbuatan yang keji. Hal ini disebutkan dalam Firman Allah dalam surat Al-Ankabut pada ayat yang ke 45. “ . . . dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. . .” (QS. Al-Ankabut: 45).

Seseorang yang mampu mengerjakan salatnya dengan baik juga tidak akan pernah putus asa dengan masalah hidup, seperti keadaan finansial yang terpuruk. Mereka yang kusyuk dalam salatnya akan senantiasa meminta pertolongan Allah. Hal ini disebabkan keteguhan mereka yang telah menjadikan salat dan sabar sebagai penolong dalam hidup, sebagaimana perintah Allah “Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (QS. Al-Baqarah: 45-46)

Abu Sangkan, dalam karyanya yang berjudul Pelatihan Salat Khusyu, memberikan pernyataan bahwa salat merupakan pertemuan hamba dengan Allah tanpa perantara. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa di dalam salat, kita telah berjumpa dan berkomunikasi secara langsung dengan Allah. Ini hanya dapat dilakukan oleh mereka yang beruntung, yaitu mereka yang khusyuk dalam salatnya. Hal tersebut terdapat terpaparkan dalam Firman Allah pada surat Al-Mu’minun, ayat ke 1 dan ke 2. “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS.Al-Mu’minun:1-2)

Mekanisme salat lima waktu sehari semalam yang kita jalankan sehari-hari akan menjadi alat yang paling efektif untuk memelihara rohani jika dilakukan dengan benar dan khusyuk. Adapun hal yang pertama yang harus kita lakukan saat ingin melakukan ibadah salat adalah menghadirkan hati, pikiran dan tumakninah (tenang). Jangan biarkan  hati dan pikiran sekali-kali dapat terbang bebas melayang ke tempat-tempat lain selain Allah. Yakinkan hati dan pikiran bahwa kita sedang melihat Allah atau Allah sedang melihat kita. Jika hal ini dapat dilakukan di dalam salat, maka jalinan komunikasi dengan Sang Pencipta pun akan berjalan dengan baik.

Hal yang kedua yang wajib diperhatikan saat kita mengerjakan salat adalah mengenai bacaan salat. Bacaaan salat harus diucapkan dengan benar, jelas dan tartil(perlahan-lahan dan tidak terburu-buru). Hal ini dapat menambah rasa kekhusyukan dalam salat, terlebih lagi jika kita mampu mentadaburinya(memahami) bacaan salat tersebut.

Adapun hal selanjutnya yang harus kita perhatikan adalah gerakan salat. Saat kita mengerjakan salat, maka lakukanlah gerakan-gerakan salat yang benar dan tidak terburu-buru. Gerakan-gerakan salat yang terburu-buru hanya dapat menghilangkan kekhuyukan salat. Tindakan itu juga dapat memancing seorang hamba untuk menjadi seorang pencuri di dalam salat, sebagaimana hadits  berikut ini. Pencuri yang paling jelek adalah orang yang mencuri salatnya.” Setelah ditanya maksudnya, beliau menjawab: “Merekalah orang yang tidak sempurna rukuk dan sujudnya.” (HR. Ibn Abi Syaibah, Thabrani, Hakim, dan dishahihkan Ad-Dzahabi).

Peringatan hari Isra’ Mi’raj Nabi yang jatuh pada hari ini, dapat menjadi momentum untuk berefleksi diri mengenai ibadah salat yang selama ini kita jalani. Sudah sempurnakah salat kita sejauh ini? Semoga Allah menggolongkan kita ke dalam orang-orang yang beruntung, yaitu orang-orang yang baik dan khusyuk dalam salatnya.

 

NURHASANAH

Adalah mahasiswi tingkat akhir FKIP Bahasa Inggris Universitas Syiah Kuala. Bergiat sebagai guru privat dan tentor Bahasa Inggris di Bright English School, Relawan di Open Community dan Rumah Cahaya FLP Aceh.

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here