Ramadhan, Bulan Format Kepribadian

Oleh Riri Isthafa Najmi

images (18)

BULAN Ramadhan siyogiyanya merupakan bulan pembentuk jati diri dan kebiasaan-kebiasaan yang baik bagi setiap muslim. Di bulan yang mulia ini di samping melaksanakan kewajiban puasa, seorang muslim dapat membentuk kepribadian dan kebiasaan melalui praktik ibadah seperti shalat berjamaah, Tarawih dan Tadarrus, serta ibadah-ibadah sunnah lainnya untuk menjadi insan yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt.

Sebenarnya setiap manusia akan terus berusaha untuk menjadikan pribadinya luhur, terpuji dan berakhlak mulia sehingga membiasakan kepribadiannya menjadi disiplin, penuh tanggung jawab serta terus melakukan amal kebaikan dalam praktik kegiatan kesehariannya. Banyak para ulama menyatakan bahwa kalau ingin mengubah kepribadian setiap individu ke arah yang lebih baik, maka saat yang tepat adalah di bulan Ramadhan sebagai momentum untuk mewujudkan perubahan itu.

Pada bulan Ramadhan, orang muslim akan diuji dengan segala aktivitas nafsunya, baik itu nafsu syahwat maupun nafsu lainnya. Pada bulan yang penuh rahmat ini, seorang muslim yang sudah baligh (dewasa) secara moral mereka beribadah kepada Allah Swt, bukan karena paksaan melainkan dorongan yang datang dari individunya untuk berpuasa, kecuali mereka yang memiliki kelainan mental (jiwanya tidak sehat) maka baginya tidak menjadikan puasa sebagai sebuah keharusan.

 Pentingnya berpuasa
Melihat betapa urgennya nilai puasa bagi setiap pribadi seorang muslim, ibadah puasa (apalagi puasa Ramadhan) dengan berbagai keutamaan yang ada di dalamnya, maka dengan puasa dapat meningkatkan kualitas pribadi muslim, baik dari sisi ubudiyah (ketakwaannya) maupun dari aspek-aspek lainnya seperti menjaga kualitas kesehatan, sosial, ekonomi, dan intelegensinya.

Puasa juga dapat membentuk pribadi yang takwa di mana sosok pribadi yang terhindar dari sifat-sifat yang tidak terpuji seperti; egois, rakus, tamak, korupsi, sering menindas orang lain, memutuskan tali silaturrahim, membunuh jiwa yang tidak bersalah, melakukan pemerkosaan bahkan bergaul bebas (free sex) tanpa mengindahkan norma-norma yang ada baik agama, adat/budaya, maupun aturan-aturan lain yang telah ditetapkan oleh pemerintah/negara.

Dalam kehidupan sehari-hari misalnya, nilai atau etika sebuah tujuan berpuasa jika dilihat dari urgensinya yaitu ibadah puasa tidaklah sekedar ibadah ritual semata yang hanya bersifat biologis (menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, hubungan seksual antara suami-istri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari). Akan tetapi, ia lebih  dari itu dimana puasa mempunyai beberapa fungsi yang sangat urgen bagi pribadi muslim, diantaranya adalah: ibadah puasa menjadikan pelakunya sehat jasmani, membentuk jiwa sosial, membangun solidaritas sampai meningkatkan kecerdasan spiritual, emosional dan intelektual.

Menurut Imam Al-Ghazali, puasa memiliki tujuan agar manusia berakhlak terpuji (mahmudah). Dengan akhlak yang terpuji, kita mampu melawan syaithan dan hawa nafsu sebagai musuh terbesar yang selalu bersembunyi dalam jiwa setiap insan dan sebisa mungkin mampu mencontoh akhlak baginda Rasulullah saw dalam menahan hawa nafsu dan maksiat demi mencari keridhaan-Nya.

Ibnu Qoyyim juga mengatakan bahwa puasa sangat manjur dalam memberikan perlindungan terhadap anggota badan bagian koordinasi dalam mencegah kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan oleh timbunan sisa-sisa makanan yang sudah busuk atau tidak diperlukan oleh tubuh. Ia mengusir macam-macam bakteri yang merusak kesehatan. Ia mengobati sakit yang berkembang dalam tubuh yang disebabkan oleh kekenyangan yang berlebihan. Puasa sangat berguna bagi kesehatan dan sangat membantu untuk dapat hidup shalih dan takwa.

 Menjadi tolok-ukur
Pada hakikatnya, ibadah puasa mempunyai dua dimensi penting yaitu: dimensi intrinsik dan ekstrensik. Kedua dimensi tersebut adalah nilai-nilai yang menjadi tolok-ukur keberhasilan ibadah puasa. Dimensi intrinsik adalah sebuah format pembentukan tanggung jawab pribadi dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Sedangkan dimensi ekstrensik dapat membentuk tanggung jawab dan interaksi sosial dalam bermasyarakat. Sehingga nilai keduanya berfungsi sebagai pelatihan diri menahan segala godaan, pelatihan khusus untuk menahan kesabaran dan konsisten dalam mengendalikan dorongan atas proses penyadaran akan adanya hikmah kemanusiaan yakni perasaan kemanusiaan akan derita menahan lapar.

Kalau kita kaji dari berbagai ayat dalam Alquran dan Sunnah Rasul, memang secara eksplisit Allah menegaskan bahwa, puasa itu harus dilakukan agar dapat menjadi orang yang takwa (la’allakum tattaqun). Demikian juga lewat hadisnya Rasulullah memberikan penjelasan bahwa puasa bisa disamakan dengan “perisai” dan harus dijalankan dengan alasan iman saja tanpa menyandarkannya pada kepentingan dan maksud lain.

Dalam takwa terkandung pengendalian manusia akan dorongan emosinya dan penguasaan kecenderungan hawa nafsu manusia pada tingkah laku buruk, menyimpang, tercela, pertikaian, permusuhan dan kezaliman. Untuk itu manusia dituntut untuk bisa menahan nafsu. Ini berarti ia memenuhi dorongan-dorongan itu dalam batas yang diperkenakan oleh ajaran agama. Selain itu terkandung perintah kepada manusia agar ia melakukan tindakan yang baik.

Orang-orang yang bertakwa mempunyai keutamaan yang mampu menghadapi berbagai persoalan hidup, mampu menghadapi saat-saat yang kritis, dapat mendobrak jalan-jalan yang buntu yang menghambat, dan bisa menerangi jalan di tengah gelap gulita. Dengan kata lain takwa membuktikan sebagai jalan keluar dari setiap persoalan dan situasi kritis. “Puasa merupakan satu perisai penting dalam Islam yang amalan-amalannya banyak mengandung nilai ketakwaan dan berserah diri kepadaNya.” (HR. Muslim).

 Esensi takwa
Esensi dari takwa adalah untuk mengendalikan individu dan kelompok dari perilaku yang menyimpang, baik menyimpang dalam perilaku, pola pikir, ucapan maupun tindakan. Seseorang yang puasa pada hakekatnya sedang memperkokoh tali hubungan dengan Allah Swt, jika manusia berusaha mempererat tali hubungan dengan Allah secara langsung, maka ingatan kita senantiasa terpancang kepada-Nya.

Sebagai catatan akhir dalam melihat betapa pentingnya puasa sebagai media pembentukan kepribadian baik spiritual, emosional maupun intelektual seorang muslim, maka kita perlu memanfaatkan bulan Ramadhan ini sebagai momentum “reformasi kehidupan” dengan mem-”format kembali” kepribadian ke arah yang lebih baik, menjadi orang yang muttaqin dalam dimensi hablumminallah wa hablumminannas. Semoga!

Riri Isthafa Najmi, Anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh, dan Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Aceh. Email: ririisthafanajmi@rocketmail.com

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here