Wadjda, Impian Sebuah Sepeda

Oleh: Riazul Iqbal Pauleta

 

Arab Saudi menentang keras perempuan mengemudi.  Di film ini pertentangan itu dikemas apik. Menggambarkan bagaimana keadaan perempuan di negeri para Nabi itu harus menghadapi larangan mengemudi atau sekedar mengayuh sepeda. Keluarga-keluarga terpaksa harus menyewa mobil untuk sekedar berbelanja. Bahkan anak kecil juga diharamkan untuk mengayuh sepeda.

Kisah film ini bermula dari Wadjda, seorang gadis kecil yang tidak dibelikan sepeda oleh orangtuanya. Ia mencoba mencari uang sendiri dengan menjual gelang benang buatannya sendiri. Ia juga meminta uang kepada kakak kelasnya untuk mengirimkan surat kepada seorang pria. Wadjda sangat money oriented, bahkan saat dia menangis temannya berkata, “saya akan memberikan 5 riyal kalau kamu berhenti menangis.” Langsung saat itu Wadjda menghapus airmatanya.

Film ini menceritakan bagaimana terbatasnya interaksi lelaki dan perempuan di Arab Saudi. Wadjda mengenyam pendidikan di sekolah perempuan yang memiliki peraturan ketat. Mereka tak bisa berinteraksi langsung dengan lelaki. Setiap pulang sekolah harus menutup seluruh wajahnya dengan kain hitam. Selain itu juga dilengkapi konflik yang ada di sekeliling Wadjda. Termasuk konflik Ibu Wadjda yang harus menghadapi masalah besar. Suaminya ingin menikah lagi. Pertengkaran pun kerap terjadi.

Yang mengejutkan di film ini adalah saat dijelaskan kenapa sepeda dilarang untuk anak kecil. Ternyata mereka takut jika sepeda dapat merusak keperawanan. Tapi di saat semua melarang dan keinginan Wadjda terhadap sepeda semakin menggebu, ada cahaya datang dari kegelapan. Sebuah kompetisi Alqur’an diadakan di sekolahnya. Dan hadiahnya 800 riyal cukup untuk membeli sepeda.

Wadjda pun meminta maaf pada kepala sekolah atas kesalahan-kesalahannya dan ikut kompetisi itu. Musabaqah ini hanya perorangan. Siapa yang terbaik bacaannya dan bisa menjawab semua pertanyaan tentang ilmu tajwid Alquran, maka ia akan menang.

Untuk memenangkan kompetisi itu Wadjda rela menghabiskan uang yang dikumpulkannya untuk membeli konsol yang di dalamnya terdapat cara mudah memahami Alquran. Dengan bantuan Ibunya, Wadjda berusaha belajar hingga memahami ilmu Alquran dengan baik.

Dalam lomba ia berhasil menyisihkan banyak murid, dan mampu masuk delapan besar. Saingannya adalah yang bagus suaranya dan bagus tajwidnya. Tapi Wadjda unggul di pemahaman. Maka ia pun berhasil menjuarai kompetisi ini. Saat ditanya oleh kepala sekolah untuk apa hadiahnya, ia pun menjawab, “saya ingin membeli sepeda dan bisa mengendarainya ke pasar.” Hadirin terkejut dan teman-teman sekolah menertawainya. Di benak mereka, mana mungkin perempuan Arab mengendarai sepeda.

Ibu Kepala Sekolah meraih mix dan menenangkan hadirin dengan mengatakan uang hadiah akan disumbangkan untuk Palestina. Wadjda menangis dan kali ini kepala sekolah tak paham maksudnya. Ia pulang ke rumahnya dan tidak didapati Ibunya, hanya Ayahnya yang baru memangkas rambut. Ayahnya sangat bangga karena Wadjda menang.

Lalu berhasilkah Wadjda memiliki sepeda? Lalu mengapa Ibu Wadjda harus terisak di teras atap rumah disaat putrinya memenangi kompetisi ilmu Alquran?

Temukan cerita seru dalam film yang dibintangi Waad Mohammed, Reem Abdullah, Abdullrahman Al Gohani ini![fm]

 

RIAZUL IQBAL PAULETA
Penulis adalah anggota FLP wilayah Aceh

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here