TRANSFORMASI FLP: Komunitas Dalam Jaringan dan Buku Digital

Oleh: Intan Savitri

Ketua Umum FLP 2009-2013

 

Penyebaran  FLP

Saya masih ingat ketika pendiri Forum Lingkar Pena Helvy Tiana Rosa, mendirikan FLP tahun 1997 beliau pada saat ini masih Pimred ANNIDA sebuah majalah alternatif untuk remaja. Cara berpikir komunitas sudah dimiliki oleh Mbak HTR pada saat itu dengan didirikannya FLP, sehingga akhirnya ANNIDA berkembang dengan pesat berbarengan dengan perkembangan cabang FLP secara pesat pula di daerah. Tentu saja, pada saat itu jangankan berkomunitas menggunakan fasilitas internet, ponsel pun baru mulai dipasarkan di Indonesia (saya masih ingat, ponsel pertama saya besarnya sebesar handy talkie). Sehingga otomatis pada saat itu FLP disebarkan secara manual, melalui event-event temu darat atau offline yang menggunakan jejaring majalah ANNIDA.

Tetapi kemudian segala yang bersifat temu darat  itu berubah secara signifikan. Internet memudahkan keluarga besar Forum Lingkar Pena saling bersilaturahmi meskipun berbeda waktu, seperti silaturahmi dengan teman-teman di luar negeri (Canada, Hongkong, Yaman, Arab Saudi, Mesir, Malaysia, Inggris, Australia). Internet yang pada akhirnya memfasilitasi kebutuhkan komunitas dengan adanya Facebook, Twitter,  mendorong FLP berkembang menjadi sebuah komunitas yang mudah dilacak dan akhirnya secara masif berkembang lebih cepat. Perlu di ketahui anggota grup facebook FLP lebih dari dua puluh ribu anggota. Keberadaan grup yang dikelola melalui facebook dan sekarang ini Whatsapp memungkinkan penyebaran ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) menjadi lebih mudah dan cepat. Sebab, penulis, pengarang senior dapat dengan mudah diakses oleh teman-teman penulis, pengarang yunior. Seolah-olah setiap hari  kita semua bisa mengobrol bermutu dengan mereka.

Saat ini, berkat teknologi internet Forum Lingkar Pena telah menyebar di tiga puluh satu provinsi dan seratus lebih kota di Indonesia, jumlah anggota yang rutin temu darat delapan ribu, dengan lebih dari duapuluh ribu anggota facebook. Jumlah anggota yang cukup signifikan ini, menjadi istimewa karena memiliki profil yang jelas, yakni penggila buku, penulis/pengarang baik fiksi non fiksi dengan berbagai genre. Forum Lingkar Pena adalah keluarga besar pegiat literasi di Indonesia. Buku, informasi, ilmu pengetahuan menjadi sebuah kebutuhan utama dari kebutuhan pokok mereka.

Teknologi Internet dan Karya

Forum Lingkar Pena telah memiliki situs resmi sejak awal tahun 2000-an, saat itu situs FLP dikelola oleh teman dari FLP Jepang. Pemanfaatan teknologi internet melalui worlwideweb, rupanya menjadi sebab mengapa forum ini terus-menerus ada, dan eksis hingga saat ini. Keberadaan website FLP menjadi sebuah rumah besar yang memungkinkan seluruh warga FLP untuk memberitakan hasil karyanya, dan kemudian menjadi konsumsi , produksi dan reproduksi informasi serta ilmu pengetahuan.

Menurut informasi ketua jaringan wilayah kami, teman-teman FLP menghasilkan lima buah karya per-hari yang diterbitkan media massa cetak maupun digital (kompasiana misalnya).  Sejak teknologi jaringan menjadi tulang-punggung penyebaran FLP, maka teknologi ini pula yang mendorong teman-teman FLP untuk secara otomatis menjadi blogger, bisa dipastikan semua penulis FLP yang aktif memiliki blog sebagai sarana ekspresi menulis mereka sehari-hari. Keberadaan blog menyebabkan menulis menjadi sebuah kegiatan yang semula sunyi dan personal mungkin soliter berubah menjadi  kegiatan sosial, karena pembaca secara langsung dapat berkomunikasi, berkomentar terhadap hasil karya mereka. Sebuah timbal-balik ilmu pengetahuan yang menyenangkan. Meskipun  tidak semua penulis/pengarang senang dengan gaya interaktif seperti  ini. Tetapi bukankah  seseorang disebut pengarang jika ia telah mempublikasikan karyanya? Publikasi mendorong pada tanggung jawab intelektual, tanggungjawab itu mensyaratkan kemampuan untuk memberikan argumentasi kepada pembaca tentang karyanya. Teknologi internet melalui keberadaan blog memungkinkan hal itu terjadi secara cepat, langsung dan ringkas.

Bagi penulis keberadaan blog yang memungkinkan mereka mengunggah tulisan mereka memudahkan mereka untuk ditemukan oleh penerbit mayor. Tentu kita tidak bisa memungkiri bahwa banyak penulis yang kemudian menjadi jutawan berawal dari blog, Raditya Dika, Bena Kribo misalnya.

Buku Digital dan Komunitas

Buku digital adalah produk lain dari keberadaan internet. Teknologi yang mendorong penduduk dunia untuk membaca buku tanpa kertas ini, terus melaju, dikehendaki atau tidak dikehendaki. Tentu saja keberadaannya akan menjadi pro dan kontra. Jika saya berbicara manfaat bagi komunitas penulis, maka keberadaan buku digital memiliki manfaat yang tidak sedikit diantaranya adalah:

Memudahkan pembaca mengakses Anda.

Buku Digital memiliki karakter hampir sama seperti blog. Ketika ia diunggah maka sang penulis menjadi mungkin untuk langsung diakses oleh pembaca. Apalagi jika bukunya digratiskan. Gratis secara online, tentu bukan berarti tidak memiliki nilai ekonomi. Jika seorang penulis hasil karyanya disukai pembaca online, maka bukan tidak memungkinkan ia akan diundang secara offline. Karena, pada dasarnya manusia memiliki kepuasan tertinggi pada tingkat interaksi sosialnya secara langsung. Keberadaan karya online hanya sebagai navigator atau pengendus bagi pembaca bahwa Anda layak untuk ditemui secara offline.

Memudahkan penerbit mayor mengakses Anda

Jika pembaca Anda begitu banyak,  ini akan menjadi navigator lain bagi penerbit. Penerbit mana yang tidak ingin menerbitkan buku Anda secara cetak, jika kenyataannya karya Anda diunduh oleh ratusan ribu orang? Tinggal menempa kreativitas Anda agar karya Anda terus-menerus mengundang pembaca.

Mengundang pengiklan untuk menempel pada karya Anda

Diterbitkan secara cuma-cuma bukan berarti tidak ada manfaat ekonomi sama-sekali. Logikanya seperti tayangan televisi yang gratis (meskipun sekarang ada TV kabel atau TV berlangganan). Mengapa bisa gratis? Tentu karena ada pengiklan yang menempel pada tayangan televisi tersebut. Jika buku Anda digratiskan dan kemudian ditempel iklan, dari jumlah pengiklan itulah Anda mendapatkan nilai ekonominya.

Bagaimana dengan Kehati-hatiannya?

Mudah dibajak ?

Sama sifatnya seperti buku cetak yang bisa dibajak, maka produk digital semakin memungkinkan perilaku pembajakan. Di Indonesia yang terkenal sebagai surga bagi para pembajak ini, tentu hal ini kadangkala menimbulkan was-was bagi penulis. Tetapi bagi saya pribadi, sepanjang kreativitas terus ada, mengapa khawatir ide atau karya kita dijiplak orang lain?

Digital Right Management

Perlindungan terhadap karya yang diterbitkan secara digital saat ini sepertinya memang belum disepakati. Tetapi kita bisa memastikan manajemen hak digitalnya (digital right managemennya)pada pihak penerbit buku digital kita. Seperti Qbaca misalnya, salah-satu DRM mereka adalah, hanya bisa diunduh oleh anggota, kemudian setelah diunduh hanya bisa dibaca melalui  maksimal tiga gadget, misalnya Anda memiliki empat gadget maka gadget keempat Anda harus membayar lagi.

Nah, jadi menurut saya, komunitas berbasis jaringan seperti FLP memiliki karakter yang sangat mungkin untuk menggunakan teknologi internet dan juga beradaptasi dari buku teks menjadi buku digital untuk terus berkembang.

Beradaptasi, atau mati.

Sumber: http://forumlingkarpena.net/kolom_ketua/read/intan_savitritransformasi_flp_komunitas_dalam_jaringan__dan__buku_digital

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here