Pilihan Pembeda

Kompas Foto
Kompas Foto
Kompas Foto

Membaca tulisan-tulisan yang dihadirkan jelang Milad FLP Aceh yang ke-13, adalah membaca suara hati, kasih sayang, dan kerinduan pada sebuah organisasi yang bila secara umum diterjemahkan adalah rumah bagi seluruh anggotanya.

Forum Lingkar Pena, organisasi kepenulisan yang digagas oleh orang-orang yang namanya kini dikenal dalam dunia literasi Asia, sebut saja Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia. Organisasi ini bukan hanya menjadi salah satu organisasi kepenulisan yang produktif dalam menciptakan regenerasi penulis, Forum Lingkar Pena adalah anugerah Tuhan bagi Indonesia, begitu kata Sastrawan Taufik Ismail.

Bagi saya, keberadaan FLP adalah sebagai ‘Pilihan Pembeda’, satu pilihan sikap untuk menjadi berbeda dengan tegas, dari para pendirinya. Sangat berbeda memang, bila dibandingkan dengan komunitas lain yang juga menghasilkan penulis dari keberadaan mereka. Sebutkanlah nama-nama serupa Komunitas Utan Kayu, Salihara, dan beberapa komunitas lainnya. Yang adalah komunitas terbuka. Terbuka dalam artian mereka memberikan kebebasan penuh bagi anggotanya yang ingin menulis untuk berkarya dengan cara dan nilai apapun. Boleh radikal, liberal, religius ataupun pilihan lainnya.

Sedangkan FLP adalah komunitas ‘tertutup’. Tertutup dengan tanda kutip. Komunitas ini terbuka bagi siapa saja yang mau menekuni dunia kepenulisan dengan satu aturan mengikat, keislaman. Mutlak tak bisa ditawar. Silahkan menyampaikan, secara tersurat ataupun tersirat, dengan gaya serius ataupun kocak, namun benang merahnya tetap sama, muatan keislaman.

Dan itu berulang-ulang ditegaskan. Dalam undang-undang dasar komunitas ini, ataupun dalam berbagai pembelajaran dari sejarah dan cita para pendiri, juga para penggeraknya kini.

Lahir tahun 1997, dan hingga kini FLP setia menemani dunia perbukuan Indonesia dengan karya-karya yang khas. Tak sedikit pujian dan kritik terhadap FLP. Salah satu pujian, FLP dianggap sebagai organisasi penulis muslim terbesar di dunia. Dan, bila mengacu pada kata organisasi, mau tak mau setiap yang terlibat dalam FLP menjadi bagian dari unit sosial yang terstruktur dan ter-manage untuk mencapai tujuan bersama, begitu tulis Shinta Yudisia, di kolom pengurus pada laman situs resmi FLP Pusat.

Shinta Yudisia juga menambahkan perihal kritik yang ditujukan bagi FLP sebagai pabrik penulis produktif namun minim kualitas. Menurut Shinta, hal tersebut, bisa jadi berawal dari latar belakang mayoritas anggota FLP yang merupakan penulis pemula, berusia muda—bahkan juga anak-anak. Mereka berusaha mengekspresikan ide-ide yang mengendap di kepala, lalu memvisualisasikan ke dalam kata-kata. Proses belajar ini, sebagian diawali dari bekal yang sangat minim. Itulah  yang menyebabkan karya-karya anggota FLP mungkin masih perlu banyak perbaikan. Meskipun begitu, harus diakui, sebagian karya anggota FLP juga ada yang mendapatkan penghargaan baik tingkat nasional maupun internasional.

Bukan hal yang mudah memang. Karena menulis dengan bingkai seperti itu jelas membutuhkan wawasan. Tapi begitulah, satu pilihan untuk menjadi berbeda, memang tak pernah mudah. Membutuhkan kemampuan yang walaupun bisa dikembangkan dari nol menjadi ada dan besar, tetap harus melalui ujian kemampuan, kerja keras dan latihan tanpa henti. Kegagalan dan penolakan ketika ingin menjadikan tulisan demi tulisan yang dihasilkan tidak hanya sebatas untuk dibaca sendiri, tapi mendapat tempat nyata di dunia.

Tahapan awal seperti menuliskan karya untuk diuji dan dibedah dalam pertemuan rutin bulanan. Merangkak dari media lokal lalu naik tingkat hingga ke media skala nasional. Mengambil pilihan bidang, semisal cerpen, atau novel, atau tulisan non fiksi, atau cabang-cabang jurnalistik, dan masih banyak ‘atau’ lainnya. Mengasah pilihan itu, menajamkan ilmu dan kemampuan, sehingga menjadi figur yang diperhitungkan.

Tuliskanlah apapun yang kamu fikirkan, lalu asah sehingga setiap kata akan punya nilai. Bingkai dengan pengetahuan tentang teknik kepenulisan yang semakin hari semakin dikembangkan pemahamannnya. Begitulah berulang kali, dalam berbagai warna dan cara para senior dan mereka yang telah lebih dahulu mendalami dunia kata ini, mengingatkan. Tak hanya sekedar tuliskan apapun, yang lalu hilang tanpa makna. Karena bukankah alasan semua orang memilih belajar, adalah untuk menjadi lebih paham dan meninggikan nilai kemampuan.

Seperti candaan tentang kualitas pendidikan di negeri tercinta. Soal mengapa banyak murid tak mampu meraih cita-cita. Konon katanya karena guru tak sengaja mengajarkan secara tak lengkap satu kalimat pemicu semangat. Gantungkan cita-citamu setinggi langit, nak. Begitulah kalimat itu tersampaikan.

Maka berbondong-bondong para murid menggantungkan cita-citanya setinggi langit. Namun terhenti sampai disitu, karena sepenggal kalimat di ujung lupa disampaikan. Semestinya, setelah menggantungkan cita-cita setinggi langit, dilanjutkan dengan penutup yang menentukan, lalu gapailah cita-cita itu.

Begitulah, menjadi bagian dari FLP adalah menjadi bagian dari revolusi peradaban literasi, revolusi peradaban kepenulisan. Bukan sekedar menulis, namun menggelorakan lautan tulisan sehingga menghasilkan gelombang sastra kebaikan. Yang menerjang rontokkan semua tulisan penghancur jiwa dan mental para pembaca, menggantinya dengan kekuatan kebaikan dan kesejukan religi.

Tujuan itu dikukuhkan kembali pada kepengurusan FLP 2013-2017. Tidak tanggung-tanggung, penegasan keislaman itu bahkan menempati urutan pertama. Pada tataran eksternal, ditegaskan pada urutan pertama: Aktif memberikan sumbangan karya di dunia literasi Indonesia dengan karya yang bermutu, mencerahkan, dan memiliki nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin serta meluaskan pengaruh karya FLP di ranah internasional.

Begitu juga ketika melihat tujuan internalnya. Angka 1 dari 3 butir tujuan: sistem yang menghasilkan penulis yang memiliki kemampuan mupuni dalam kepenulisan, keorganisasian, dan keislaman.

Pilihan Pembeda. Memilih untuk menyusuri dunia kepenulisan yang berbeda, karena tegas ada bingkai keislaman dalam setiap tulisan dari rahim FLP. Tak perduli apapun jalan yang dipilih, namun wajib ditempa lalu diasah sehingga kokoh dan tajam. Cerpen, novel, jurnalistik, puisi, atau cabang terbaru, penulis blog, pejuang tulisan dunia maya. Semua punya tantangan tersendiri, dan semua butuh satu hal yang sama, kemampuan. Adalah mendekati satu keharusan, untuk belajar dan semakin lama semakin memahami apapun pilihan bidangnya.

 

 

———————————————————————————————

*Trainer Public Speaking, dan mengembangkan Easy Public Speaking. Part time backpacker dalam rentang 1999-2002. Aktif di dunia penyiaran radio sejak 1999, lalu hijrah ke Takengon, Aceh Tengah, di awal 2014. Saat ini memutuskan menjadi Ayah Rumah Tangga, dan mengejar impian menerbitkan novel.

 

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here