8 Hari di Negeri Paman Ho

Resensi oleh: Anugrah Roby Syahputra

Apa yang ada di benak kita tentang Vietnam selain keterbelakangan secara sosial dan ekonomi? Ah, mungkin kebanyakan kita tak punya jawaban lain di samping tentang “mitos” kepahlawanan Rambo. Setiap ada prestasi jelek tentang Indonesia pasti dibanding-bandingkan dengan Vietnam atau negara tetangganya yang distereotipkan sama seperti: Kamboja, Laos dan Myanmar.

Kita pun hampir pasti tak pernah berpikir untuk menjadikan Vietnam sebagai tujuan wisata. Melancong ke negara miskin bagi kita -apalagi yang berstatus traveller kere- adalah prioritas ke seratus. Mendingan ke Kuala Lumpur atau Singapura. Atau ke Phuket. Bah, Indonesia saja yang kaya belum habis kita jelajahi hingga ke Bunaken, Wakatobi dan Raja Ampat sana.

Akan tetapi, membaca buku “8 Hari di Negeri Paman Ho” karya Lucy yang diterbitkan Leutika ini memberi kesan berbeda. Vietnam itu ternyata seksi. Di buku setebal 174 halaman yang dibagi dalam 8 bagian ini, Lucy menceritakan perjalanananya hari per hari secara kocak dan asyik tanpa ada kesan menggurui.

Dimulai pada hari pertama, Lucy sudah mengocok perut kita dengan pengalamannya mengeksplorasi dan menyeberangi jalan-jalan yang disesaki kendaraan yang tak kalah ugal-ugalan dibanding Jakarta di Ho Chi Min City. Diteruskan dengan kunjungannya ke lokasi-lokasi penuh kenangan; Thien Hau Pagoda, Binh Tay Market  dan Reunification Palace.

Tak lupa dia menuturkan kisahnya menyambangi  The Great Holy See Temple yang merupakan salah bangunan paling menarik di Asia Tenggara. Menyerap suasana malam di cafe-cafe Ho Chi Min City dengan pahitnya kopi Vietnam dan gelak tawa lepas para pemuda yang menenggak arak. Selain itu juga kunjungan ke Chu Chi Channel, merasakan getirnya tragedi perang melawan penjajah Amerika di situs yang terletak dalam hutan dan dieksplorasi  Lucy bersama para backpacker lain dari Eropa. Menyaksikan bekas senjata, peluru dan aroma mesiu. Selain itu, buku ini selain memandu kita bercity tour , juga memandu kita menikmati pesona alam Halong Bay yang sering dibut-sebut sebagai tempat turunnya Sang Naga, serta keramahan khas penduduk desa dekat Catba National Park.

Secara umum, buku  yang ditulis dengan emosi personal penulisnya ini tentu membuat kita akhirnya ingin ikut merasakan petualangan yang sama di Vietnam ini. Apalagi buat Anda yang sampai saat ini hanya pernah menulis travelling di kolom hobi biodata Anda, tapi belum pernah benar-benar merasakannya. Dilengkapi dengan semacam panduan soal harga kebutuhan dan nilai tukar mata uang, buku ini semakin pas untuk low-budget traveller.

Sayangnya, untuk traveller muslim, buku ini kurang memberi informasi mengenai akses untuk menikmati makanan halal. Overall, untuk melepas lelah dan menjadi pertimbangan tujuan wisata berongkos murah, buku ini layak Anda baca.

Judul : 8 Hari di Negeri Paman Ho
Penulis  Lucy
Penerbit : Leutika
Terbit : 2010
Tebal : iv + 174 hlm; 13 x 19 cm
FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here