Syahadah Bumi Rotterdam

Dunia ; Berenanglah tapi Jangan Tenggelam!

Di zaman modern saat ini, beragam buku fiksi maupun non fiksi yang bernafaskan islam semakin membanjiri dunia sastra. Anggapan bahwa sastra islami kurang menarik, mampu ditepis dengan hadirnya novel-novel best seller yang mengangkat marwah Islam. Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan Dalam Mihrab Cinta adalah sedikit dari sekian banyak novel islami yang mengguncang dunia.

Pena sastra tidak hanya dicipta untuk mengangkat kisah-kisah romansa remaja, atau bahkan cerita-cerita yang dengan bangga menonjolkan sisi kebarat-baratannya. Lebih dari itu, cerita-cerita islami hadir membawa warna tersendiri. Cinta, perjuangan, persatuan, hingga pantauan terhadap dunia dibungkus dengan keindahan tuntunan agama yang haq, Islam.

Syahadah Bumi Rotterdam, judul salah satu cerpen yang mewakili sebuah antologi cerpen islami baru-baru ini. Satu per satu cerpen disuguhkan dengan gaya khas penulis.  Pembaca ‘dipaksa’ memberi perhatian penuh untuk tidak melewatkan satu baris pun, sebab ada kisah kaya nasihat di sana.

Antologi ini menyajikan lima belas cerpen yang sangat menantang perhatian dengan setiap konfliknya. Di mulai dengan cerita di negeri sakura, membawa pembaca seolah sedang menyaksikan bunga merah jambu itu bersemi. Cerita ini menuntun pembaca untuk tersadar bahwa dunia ini adalah racun ketika iman mampu dikalahkan oleh fatamorgananya. Iman adalah simpul keta’atan pada Allah yang bisa terurai kapan saja jika ia tidak terikat dengan kuat.

Somalia juga ikut ambil bagian di tengah kemelut yang seakan dilupakan dunia. Kekeringan dan kelaparan yang melanda sebuah negeri di benua Afrika itu harusnya mendapat perhatian serius dari kita sebagai umat islam. Dapatkah kita mempertahankan iman seperti mereka? Sungguh cerpen ini mengetuk nadi kemanusiaan kita untuk melihat atau sekedar melirik saudara kita. Bagaimana rakyat Somalia berjuang untuk tetap hidup atau mati membawa iman. Masihkan kita berdiam, ya khuyya?

            Konflik demi konflik diuraikan begitu cerdas. Lentera islam 2050 pun mengajak pembaca menerawang tentang islam masa depan. Ketika syari’at islam ditegakkan secara kaffah, maka sempurnalah tanah yang bergelar serambi mekkah ini. Islam kini sedang dibawa perlahan menuju ia yang sebenarnya. Saat hukum Allah benar-benar menjadi penuntun kehidupan, rambu-rambu islam nyata untuk kemaslahatan, islam mencapai kejayaan, sejatinya inilah harapan insan yang beriman.

Egyptian Revolution akhirnya menutup antologi ini dengan begitu indah. Dunia tentu merekam gejolak revolusi Mesir, 25 Januari 2011. Revolusi Mesir menjadi langkah akhir bagi pemimpin yang zalim setahun silam, sekaligus langkah baru menyambut pemimpin yang terpuji seperti saat ini.

Antologi ini berhasil menyihir pembaca dengan setiap cerpen yang mengambil latar berbeda. Pembaca seakan telah menginjakkan kaki di negeri sakura, Kairo, tanoeh reuncoeng, negeri kincir angin, hingga ujung tanduk Afrika. Ini cukup menarik sebab pendeskripsiannya yang sederhana menjadikan pembaca tidak bosan dan berdecak kagum. Cover yang sangat mewah juga menjadi nilai plus bagi antologi yang baru terbit ini. Selain itu, catatan kaki untuk setiap istilah dan bahasa asing cukup membantu pembaca  dalam memahami isi dan makna suatu cerita.

Namun demikian, antologi ini tetap merupakan karya hamba Allah yang memiliki kekurangan. Menilik pada cover yang ‘heboh’, ada tiga kata yang menjadi pusat perhatian, yaitu nama penulis. Cover yang dominan dengan warna biru dongker, rasanya tidak sesuai dengan warna merah. Tulisan nama penulis yang berwarna merah tidak begitu menonjol dibandingkan judul antologi. Selain itu, alangkah lebih baik jika tulisan tersebut lebih besar agar tampak jelas. Bagi pembaca yang memilkik gangguan mata, mungkin agak sulit untuk membaca dengan jelas nama empunya antologi ini.

Sejatinya, antologi ini memberi inspirasi bagi pembaca bagaimana seharusnya hidup itu tertata rapi dengan berlandaskan ajaran Islam, agama yang mulia. Hidup terlalu indah jika diterangi dengan lampu tawakkal pada Allah.

Pada setiap hentakan kaki, ada cita dan cinta yang saling mendahului.

Pada akhirnya, ceritalah yang menjadi pemimpin.

Selamat Membaca!

Judul Buku      : Syahadah Bumi Rotterdam

Penulis             : Faqih bin Yusuf

Penerbit           : Belanoor  (Belabook Media Group)

Tahun Terbit    : 2012

Cetakan           : I

Tebal               : 364 Halaman

Ukuran                    : 20 cm

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here