Mereka, Kisah-kisah Itu dan Kekuatan Berbagi (Resensi Buku)

ya-allah-beri-aku-kekuatan

Judul buku          : Ya Allah, Beri Aku Kekuatan…

Penulis                 : Aida Ma

Tebal buku          : ±345 halaman

Penerbit              : Quanta, Elexmedia Kompuntindo, 2012

 

Membaca kisah dari banyak orang ternyata mampu membuat kita tersadar, tersentil dari perasaan bahwa hidup kian tak memihak. Padahal banyak orang di luar sana, wanita-wanita kurang beruntung yang mengalami hal buruk, terangkum dalam buku ini menjadi cerita yang penuh ibrah.

Dibuka dengan cerita Kayla, seorang gadis kecil yang menjadi korban kekejian seorang pedofil dan perjuangan ibunya. Seorang single parent yang dengan tegas meminta pihak sekolah untuk mengusut tuntas kasus yang menimpa buah hatinya. Di sisi lain, kekuatannya membenahi dan mengobati luka Kayla, menjadi inspirasi bagi para ibu untuk tidak menyerah pada takdir terburuk sekalipun.

Kisah-kisah dalam Ya Allah, Beri Aku Kekuatan…, menunjukkan kepada kita bahwa masih banyak orang di luar sana yang didera dengan bertubi-tubi ujian dari Allah, namun sanggup bertahan dan melangsungkan kehidupan.

Dilengkapi dengan ulasan yang ditinjau dari al-Quran, menambah nilai beda bagi buku yang bergenre motivasi Islami ini. Sebelumnya cerita-cerita ini pernah dimuat di blog pribadi penulis. Sekitar tahun 2008, kisah-kisah ini ditulis kembali kemudian hadir dalam bentuk cetak, lebih lengkap dan apik. Satu hal yang paling memebekas dan mengesankan dari keseluruhan kisah yang dirangkum dalam buku ini adalah ketulusan berbagi.

Jauh dari kesan menggurui, penutur maupun penulis yang menuliskan kembali cerita dalam buku Ya Allah, Beri Aku Kekuatan… ini, dengan ikhlas membagi kisah-kisah penuh ibrah. Bagaimana kekuatan dan kepasrahan pada Sang Khalik mampu melipur segala lara dan rintangan hidup.

Ada perasaan geram dan marah pada pelaku yang mata hatinya dibutakan nafsu angkara. Begitu juga gemas dengan kepasrahan wanita-wanita yang diceritakan dalam sebagian kisah. Salut angkat topi untuk ketegaran sebagian lainnya. Tapi, pada akhirnya penulis kembali mengajak kita menjadi bijak. Apalagi ketika membaca wanita-wanita hebat yang dikisahkan di dalamnya kian legawa dan lapang dada menerima garis takdirnya. Lalu hidup terus berlanjut dengan optimisme yang mengagumkan.

Siapapun akan terinspirasi, baik yang pernah mengalami hal yang sama, ataupun belum pernah mengalami sama sekali. Paling tidak mereka merasakan bukan mereka satu-satunya yang pernah Allah uji dengan ujian yang serupa di dunia ini. Sementara yang belum pernah mengalami, bisa dengan segera bersyukur betapa hidup telah digariskan sedemikian indah buatnya.

Tapi secemerlang apapun ternyata ada beberapa bagian yang sedikit mengganggu pembaca. Entah karena kekurang-telitian penulis ketika self editing atau hal lain. Di bab Aku Harus Tetap Hidup, ada beberapa kata yang masih terketik salah seperti reacter yang harusnya Richter. Kekuatan gempa ketika tsunami di Aceh, tercatat 8,9 SK tapi tertulis 9,0. Mungkin bedanya nyaris tak ada, tapi semua media mencatat serupa, tiba-tiba saja buku ini saja yang berbeda. Kata-kata yang harusnya tak lagi tercetak Italic, masih bercetak miring seperti kata insting. Begitu pula kutipan ayat di halaman 81. Kutipan tersebut menjadi tak seragam karena di sana ditulis terjemahan surat Asy-syura 165-166 tanpa cetak miring.

Over all, tujuan dikumpulkan dan diterbitkannya buku ini adalah sisi ibrah yang ingin ditonjolkan. Menjadi inspirasi yang dibagi. Buku ini sudah mengenai sasarannya dengan tepat setelah pembaca diajak hanyut teraduk-aduk berbagai perasaan geram, sedih, iba, dan lega. Kekuatan berbagi begitu kokoh tertata pada setiap keratan katanya. Buku yang layak dibaca dan dikoleksi sekaligus menambah khasanah dunia literasi ataupun untuk referensi pribadi.

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here